Hujan deras mengguyur Desa Merah Delima saat Bima menginjakkan kaki pertama kalinya di tanah warisan neneknya. Langit senja berwarna merah darah, seolah alam sendiri memberi peringatan tentang tempat yang akan menjadi rumah barunya. Tas ransel hitam di punggungnya basah kuyup, begitu pula sepatu kulit yang sudah mulai berlumpur.
Bima berdiri di depan pagar besi berkarat yang menjulang tinggi. Di baliknya, rumah bergaya kolonial Belanda berdiri kokoh namun menyeramkan. Cat putihnya sudah mengelupas di sana-sini, jendela-jendela besar tertutup papan kayu, dan taman depan dipenuhi semak belukar liar yang tumbuh tak terkendali. Genteng merah sebagian ada yang hilang, membuat atap rumah terlihat seperti tengkorak raksasa dengan gigi ompong.
"Jadi ini rumah Nenek Asih," gumam Bima sambil mendorong pagar yang langsung berderit keras. Suara itu bergema di kesunyian desa, membuat beberapa burung gagak beterbangan dari pohon asam tua di samping rumah.
Bima melangkah memasuki halaman. Rerumputan tinggi hampir menutupi jalan setapak menuju pintu utama. Setiap langkahnya meninggalkan jejak basah di tanah berlumpur. Angin bertiup kencang, membuat daun-daun kering beterbangan seperti arwah yang menari. Udara terasa berat dan lembab, membawa aroma tanah basah bercampur sesuatu yang membusuk.
Saat mencapai teras depan, Bima mengeluarkan sebuah kunci besar dari saku jaketnya. Kunci tua berbahan kuningan itu diberikan oleh notaris seminggu lalu, bersamaan dengan surat wasiat Nenek Asih yang meninggal tiga bulan silam. Dalam surat itu, neneknya hanya meninggalkan satu pesan singkat: "Jangan pernah membuka ruang bawah tanah. Biarkan masa lalu tetap terkubur."
Tentu saja, pesan itu justru membuat Bima penasaran. Sebagai mahasiswa arsitektur semester akhir, ia melihat rumah tua ini sebagai proyek skripsi yang sempurna. Lagipula, ia butuh tempat tinggal murah di pinggiran Yogyakarta. Mengontrak apartemen terlalu menguras kantong.
Bima memasukkan kunci ke lubang yang sudah berkarat. Butuh tenaga ekstra untuk memutarnya. Klek. Pintu terbuka dengan suara melengking yang membuat bulu kuduknya berdiri. Bau apek langsung menyerang indra penciumannya. Bau itu bukan sekadar rumah tua yang lama tak berpenghuni, tetapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang busuk, menyesakkan, dan mengganggu.
Lantai kayu berderit keras saat Bima melangkah masuk. Ruang tamu luas terbentang di hadapannya. Perabotan tertutup kain putih yang sudah menguning dan berlubang dimakan ngengat. Lampu kristal besar tergantung di langit-langit, dipenuhi sarang laba-laba. Lukisan-lukisan wajah dalam bingkai emas kusam menghiasi dinding. Mata dalam lukisan itu seolah mengikuti gerakannya.
Bima menyalakan senter ponselnya karena listrik belum menyala. Cahaya putih menerangi ruangan yang penuh debu. Jejak kaki tikus tercetak jelas di lantai berdebu. Di sudut ruangan, ia melihat tumpukan koran lama dan majalah berbahasa Belanda dari era empat puluhan.
"Setidaknya atapnya masih kuat," ujarnya mencoba menghibur diri sambil berjalan menuju tengah ruangan. Langkahnya terhenti ketika menyadari ada sesuatu yang aneh. Di tengah debu tebal yang menutupi lantai, terdapat jejak kaki telanjang. Jejak yang masih basah. Jejak yang baru saja dibuat.
Jantung Bima berdegup kencang. Ia mengikuti arah jejak itu dengan senter. Jejak kaki itu mengarah ke tangga menuju lantai dua. Tapi yang membuatnya tercengang, jejak itu tidak meninggalkan bekas saat naik tangga. Seolah siapa pun yang meninggalkan jejak itu tiba-tiba melayang.
"Halo? Ada orang?" teriaknya. Suaranya bergema di rumah kosong. Tidak ada jawaban. Hanya angin yang berhembus masuk melalui celah-celah jendela, membuat kain penutup perabotan bergerak-gerak seperti hantu.