Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #6

Dukun Putih

Perjalanan menuju desa sebelah memakan waktu hampir satu jam dengan berjalan kaki melalui jalan setapak yang berliku. Bima, Sari, dan Pak Marjo bergegas sebelum matahari benar-benar tenggelam. Mbah Darmo memutuskan menunggu di gubuknya, terlalu lemah untuk ikut perjalanan jauh.


Desa Kembang Sore terlihat jauh berbeda dengan Desa Merah Delima. Di sini masih ada kehidupan. Anak-anak bermain di halaman, ibu-ibu mengobrol di teras, bapak-bapak pulang dari ladang. Udara terasa lebih ringan, tidak ada aura mencekam seperti di desa Bima.


Rumah Eyang Suryo berada di ujung desa, dikelilingi taman yang penuh tanaman obat dan bunga-bunga warna-warni. Rumah kayu sederhana dengan teras luas. Di teras duduk seorang lelaki tua kurus dengan rambut putih panjang terurai. Matanya tajam meski kulitnya sudah keriput.


"Sari," sapa lelaki tua itu dengan suara tenang. "Sudah lama kau tidak datang. Dan sekarang kau membawa dua orang dengan aura kelam yang pekat."


Sari menundukkan kepala hormat. "Eyang Suryo, kami butuh bantuan Eyang. Ini kasus yang sangat berat."


Eyang Suryo menatap Bima dengan pandangan menusuk. Seolah melihat menembus tubuhnya hingga ke jiwa. "Kau membawa kutukan keluarga, anak muda. Kutukan dendam yang sudah mengakar puluhan tahun. Di tubuhmu mengalir darah pembunuh, tapi di hatimu ada niat baik. Menarik."


"Eyang bisa melihat itu?" tanya Bima takjub.


"Aku sudah mengabdi sebagai perantara dunia selama enam puluh tahun. Tentu saja aku bisa melihat." Eyang Suryo bangkit dengan bantuan tongkat kayu. "Masuk. Ceritakan semuanya."


Mereka masuk ke dalam rumah yang penuh dengan jimat, tasbih, dan berbagai pernak-pernik spiritual. Aroma dupa dan kembang melati sangat kuat. Di tengah ruangan ada meja rendah dengan lilin-lilin yang menyala.


Sari menceritakan semua yang terjadi. Tentang Kartika, pembunuhan kejam yang dialaminya, bayi yang dikubur hidup-hidup, dan mantra gelap yang menjaga kuburan itu. Eyang Suryo mendengarkan dengan serius, sesekali mengangguk atau mengernyit.


"Kuntilanak Merah," gumam Eyang Suryo setelah Sari selesai bercerita. "Aku dengar tentangnya. Roh paling berbahaya di wilayah ini. Sudah banyak paranormal yang mencoba mengusirnya tapi gagal. Beberapa bahkan mati karenanya."


"Kami tidak ingin mengusirnya, Eyang," kata Bima. "Kami ingin memberinya keadilan. Menemukan bayinya dan memakamkan mereka berdua dengan layak. Agar Kartika bisa pergi dengan damai."


Eyang Suryo menatap Bima lama. "Niatmu mulia, anak muda. Tapi kau tahu resikonya? Jika kita gagal, Kartika akan semakin marah. Dia akan membunuh semua yang terlibat. Termasuk aku."


"Saya tahu, Eyang. Tapi saya tidak punya pilihan lain. Saya tidak bisa membiarkan arwah tidak bersalah terus menderita. Dan saya tidak bisa membiarkan lebih banyak orang mati karena kesalahan keluarga saya."


Eyang Suryo tersenyum tipis. "Kau berbeda dari kakekmu. Suryono adalah pria yang pengecut dan lemah. Dia membiarkan keluarganya membunuh wanita yang dicintainya karena takut kehilangan status. Tapi kau... kau punya keberanian untuk menghadapi kesalahan leluhurmu."


Eyang Suryo berjalan ke lemari kayu dan mengeluarkan beberapa barang. Jimat-jimat kuning, sebotol air yang bercahaya redup, sebundel dupa hitam, dan sebuah keris tua dengan sarung perak.


"Ini akan menjadi ritual berbahaya," katanya sambil meletakkan barang-barang itu di meja. "Mantra yang menjaga kuburan bayi itu adalah mantra hitam tingkat tinggi. Dipasang oleh dukun jahat yang sudah mati puluhan tahun lalu. Untuk memecahkannya, kita harus mengadakan ritual di tengah malam tepat di bawah pohon beringin mati itu."


"Tengah malam?" Pak Marjo menelan ludah. "Itu waktu paling berbahaya. Kartika paling kuat saat itu."


"Justru itu," jawab Eyang Suryo. "Kita butuh Kartika hadir. Kita butuh dia tahu apa yang kita lakukan. Jika kita melakukannya diam-diam, dia akan menganggap kita mencuri bayinya lagi. Tapi jika dia hadir dan melihat niat baik kita, dia mungkin akan membantu memecahkan mantra itu."


"Mungkin?" Bima tidak suka kata itu.


"Tidak ada jaminan dalam dunia spiritual, anak muda. Kartika sudah tenggelam dalam kebencian selama tujuh puluh tahun lebih. Dia mungkin sudah tidak bisa membedakan teman dan musuh lagi."


Sari mengeluarkan diary Kartika dari tasnya. "Bagaimana jika kita tunjukkan ini padanya? Membuktikan bahwa kita sudah membaca dan mempercayai kisahnya?"


Eyang Suryo mengambil diary itu dan membukanya. Matanya membaca beberapa halaman. Ekspresinya berubah menjadi sedih. "Wanita malang ini. Dipaksa menikah, dicintai pria yang salah, dibunuh karena mengikuti hatinya. Dan sekarang jadi monster karena penderitaannya."

Lihat selengkapnya