Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #7

Tulang Kecil Itu

Bima menatap Sari yang sudah bukan Sari lagi. Tubuh paranormal muda itu sekarang dikendalikan oleh Kartika. Matanya yang tadinya hangat kini dingin dan tajam. Gerakannya penuh kesedihan yang mendalam.


"Ya, kami ingin membantu," jawab Bima dengan suara bergetar tapi tegas. "Kami tahu apa yang terjadi padamu. Kami sudah membaca diarymu. Kami tahu kau tidak bersalah."


Kartika melalui tubuh Sari melangkah mendekati Bima. Mengamatinya dari dekat. "Kau mirip dengan dia. Dengan Suryono. Mata yang sama. Bentuk wajah yang sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda di dalam dirimu."


"Saya bukan kakek saya. Saya tidak akan membiarkan ketidakadilan terus terjadi."


Kartika tertawa pahit. Suara tawa yang menyedihkan. "Ketidakadilan? Aku dibunuh di hari pernikahanku. Bayiku direnggut dari rahimku saat aku masih hidup. Aku dibuang ke sumur seperti sampah. Dan selama tujuh puluh tahun lebih, tidak ada yang peduli. Tidak ada yang mencari keadilan untukku."


"Sekarang kami peduli," kata Eyang Suryo dengan suara tenang namun tegas. "Kami di sini untuk memberikan anakmu pemakaman yang layak. Untuk memberikannya nama, doa, dan tempat istirahat yang tenang."


Kartika menatap Eyang Suryo. "Kau dukun putih. Aku bisa merasakan energi sucimu. Berbeda dengan dukun hitam yang memasang mantra pada kuburan anakku. Dukun yang dibayar keluarga Suryono untuk memastikan anakku tidak pernah ditemukan."


"Mantra itu akan kubuka," janji Eyang Suryo. "Tapi aku butuh bantuanmu. Mantra itu terlalu kuat untuk kupecahkan sendirian. Kekuatan dendammu, jika kau alihkan untuk melindungi anakmu bukan untuk membalas dendam, bisa memecahkan mantra itu."


Kartika terdiam lama. Tubuh Sari gemetar, menandakan perjuangan batin yang terjadi. "Aku... aku sudah terlalu lama hidup dalam kebencian. Aku tidak tahu apakah aku masih bisa merasakan cinta."


"Kau masih bisa," kata Bima sambil mengeluarkan diary dari jaketnya. "Ini diarymu. Setiap halaman penuh dengan cinta. Cintamu pada Arjuna, cintamu pada bayi yang kau kandung. Cinta itu tidak mati, Kartika. Kebencian hanya menutupinya."


Kartika menatap diary itu. Tangan Sari terangkat perlahan, menyentuh sampul kulit cokelat itu. Air mata mengalir dari mata Sari. "Aku... aku menulis ini dengan harapan suatu hari seseorang akan membacanya dan tahu kebenaran."


"Kami sudah tahu," kata Bima lembut. "Dan sekarang kami ingin memberimu dan anakmu keadilan yang kalian pantas dapatkan."


Kartika mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan membantu kalian. Tapi ada satu syarat."


"Apa itu?"


"Setelah anakku ditemukan dan dimakamkan dengan layak, aku ingin kalian mencari Arjuna. Cinta sejatiku. Dia pasti sudah meninggal karena usianya. Aku ingin tahu di mana dia dimakamkan. Aku ingin... aku ingin bisa beristirahat di sampingnya dan anak kami."


Bima menatap Eyang Suryo yang mengangguk setuju. "Kami janji akan mencarinya."


"Terima kasih," bisik Kartika. Suaranya yang tadinya penuh amarah kini bergetar penuh emosi.


Eyang Suryo mulai mempersiapkan ritual pembukaan mantra. Dia menggambar simbol-simbol rumit di tanah dengan kapur putih dan merah. Menyalakan lebih banyak dupa. Menaburkan bunga melati dan mawar merah membentuk lingkaran di sekitar akar pohon beringin mati.


"Kartika, aku butuh kau berkonsentrasi pada cintamu terhadap anakmu," kata Eyang Suryo. "Ingat saat pertama kali kau tahu kau hamil. Ingat kebahagiaan yang kau rasakan. Ingat harapan-harapan yang kau punya untuknya."


Kartika menutup mata Sari. Tubuhnya bergetar. "Aku... aku ingat. Aku merasakan gerakan kecil di perutku untuk pertama kali. Seperti kupu-kupu yang mengepak. Aku tahu saat itu bahwa aku tidak sendirian lagi. Aku punya seseorang yang akan kucintai tanpa syarat."


"Bagus. Pegang perasaan itu. Biarkan cinta itu mengalir."


Eyang Suryo mulai membaca mantra dengan suara keras. Bahasa kuno yang tidak Bima pahami. Tapi dia bisa merasakan kekuatan dalam kata-kata itu. Udara bergetar hebat. Tanah di bawah kaki mereka berguncang.


Lingkaran gelap di sekitar akar pohon mulai bersinar merah. Seperti api yang menyala dari dalam tanah. Kemudian berubah menjadi hitam pekat. Asap hitam mengepul dari tanah, membentuk sosok-sosok mengerikan. Sosok dukun hitam yang sudah mati, masih menjaga mantra yang dipasangnya puluhan tahun lalu.


"PERGI!" teriak sosok-sosok itu dengan suara yang seperti gabungan puluhan suara. "INI TANAH TERLARANG! TIDAK BOLEH DIGANGGU!"


"Aku tidak takut padamu," kata Kartika dengan suara dingin. Tubuh Sari melangkah maju, menembus lingkaran pelindung. Tangannya terangkat, menunjuk ke sosok-sosok hitam itu. "Kalian melayani pembunuh. Kalian membantu menyembunyikan mayat anakku. KALIAN TIDAK PUNYA HAK UNTUK ADA DI SINI!"


Cahaya merah menyala dari tubuh Sari. Cahaya yang sangat terang, membutakan. Sosok-sosok hitam itu meraung kesakitan dan menghilang ditelan cahaya.


Mantra pelindung pecah. Terdengar suara seperti kaca yang hancur berkeping-keping. Tanah di bawah akar pohon retak, membentuk celah-celah dalam.


"SEKARANG! GALI SEKARANG!" perintah Eyang Suryo.


Lihat selengkapnya