Tiga hari setelah ritual pemutusan perjanjian, Bima berdiri di halaman belakang rumah kolonialnya bersama puluhan penduduk desa. Mereka semua datang untuk menyaksikan pemakaman massal korban-korban keluarga Suryono yang selama puluhan tahun terlupakan di ruang bawah tanah.
Tulang-tulang yang ditemukan sudah dibersihkan dengan hati-hati oleh Sari dan beberapa paranormal lain yang didatangkan dari desa sekitar. Semuanya dibungkus dengan kain kafan putih dan diletakkan dalam peti-peti sederhana. Ada dua puluh tiga peti. Dua puluh tiga nyawa yang direnggut dengan kejam.
Eyang Suryo memimpin upacara dengan khidmat. Suaranya yang biasanya tenang kini penuh emosi. "Hari ini kita memberikan penghormatan terakhir untuk jiwa-jiwa yang menderita. Mereka adalah pelayan, pekerja, dan rakyat biasa yang tidak berdosa. Mereka dibunuh hanya karena keangkuhan dan keserakahan. Hari ini kita pastikan mereka tidak lagi terlupakan."
Mbah Darmo hadir juga, tubuhnya gemetar tapi matanya jernih untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun. Di sebelahnya berdiri beberapa orang tua lain, keluarga dari korban-korban yang hilang puluhan tahun lalu dan tidak pernah ditemukan.
Seorang wanita tua menghampiri salah satu peti dengan tangan gemetar. "Ini kakakku," bisiknya sambil menangis. "Dia hilang tahun lima puluh dua. Keluarga Suryono menuduhnya mencuri, tapi dia tidak pernah mencuri apapun. Dia hanya pelayan setia yang bekerja dengan jujur."
Bima mendekati wanita itu, berlutut di hadapannya. "Maafkan keluarga saya. Maafkan kami yang tidak tahu dan tidak melakukan apapun. Saya janji akan memastikan ini tidak pernah terlupakan lagi."
Wanita itu menatap Bima dengan air mata mengalir. Lalu dia memeluk Bima erat. "Terima kasih. Terima kasih sudah memberikan kakakku tempat istirahat yang layak."
Satu per satu peti-peti itu diturunkan ke lubang yang sudah digali. Setiap peti diberi penanda dari kayu dengan nama-nama yang berhasil diidentifikasi dari catatan lama yang ditemukan di rumah. Bagi yang tidak teridentifikasi, penandanya bertuliskan "Jiwa yang Terlupakan - Semoga Menemukan Kedamaian."
Pak Marjo membacakan nama-nama yang teridentifikasi dengan suara bergetar:
"Suparman, pelayan rumah tangga, hilang tahun empat puluh lima."
"Siti Aminah, juru masak, hilang tahun empat puluh tujuh."
"Karjo, tukang kebun, hilang tahun lima puluh."
"Darminah, pembantu cuci, hilang tahun lima puluh dua."
Daftar itu terus berlanjut. Setiap nama membuat hati Bima semakin berat. Ini bukan hanya statistik. Ini adalah manusia-manusia dengan kehidupan, keluarga, dan impian yang direnggut dengan kejam.
Setelah semua peti diturunkan, Eyang Suryo membaca doa panjang. Doa untuk pengampunan jiwa-jiwa itu, doa agar mereka menemukan kedamaian di alam baka, dan doa agar kejahatan seperti ini tidak pernah terulang lagi.
Sari berdiri di samping Bima, menyaksikan upacara dengan mata berkaca-kaca. "Kau sudah melakukan hal yang benar, Bima. Kakekmu akan bangga."
"Kakek..." Bima menatap langit yang mendung. "Aku berharap dia tidak terlalu menderita di neraka. Setidaknya di akhir, dia mencoba melakukan yang benar."
"Setiap jiwa punya kesempatan untuk menebus, meski di neraka sekalipun," kata Eyang Suryo yang mendengar percakapan mereka. "Pengorbanan Suryono di akhir hidupnya pasti diperhitungkan. Mungkin hukumannya diringankan."