Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #4

Rahasia Tersembunyi

Bima dan Sari terpental ke belakang saat Kartika melesat dari lukisan yang hancur. Tubuh mereka membentur dinding keras. Bima merasakan tulang rusuknya nyeri, tapi ia tidak punya waktu untuk merintih. Kartika sudah melayang cepat menuju mereka dengan tangan berdarah teracung.


"MANTRA PELINDUNG!" teriak Sari sambil melempar segenggam garam ke arah Kartika.


Butiran garam menyala seperti percikan api saat menyentuh tubuh Kartika. Hantu itu mendesis kesakitan dan mundur beberapa meter. Asap hitam mengepul dari tubuhnya yang terkena garam. Sari memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik Bima berdiri.


"Lari ke atas! Cepat!" perintah Sari sambil terus melempar garam dan membaca mantra.


Bima tidak perlu diperintah dua kali. Ia berlari menaiki tangga dengan kaki gemetar. Di belakangnya, ia mendengar jeritan Kartika yang memekakkan telinga. Jeritan penuh kebencian yang membuat jendela-jendela bergetar.


Mereka sampai di lantai dua dan langsung berlari ke koridor. Sari mengeluarkan jimat lain dari tasnya dan menempelkannya di dinding-dinding koridor, membuat garis pelindung.


"Ini hanya akan menahannya sebentar," kata Sari terengah-engah. "Kita harus cepat menemukan apa yang kita cari."


Bima menunjuk pintu di ujung koridor. "Kamar itu. Tempat aku melihatnya semalam."


Mereka berlari ke kamar itu dan membanting pintu tertutup. Sari langsung menggambar simbol di pintu dengan kapur merah. "Ini akan memberi kita waktu. Tapi tidak lama. Cari sesuatu, apapun. Dokumen, diary, surat. Apapun yang bisa memberitahu kita tentang pembunuhan itu."


Bima mulai menggeledah kamar dengan tergesa. Lemari kayu besar di sudut ruangan penuh dengan pakaian tua yang sudah lapuk. Ia membongkar isinya, melempar kain-kain usang ke lantai. Tidak ada apa-apa.


Sari memeriksa meja rias yang cerminnya sudah retak. Laci-laci ditarik satu per satu. Perhiasan tua, sisir, bedak kuno. Tapi tidak ada dokumen penting.


Suara gedoran keras terdengar di pintu. BRAK! BRAK! BRAK! Pintu bergetar hebat. Simbol yang digambar Sari mulai menyala merah, menahan kekuatan yang mencoba masuk.


"BIMA! SARI! KELUAR ATAU AKU AKAN MEMBAKAR RUMAH INI DENGAN KALIAN DI DALAMNYA!"


Suara Kartika menggelegar dari luar. Dan benar saja, asap mulai masuk dari celah-celah pintu. Bau terbakar menyengat hidung mereka.


"Dia tidak main-main!" teriak Bima panik. "Kita harus keluar!"


"Belum! Pasti ada sesuatu di sini!" Sari terus mencari dengan putus asa. Matanya menyapu setiap sudut kamar.


Bima menatap sekeliling dengan panik. Asap semakin tebal. Matanya mulai perih. Lalu ia melihatnya. Di lantai, tepat di bawah tempat tidur, ada papan yang sedikit terangkat. Berbeda dengan papan lainnya.


"Sari! Lantai!"


Mereka berdua langsung berlutut dan mengangkat papan itu. Di bawahnya ada rongga kecil. Dan di dalam rongga itu tersimpan sebuah kotak kayu berukir indah. Kotak yang terjaga rapat dengan gembok kecil.


Bima mengambil kotak itu dan mencoba membukanya, tapi terkunci. Ia mencari sesuatu untuk membobolnya. Sari memberikan pisau kecil dari tasnya. Dengan susah payah, Bima berhasil memaksa gembok itu terbuka.


Di dalam kotak ada beberapa barang. Sebuah diary kulit cokelat tua, beberapa surat yang dilipat rapi, dan sebuah foto hitam putih yang sudah menguning. Bima mengambil foto itu.


Foto menunjukkan seorang wanita cantik dengan kebaya merah dan seorang pria tampan dengan jas hitam. Pengantin. Di belakang mereka berdiri lima orang lain. Dua wanita tua, dua pria paruh baya, dan seorang pemuda. Keluarga.


Tapi yang membuat Bima tercengang adalah wajah salah satu pria paruh baya itu. Wajah yang sangat ia kenal. Wajah yang ada di foto-foto lama nenek.


"Kakek Suryono," bisiknya. "Ini kakekku."


"Dan wanita di sampingnya—" Sari menunjuk wanita cantik dalam foto. "—itu Kartika."


Pintu kamar meledak. Pecahan kayu beterbangan. Api masuk dengan ganas, menjilat dinding dan langit-langit. Kartika berdiri di ambang pintu dengan tubuh diselimuti api. Tapi ia tidak terbakar. Sebaliknya, api itu seolah menjadi bagian dari dirinya.


"KEMBALIKAN ITU!" jeritnya dengan mata membara merah. "ITU MILIKKU! SATU-SATUNYA BUKTI KEBAHAGIAANKU YANG SINGKAT!"


Bima memasukkan semua barang dari kotak ke dalam jaketnya. "Maaf, tapi aku butuh ini untuk memahami apa yang terjadi!"


Lihat selengkapnya