Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #12

PEMBERSIHAN SPIRITUAL

Seminggu setelah pemakaman massal, Bima memulai proyek besar pembersihan spiritual rumah kolonialnya. Eyang Suryo datang bersama lima paranormal lain dari berbagai desa, membentuk tim khusus untuk membersihkan energi negatif yang sudah mengendap puluhan tahun.


Pagi itu mereka semua berkumpul di halaman depan rumah. Eyang Suryo membagi tugas dengan jelas.


"Sari, kau akan menangani lantai atas. Fokus pada kamar tempat Kartika dibunuh. Meski dia sudah pergi dengan damai, jejak energi pembunuhannya masih sangat kuat di sana."


Sari mengangguk sambil memeriksa perlengkapannya. Jimat, dupa, air suci, dan kristal pembersih.


"Pak Wage dan Bu Lastri, kalian tangani ruang tamu dan ruang makan. Bersihkan semua sudut, jangan sampai ada yang terlewat."


Dua paranormal paruh baya mengangguk mantap.


"Mbah Karno dan Mas Joko, kalian fokus pada dapur. Tempat di mana Kartika disiksa dan dibunuh. Energi di sana sangat gelap dan padat."


Dua pria tua dan muda mengangguk dengan serius.


"Dan aku sendiri akan menangani ruang bawah tanah bersama Bima. Itu tempat paling berbahaya dan membutuhkan kekuatan spiritual paling tinggi."


Bima menelan ludah. Dia tidak punya kekuatan spiritual apa-apa, tapi dia tahu dia harus ikut. Ini rumahnya, tanggung jawabnya.


"Pak Marjo," lanjut Eyang Suryo. "Tugas Bapak adalah memastikan tidak ada penduduk desa yang mendekat selama proses pembersihan. Energi negatif yang diusir bisa sangat berbahaya jika mengenai orang yang tidak terlindungi."


Pak Marjo mengangguk. "Saya sudah mengumumkan pada seluruh desa. Mereka semua akan tetap di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup."


"Bagus. Kita mulai saat matahari tepat di atas kepala. Saat energi positif dari matahari paling kuat."


Mereka menunggu hingga jam sebelas siang. Sementara menunggu, Bima memperhatikan para paranormal mempersiapkan diri. Ada yang bermeditasi, ada yang membaca mantra dalam hati, ada yang membersihkan jimat-jimat mereka dengan air suci.


Sari menghampiri Bima dengan sebuah jimat khusus. "Pakai ini. Jimat pelindung paling kuat yang kupunya. Kau akan masuk ke ruang bawah tanah, tempat paling gelap di rumah ini. Kau butuh perlindungan ekstra."


Bima menerima jimat itu dan memasangnya di leher. Kertas kuning dengan tulisan merah terasa hangat di kulitnya. "Terima kasih. Kau yakin aku tidak akan merepotkan kalian?"


"Kau tidak merepotkan. Kehadiranmu penting. Ini rumah keluargamu. Energi darahmu yang sama dengan Suryono bisa membantu menenangkan arwah-arwah yang masih terikat dengan keluargamu."


Tepat saat matahari berada di puncak, Eyang Suryo memberi aba-aba. "Waktunya. Masuk dengan hati-hati. Jangan panik apapun yang kalian lihat atau dengar. Tetap fokus pada mantra dan perlindungan kalian."


Mereka memasuki rumah bersama-sama. Udara di dalam terasa berat meski sudah siang. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela terasa redup, seolah ada sesuatu yang menyerap cahaya.


Tim-tim kecil berpencar ke area masing-masing. Bima mengikuti Eyang Suryo menuju dapur dan turun ke ruang bawah tanah. Tangga batu itu terasa lebih dingin dari biasanya. Setiap langkah bergema seperti peringatan.


Sampai di bawah, Bima langsung merasakan perbedaan. Ruangan ini jauh lebih dingin dari bagian rumah lainnya. Napas mereka membentuk uap putih tebal. Dan yang paling mengganggu, ada bisikan-bisikan halus dari segala arah.


"Pergi..."


"Sakit..."


"Dendam..."


Lihat selengkapnya