Bima tidak bisa tidur sepanjang malam. Ia duduk di sudut ruang tamu Pak Marjo dengan mata terbuka lebar, menatap setiap bayangan yang bergerak. Pak Marjo sudah tertidur di kamar, meninggalkannya sendirian dengan lampu minyak yang terus menyala. Setiap suara membuat jantungnya berdebar. Setiap hembusan angin membuat bulunya merinding.
Pikirannya terus berputar tentang apa yang dikatakan Kartika. "Kembali ke rumah itu atau semua orang yang kau kenal akan mati satu per satu." Ancaman itu bukan main-main. Bima bisa merasakan keseriusannya. Kartika bukan hantu biasa yang hanya menakut-nakuti. Dia hantu yang haus balas dendam.
Ketika langit mulai memerah menjelang subuh, Bima akhirnya memutuskan. Ia harus kembali ke rumah itu. Bukan untuk menyerah pada Kartika, tapi untuk mencari tahu lebih banyak. Harus ada cara untuk menghentikan hantu itu. Harus ada cara untuk mengakhiri kutukan yang telah berlangsung puluhan tahun.
Ia meninggalkan uang di meja sebagai tanda terima kasih untuk Pak Marjo, lalu keluar dari rumah dengan hati-hati. Pagi hari di Desa Merah Delima terasa aneh. Terlalu sunyi. Tidak ada suara ayam berkokok, tidak ada suara orang yang mulai beraktivitas. Hanya kabut tipis yang menyelimuti jalan setapak.
Bima berjalan pelan menuju rumah warisan neneknya. Setiap langkah terasa berat. Ketakutan masih mencengkeram dadanya, tapi tekadnya lebih kuat. Ia harus menghadapi ini. Tidak ada pilihan lain.
Rumah kolonial itu tampak berbeda di pagi hari. Tidak segelap dan semenyeramkan semalam. Cahaya matahari pagi yang menembus kabut memberikan sedikit kehangatan. Tapi aura mencekam tetap terasa. Rumah itu seperti makhluk hidup yang menunggu mangsanya kembali.
Bima mendorong pagar yang sudah terbuka. Aneh, ia ingat menutupnya semalam sebelum lari. Atau mungkin tidak? Pikirannya terlalu kacau semalam untuk mengingat dengan jelas.
Ia melangkah memasuki halaman. Rerumputan basah oleh embun pagi. Di tengah halaman, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti. Jejak kaki. Banyak sekali jejak kaki telanjang yang mengelilingi rumah. Jejak yang membentuk lingkaran, seolah ada ritual yang dilakukan semalam.
Bima mengikuti jejak itu. Lingkaran jejak kaki mengarah ke belakang rumah. Tempat yang belum sempat ia jelajahi semalam. Ia berjalan melewati semak belukar dan pohon-pohon tua yang cabangnya menjuntai rendah.
Di belakang rumah, tersembunyi di balik pohon asam besar, ia menemukannya. Sumur tua yang disebutkan Pak Marjo. Sumur tempat Kartika dibuang setelah dibunuh.
Sumur itu berdiameter sekitar dua meter, dikelilingi batu bata merah yang sudah rapuh. Tidak ada ember atau katrol untuk menimba air. Hanya lubang hitam menganga yang mengeluarkan udara dingin dan bau busuk.
Bima berjongkok di tepi sumur, mengintip ke dalam. Gelap gulita. Ia menyalakan senter ponsel dan menyinarinya ke bawah. Kedalaman sumur sekitar sepuluh meter. Dan yang ada di dasarnya bukan air jernih, tapi cairan hitam kental yang berbau anyir.
Darah. Sumur itu dipenuhi darah.
Bima mundur dengan cepat, perutnya mual. Bagaimana mungkin sumur itu masih berisi darah setelah puluhan tahun? Ini tidak masuk akal. Tapi di desa yang dikutuk ini, sepertinya akal sehat tidak berlaku lagi.
"Kau datang juga."
Bima terlonjak kaget. Ia berbalik dan melihat seorang wanita muda berdiri beberapa meter darinya. Wanita itu berusia sekitar dua puluh lima tahun, berambut hitam sebahu, mengenakan kebaya putih dan kain batik. Wajahnya cantik tapi pucat, matanya tajam menatap Bima.
"Siapa kau?" tanya Bima waspada. Tangannya mencari apapun yang bisa dijadikan senjata.
Wanita itu tersenyum tipis. "Namaku Sari. Aku paranormal yang tinggal di desa sebelah. Pak Marjo mengirim pesan padaku pagi ini. Dia bilang ada cucu Nyonya Asih yang datang dan diserang Kuntilanak Merah."
Bima agak rileks, tapi tetap waspada. "Kau paranormal? Kau bisa melihat hantu?"
"Sejak kecil. Itu kutukan sekaligus berkah." Sari berjalan mendekat, menatap sumur dengan ekspresi serius. "Sumur ini adalah pusat kekuatan Kartika. Tempat dia dibuang, tempat dia mati dengan penuh dendam. Energi negatifnya sangat kuat. Aku bisa merasakannya dari jauh."
"Kenapa sumurnya berisi darah?"
"Itu bukan darah sungguhan. Itu manifestasi dari dendam dan kebencian Kartika. Semakin kuat dendamnya, semakin hitam dan kental cairan itu. Dan sepertinya sekarang dendamnya mencapai puncak."
Bima mengusap wajahnya yang lelah. "Bagaimana cara menghentikannya? Aku tidak bisa terus hidup dalam teror seperti ini."