Setelah memakamkan tulang-tulang Arjuna Kartika Putra dengan upacara sederhana namun khidmat di pemakaman desa Eyang Suryo, Bima memutuskan untuk beristirahat sehari. Tubuhnya lelah, pikirannya kacau, dan hatinya masih terbebani oleh kata-kata terakhir Kartika.
"Rahasia lain yang dilakukan keluarga Suryono."
Kalimat itu terus bergema di kepalanya. Apa lagi yang telah dilakukan keluarga kakeknya? Berapa banyak darah yang mengotori tangan mereka? Dan yang paling mengganggu, berapa banyak arwah lain yang masih menunggu keadilan?
Bima menginap di rumah Pak Marjo malam itu. Sari juga ikut menginap karena terlalu lelah untuk pulang ke desanya. Mereka duduk di teras, menatap rumah kolonial di kejauhan yang masih berdiri gelap dan menakutkan.
"Kau benar-benar akan masuk lagi ke rumah itu?" tanya Pak Marjo sambil menyeruput kopi panas.
"Harus," jawab Bima. "Kartika bilang ada rahasia lain. Aku tidak bisa mengabaikannya. Aku sudah memutuskan untuk menebus dosa keluargaku. Tidak akan berhenti sampai semua keadilan ditegakkan."
Sari menatap Bima dengan pandangan khawatir. "Tapi Kartika sudah pergi. Siapa tahu apa yang masih ada di rumah itu? Mungkin ada arwah lain yang lebih berbahaya."
"Justru itu aku harus tahu. Aku tidak bisa membiarkan rumah itu terus menjadi sarang hantu dan penderitaan."
Pak Marjo menghela napas. "Aku punya cerita yang mungkin bisa membantumu. Cerita yang aku dengar dari ayahku dulu."
Bima dan Sari mendekat, penuh perhatian.
"Ayahku dulu bekerja sebagai tukang kayu di rumah keluarga Suryono. Dia ikut membangun renovasi rumah tahun enam puluhan. Saat itu, dia dan tukang lain diperintahkan membuat ruang bawah tanah."
"Ruang bawah tanah?" Bima teringat pesan terakhir nenek di surat wasiat. "Jangan pernah membuka ruang bawah tanah."
"Ya. Ruang yang sangat besar, tersembunyi di bawah rumah. Pintunya ada di dapur, di balik lemari besar. Ayahku bilang ruang itu sangat aneh. Dindingnya dilapisi besi tebal, ada rantai-rantai besar di dinding, dan lantainya penuh noda hitam yang tidak mau hilang."
Bulu kuduk Bima berdiri. "Untuk apa ruang seperti itu?"
Pak Marjo menggeleng. "Ayahku tidak tahu. Tapi dia mendengar bisikan bahwa keluarga Suryono menggunakan ruang itu untuk menyiksa orang-orang. Terutama para pekerja atau pembantu yang dianggap tidak patuh. Beberapa orang masuk ke ruang itu dan tidak pernah keluar lagi."
"Ruang penyiksaan," bisik Sari dengan ngeri. "Tidak heran rumah itu penuh energi negatif."
"Setelah Suryono mati terbakar tahun tujuh puluhan, ruang itu ditutup rapat oleh Nyonya Asih. Dia memasang gembok besar dan mantra pelindung. Melarang siapa pun untuk membukanya. Bahkan dia sendiri tidak pernah turun ke sana lagi."
Bima bangkit berdiri. "Aku harus ke sana. Aku harus melihat sendiri apa yang ada di ruang bawah tanah itu."
"Tidak malam ini," kata Sari tegas. "Kita semua butuh istirahat. Lagipula, masuk ke rumah terkutuk itu tanpa persiapan adalah bunuh diri. Kita tunggu pagi, atur strategi, dan bawa perlengkapan yang cukup."
Bima tahu Sari benar. Dia mengangguk dan duduk kembali. Tapi matanya tetap tertuju ke rumah gelap di kejauhan. Rumah yang menyimpan banyak sekali rahasia kelam.
Malam itu Bima bermimpi. Mimpi tentang ruang bawah tanah yang gelap. Di mimpi itu, dia melihat bayangan-bayangan orang yang menderita. Teriakan kesakitan, suara rantai berderak, dan bau darah yang sangat pekat. Dan di tengah ruangan itu, berdiri sosok kakeknya. Raden Suryono dengan senyum dingin, memegang cambuk berdarah.
Bima terbangun dengan keringat dingin. Pagi belum datang, tapi dia tidak bisa tidur lagi. Dia duduk di teras, menunggu matahari terbit sambil memikirkan apa yang akan ditemukannya hari ini.
Ketika matahari akhirnya muncul, Sari sudah bangun dan mempersiapkan jimat-jimat pelindung. Pak Marjo membuat sarapan sederhana. Mereka makan dalam diam, masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.
"Sebaiknya kita minta Eyang Suryo ikut," usul Sari.
"Tidak," jawab Bima. "Eyang Suryo sudah terlalu tua dan lelah. Ritual kemarin menguras banyak tenaganya. Ini cukup kita berdua saja."
"Kalau begitu aku juga ikut," kata Pak Marjo dengan tekad yang mengejutkan.
"Pak Marjo, ini terlalu berbahaya—"
"Ayahku membangun ruang itu. Entah dia sadari atau tidak, dia ikut membantu keluarga Suryono menyiksa orang. Aku ingin menebus dosanya juga. Biarkan aku ikut."