Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #10

Ritual Pembebasan

Eyang Suryo sedang menyiram tanaman obat di halaman rumahnya ketika Bima, Sari, dan Pak Marjo tiba dengan tergesa. Wajah mereka pucat, napas terengah, dan mata penuh ketakutan. Dukun tua itu langsung tahu ada masalah besar.


"Masuk! Cepat!" perintahnya sambil membuka pintu lebar-lebar.


Di dalam rumah, mereka menceritakan semuanya dengan terburu-buru. Tentang ruang bawah tanah, tumpukan tulang korban, altar hitam, perjanjian dengan iblis, dan yang terakhir tentang Suryono yang menghadapi iblis sendirian untuk memberi mereka waktu melarikan diri.


Eyang Suryo mendengarkan dengan wajah semakin serius. Setelah mereka selesai bercerita, dia terdiam lama, menatap ke kejauhan dengan pandangan berat.


"Malphas," gumamnya akhirnya. "Salah satu iblis tingkat tinggi. Pangeran dari tiga puluh sembilan legiun setan. Dia yang biasa membuat perjanjian dengan manusia yang menginginkan kekayaan dan kekuasaan dengan imbalan jiwa."


"Bisa dikalahkan, Eyang?" tanya Bima dengan suara penuh harapan.


"Dikalahkan? Tidak. Iblis tidak bisa dikalahkan oleh manusia biasa. Tapi dia bisa diusir kembali ke neraka jika perjanjian yang mengikatnya di dunia ini diputuskan."


"Bagaimana caranya?" Sari sudah agak pulih, duduk tegak meski wajahnya masih pucat.


Eyang Suryo bangkit dan membuka lemari kayunya. Mengeluarkan sebuah buku tua yang sangat tebal dengan sampul kulit usang. "Ini kitab yang diwariskan turun temurun dalam keluarga paranormal kami. Berisi mantra dan ritual untuk melawan kekuatan gelap."


Dia membuka buku itu, membalik-balik halaman dengan hati-hati. Halaman-halaman kertas yang sudah menguning dan rapuh. Akhirnya dia menemukan halaman yang dicari.


"Ritual Pemutusan Perjanjian Iblis," bacanya dengan suara berat. "Ritual ini sangat berbahaya. Membutuhkan tiga paranormal dengan kekuatan spiritual tinggi, air dari tujuh sumur suci, dupa dari tujuh kuil berbeda, dan yang paling penting, pengorbanan jiwa suci."


"Pengorbanan jiwa suci?" Bima tidak suka bunyi itu.


"Seseorang yang bersih dari dosa berat harus rela mengorbankan jiwanya untuk menggantikan jiwa-jiwa yang terikat dalam perjanjian. Hanya dengan cara itu perjanjian bisa diputuskan."


"Itu tidak masuk akal!" seru Bima. "Kenapa harus ada korban lagi? Sudah cukup banyak orang yang mati!"


Eyang Suryo menatap Bima dengan tatapan sedih. "Itulah harga untuk melawan kekuatan gelap tingkat tinggi. Iblis tidak akan melepaskan mangsanya dengan mudah. Dia butuh pengganti."


"Lalu siapa yang harus berkorban?"


"Biasanya salah satu paranormal yang melakukan ritual. Tapi itu pilihan yang sangat berat."


Sari berdiri dengan tekad di wajahnya. "Aku yang akan berkorban."


"TIDAK!" Bima langsung menolak. "Kau sudah banyak membantuku. Aku tidak akan membiarkanmu mati!"


"Bima, dengar—"


"Tidak ada alasan! Kita akan cari cara lain!"


Eyang Suryo mengangkat tangan, meminta keheningan. "Ada satu cara lain. Cara yang sangat jarang berhasil tapi setidaknya tidak membutuhkan korban jiwa."


"Apa itu?" tanya mereka berdua bersamaan.


"Jika ada seseorang yang sudah terikat perjanjian dengan iblis rela melepaskan ikatannya dengan sukarela dan tulus, perjanjian bisa diputuskan tanpa pengorbanan. Tapi orang itu harus benar-benar ikhlas melepaskan semua yang dijanjikan iblis dan menerima konsekuensinya."


Bima langsung paham. "Kakek Suryono. Dia harus melepaskan perjanjiannya dengan sukarela."


"Ya. Tapi itu berarti dia harus melepaskan semua kekuatan yang diberikan iblis padanya. Dan saat perjanjian diputuskan, jiwanya akan langsung ditarik ke neraka untuk dihakimi atas semua dosanya."


Lihat selengkapnya