Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #9

Pengakuan Sang Kakek

Bima menatap sosok kakeknya dengan campuran perasaan takut, marah, dan tidak percaya. Raden Suryono berdiri dengan postur tegap meski tubuhnya transparan. Wajahnya tampan namun dingin, matanya tajam penuh arogansi. Mengenakan beskap hitam yang megah, seperti bangsawan Jawa tempo dulu.


"Kau... kau seharusnya sudah meninggal," kata Bima dengan suara bergetar.


Suryono tertawa pahit. "Aku memang sudah mati, cucuku. Terbakar hidup-hidup oleh Kartika tahun tujuh puluh lima. Tapi jiwaku tidak bisa pergi. Terikat pada rumah ini karena perjanjian yang kubuat dengan iblis."


Sari melangkah di depan Bima, posisi melindungi. "Kau sudah mati tapi masih berkeliaran. Berarti kau menolak untuk ke alam baka. Menolak untuk dihakimi."


"Dihakimi?" Suryono menatap Sari dengan pandangan meremehkan. "Oleh siapa? Oleh Tuhan yang tidak pernah memihakku? Oleh manusia-manusia lemah yang tidak mengerti apa artinya kekuasaan?"


"Kau membunuh puluhan orang!" teriak Bima. "Menyiksa mereka, menjadikan mereka persembahan untuk iblis! Bagaimana kau bisa tidak merasa bersalah?!"


Suryono berjalan mendekat dengan langkah tenang. "Mereka hanya budak, pelayan, rakyat jelata. Nyawa mereka tidak ada artinya dibanding kejayaan keluarga Suryono. Kami keluarga bangsawan, darah biru yang mengalir turun temurun. Kami berhak atas segalanya."


"Termasuk membunuh Kartika?" tanya Bima dengan mata berkaca-kaca. "Membunuh wanita yang mencintaimu? Membunuh bayi tak berdosa?"


Untuk pertama kalinya, ekspresi Suryono berubah. Ada kilatan sesuatu di matanya. Penyesalan? Rasa sakit? Tapi cepat hilang digantikan oleh kekerasan.


"Kartika mengkhianatiku. Dia membawa aib pada keluargaku. Dia harus dihukum."


"Dia tidak mencintaimu!" Bima berdiri, menghadap kakeknya dengan keberanian yang tidak dia tahu dari mana datangnya. "Dia dipaksa menikah denganmu untuk melunasi hutang keluarganya! Dia mencintai Arjuna sejak awal! Kau yang terlalu egois untuk melihat itu!"


Suryono menatap Bima dengan tatapan tajam. "Cinta? Kau bicara tentang cinta? Cinta tidak memberi makan. Cinta tidak memberikan status. Aku memberikan Kartika kehidupan yang layak, rumah mewah, nama baik. Dan dia membalasnya dengan pengkhianatan."


"Kau memberikan dia penjara!" teriak Bima. "Kau memenjarakannya dalam pernikahan tanpa cinta! Dan ketika dia hamil anak pria lain, kau membunuhnya dengan cara yang paling kejam!"


Pak Marjo yang tadi diam akhirnya angkat bicara. "Raden Suryono, ayah saya membantu membangun ruang penyiksaan ini. Dia tidak tahu untuk apa ruangan ini. Tapi saya tahu sekarang. Dan saya malu. Saya malu keluarga saya pernah membantu kejahatan ini."


Suryono menatap Pak Marjo dengan pandangan dingin. "Ayahmu dibayar dengan baik. Dia tidak punya hak untuk bertanya atau merasa bersalah."


"Semua orang punya hak untuk merasa bersalah atas kejahatan!" seru Sari. "Dan kau, Suryono, sudah melakukan kejahatan yang sangat besar. Kau membunuh puluhan orang. Mempersembahkan jiwa mereka pada iblis. Untuk apa? Kekayaan? Kekuasaan? Dan di mana sekarang kekayaan dan kekuasaanmu? Kau hanya hantu yang terjebak di rumah tua yang terkutuk!"


Suryono terdiam. Tubuhnya bergetar, cahaya di sekelilingnya berkedip tidak stabil. "Aku... aku melakukannya untuk keluargaku. Untuk memastikan keturunanku hidup dengan layak."


"Dengan mengorbankan nyawa orang lain?" Bima melangkah maju. "Kau pikir ibu dan aku hidup bahagia dengan warisan darah itu? Ibu meninggal muda karena penyakit aneh yang tidak bisa disembuhkan. Aku hidup tanpa mengenal orang tuaku dengan baik. Nenek hidup dalam ketakutan dan penyesalan. Di mana kebahagiaannya?"


"Ibumu..." untuk pertama kalinya suara Suryono bergetar. "Ratna... dia meninggal?"


"Sepuluh tahun lalu. Kanker yang menyebar dengan sangat cepat. Dia menderita sekali sebelum mati."


Suryono mundur selangkah. Wajahnya berubah pucat bahkan untuk ukuran hantu. "Tidak... Ratna adalah satu-satunya anakku. Satu-satunya keturunanku dengan Asih. Dia seharusnya dilindungi oleh perjanjianku dengan iblis."


"Iblis tidak melindungi siapa-siapa," kata Sari dengan nada tegas. "Iblis hanya mengambil. Kau menjual jiwa puluhan orang dan jiwamu sendiri. Dan sebagai gantinya? Keluargamu menderita. Istrimu hidup dalam ketakutan. Anakmu mati muda. Cucumu mewarisi kutukan. Di mana kejayanmu, Suryono?"

Lihat selengkapnya