Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #2

Tanda Pertama

Bima berlari tanpa arah di tengah hujan yang semakin deras. Kakinya terus melangkah meski paru-parunya terasa terbakar. Jalanan desa yang becek membuat sepatu kulitnya penuh lumpur, tapi ia tidak peduli. Yang ada di benaknya hanya satu: menjauh sejauh mungkin dari rumah terkutuk itu.


Setelah berlari sekitar dua ratus meter, kakinya tersandung akar pohon yang menonjol. Tubuhnya terjatuh ke genangan air. Bima terbatuk-batuk, tangannya mencengkeram lumpur dingin. Baru saat itu ia menyadari bahwa tidak ada suara apa pun kecuali deru hujan. Tidak ada teriakan, tidak ada langkah kaki mengejar, tidak ada apa-apa.


Ia mendongak perlahan, menoleh ke arah rumah. Dari kejauhan, rumah kolonial itu berdiri gelap. Tidak ada sosok di jendela. Tidak ada bayangan bergerak. Hanya bangunan tua yang menyeramkan di tengah hujan malam.


"Sialan," umpatnya sambil bangkit berdiri. Lehernya masih terasa sakit bekas cengkeraman. Ia menyentuh kulitnya yang membengkak. Pasti ada memar di sana. Bukti nyata bahwa apa yang baru dialaminya bukan halusinasi.


Lampu-lampu rumah penduduk mulai terlihat di kejauhan. Bima mempercepat langkahnya menuju cahaya itu. Ia membutuhkan tempat berlindung, penjelasan, atau setidaknya seseorang yang bisa memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi di rumah peninggalan neneknya.


Rumah pertama yang ditemuinya adalah rumah kayu sederhana dengan teras kecil. Cahaya lampu minyak terlihat dari jendela. Bima mengetuk pintu dengan tergesa. Tok tok tok. Suara keras yang mendesak.


"Tolong! Ada orang?" teriaknya sambil terus mengetuk.


Pintu terbuka sedikit. Seorang pria tua berusia sekitar enam puluhan muncul dengan wajah curiga. Matanya menyipit menatap Bima yang basah kuyup dan penuh lumpur.


"Siapa kau? Mau apa malam-malam begini?" tanya pria itu dengan nada tak ramah.


"Maaf Pak, saya Bima. Cucu Nyonya Asih. Saya baru saja sampai di rumah warisan nenek saya, tapi ada—" Bima menghentikan kata-katanya. Bagaimana ia bisa menjelaskan? Ada hantu wanita berjubah merah yang mencoba membunuhnya? Pria ini pasti menganggapnya gila.


Wajah pria tua itu berubah. Dari curiga menjadi terkejut, lalu ketakutan. Ia membuka pintu lebih lebar dan menarik Bima masuk dengan cepat. "Cepat masuk! Jangan di luar terlalu lama saat hujan di desa ini!"


Bima masuk dan langsung dibawa ke ruang tamu kecil. Pria itu menyalakan lampu minyak lebih terang dan menutup semua jendela dengan rapat. Gerakan-gerakannya cepat dan panik, seolah ada sesuatu yang harus ditutup rapat-rapat.


"Duduk dulu, Nak. Kau basah sekali," kata pria itu sambil mengambil handuk lusuh dari kamar. "Namaku Pak Marjo. Aku tetangga nenekmu dulu. Turut berdukacita atas kepergian beliau."


Bima menerima handuk itu dan mulai mengeringkan rambut dan wajahnya. Tubuhnya masih gemetar, entah karena dingin atau karena ketakutan. "Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan."


Pak Marjo duduk di hadapannya, menatapnya dengan tatapan serius. "Kau dari rumah itu, kan? Rumah di ujung desa. Rumah yang sudah tidak ditempati sejak nenekmu pergi sepuluh tahun lalu."


"Ya, Pak. Nenek mewariskan rumah itu untuk saya. Tapi tadi saya melihat—" Bima ragu melanjutkan.


"Wanita berjubah merah?" Pak Marjo memotong dengan nada tahu. Matanya menatap tajam Bima.


Bima tercekat. Jantungnya berdegup kencang. "Bapak tahu? Bapak percaya?"


Pak Marjo menghela napas panjang. Ia bangkit dan mengambil sebotol arak dari lemari kayu tua. Menuangkan dua gelas dan menyodorkan satu ke Bima. "Minum dulu. Kau pasti shock. Di desa ini, semua orang tahu tentang Kuntilanak Merah. Kami menyebutnya Nyai Kartika."


Bima menenggak arak itu dalam sekali teguk. Cairan keras itu membakar tenggorokannya, tapi juga sedikit menenangkan sarafnya yang tegang. "Nyai Kartika? Siapa dia?"


Pak Marjo ikut minum, matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat. "Kartika adalah pengantin yang dibunuh di rumah itu pada tahun seribu sembilan ratus empat puluh. Hari pernikahannya. Dibunuh dengan cara yang sangat kejam oleh keluarga suaminya sendiri. Tubuhnya dimutilasi, lalu dibuang ke sumur tua di belakang rumah."


Napas Bima tertahan. Kepalanya dipenuhi gambaran mengerikan. "Kenapa? Kenapa mereka membunuhnya?"

Lihat selengkapnya