Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #5

Saksi Bisu

Bima dan Sari kembali ke rumah Pak Marjo dengan langkah cepat. Matahari sudah tinggi di langit, tapi udara tetap terasa dingin dan mencekam. Desa Merah Delima seperti desa mati. Tidak ada anak-anak bermain, tidak ada orang tua mengobrol di teras. Semua pintu dan jendela tertutup rapat, seolah penduduk desa menyembunyikan diri dari sesuatu.


Pak Marjo sedang duduk di teras rumahnya, merokok kretek dengan tangan gemetar. Wajahnya pucat ketika melihat Bima dan Sari mendekat. Ia langsung berdiri dan membukakan pintu.


"Masuk cepat! Jangan di luar terlalu lama!" desaknya sambil menarik mereka masuk. "Tadi pagi aku dengar rumahmu terbakar. Api merah yang tidak wajar. Seluruh desa ketakutan."


"Kami baik-baik saja, Pak," kata Bima sambil mengeluarkan diary Kartika dari jaketnya. "Tapi kami butuh bantuan Bapak. Kami perlu bicara dengan orang yang tahu tentang pembunuhan Kartika tahun seribu sembilan ratus empat puluh."


Pak Marjo menatap diary itu dengan mata membulat. "Dari mana kau dapat itu?"


"Tersembunyi di kamar tempat Kartika dibunuh. Pak, dalam diary ini Kartika menulis bahwa bayinya diambil dan dikubur di tempat yang tidak diketahui. Kami harus menemukan kuburan bayi itu."


Pak Marjo duduk dengan lemas. Tangannya meremas-remas roknya yang sudah tua. "Bayi itu... ya, aku dengar cerita tentangnya. Tapi aku lahir tahun lima puluhan, sepuluh tahun setelah kejadian itu. Yang aku tahu hanya dari cerita orang tua."


"Siapa yang paling tua di desa ini?" tanya Sari. "Siapa yang mungkin melihat atau tahu tentang pembunuhan itu?"


Pak Marjo terdiam lama, seolah menimbang-nimbang sesuatu. Akhirnya ia menghela napas panjang. "Ada satu orang. Mbah Darmo. Dia pelayan di rumah keluarga Suryono saat kejadian itu terjadi. Sekarang umurnya sudah sembilan puluh tahun lebih. Tinggal sendirian di gubuk kecil di pinggir hutan bambu."


"Bawa kami ke sana," pinta Bima.


"Tidak semudah itu, Nak. Mbah Darmo tidak mau bicara tentang masa lalu. Dia sudah mencoba melupakannya selama puluhan tahun. Dan dia... dia bukan orang yang waras lagi. Trauma pembunuhan itu membuatnya separuh gila."


Sari menatap Pak Marjo dengan serius. "Tapi dia satu-satunya harapan kami. Jika kami tidak menemukan bayi itu, Kartika tidak akan pernah berhenti. Akan ada lebih banyak korban. Termasuk orang-orang tak bersalah di desa ini."


Pak Marjo menatap keduanya bergantian. Akhirnya ia mengangguk lemah. "Baiklah. Aku antar kalian. Tapi aku peringatkan, jangan kaget dengan kondisi Mbah Darmo. Dan jangan memaksa jika dia tidak mau bicara."


Mereka bertiga berjalan menuju pinggir desa. Melewati rumah-rumah yang tertutup rapat, melewati ladang yang ditinggalkan, menuju hutan bambu yang lebat. Angin bertiup membuat batang-batang bambu saling bergesekan, menciptakan suara seperti bisikan-bisikan halus.


Gubuk Mbah Darmo berdiri miring di tengah hutan bambu. Atapnya bocor-bocor, dindingnya penuh lumut. Di depan gubuk ada tumpukan sampah dan barang-barang rongsokan. Bau pesing dan busuk menyeruak dari sana.


Pak Marjo mengetuk dinding gubuk. "Mbah Darmo? Saya Marjo. Ada tamu yang ingin bertemu."


Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara gesekan dari dalam gubuk. Lalu pintu anyaman bambu terbuka perlahan. Seorang pria sangat tua muncul. Kulitnya keriput seperti kulit pohon, rambutnya putih acak-acakan, matanya keruh dan kosong. Tubuhnya kurus kering hanya berbalut kain sarung lusuh.


"Marjo..." suaranya serak seperti amplas. "Kenapa kau bawa orang asing ke sini? Aku sudah bilang aku tidak mau ketemu siapa-siapa."


"Maaf mengganggu, Mbah," kata Bima sopan sambil menundukkan kepala. "Saya Bima, cucu Nyonya Asih. Cucu dari Raden Suryono."


Mata Mbah Darmo tiba-tiba membelalak. Tubuhnya gemetar hebat. Ia mundur ke dalam gubuk dengan wajah ketakutan. "Suryono... Suryono... tidak, tidak, tidak! Pergi! Pergi dari sini!"


"Mbah, tunggu!" Bima mencoba masuk tapi Pak Marjo menahannya.


"Biarkan dia tenang dulu," bisik Pak Marjo.


Tapi Sari melangkah maju. Ia menutup mata dan membaca mantra pelan. Udara di sekitar mereka bergetar lembut. Sari memasuki gubuk dengan langkah tenang.


"Mbah Darmo," katanya dengan suara lembut tapi tegas. "Saya bisa melihat beban yang Mbah pikul selama puluhan tahun. Saya bisa merasakan rasa bersalah yang menggerogoti jiwa Mbah. Anda ingin bebas dari beban itu, kan?"


Lihat selengkapnya