Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #13

RENOVASI DAN HARAPAN BARU

Dua minggu setelah pembersihan spiritual selesai, Bima memulai renovasi besar-besaran. Dia menjual beberapa furnitur antik dan lukisan-lukisan tua ke kolektor di Yogyakarta. Hasilnya cukup untuk membiayai renovasi dasar dan masih menyisakan dana untuk operasional.


Pagi itu halaman rumah kolonial dipenuhi aktivitas. Tukang-tukang dari desa sekitar datang membantu. Ada yang membongkar genteng rusak, ada yang menambal dinding retak, ada yang mengecat ulang kayu-kayu yang lapuk.


Pak Marjo memimpin tim tukang kayu. Meski sudah tua, dia masih kuat dan terampil. "Lantai ruang tamu harus diganti total, Nak. Kayunya sudah keropos dimakan rayap."


"Ganti saja, Pak. Pakai kayu yang kuat dan tahan lama," jawab Bima sambil membantu mengangkat papan-papan tua.


Sari datang membawa beberapa tanaman dalam pot. "Aku bawa tanaman pembersih energi. Lidah mertua, sirih gading, dan peace lily. Bagus untuk menjaga energi rumah tetap positif."


"Terima kasih, Sari. Taruh di teras depan ya. Biar rumah terlihat lebih hidup."


Aktivitas renovasi menarik perhatian penduduk desa. Awalnya mereka hanya mengintip dari jauh dengan penasaran dan sedikit takut. Tapi melihat Bima bekerja keras dengan senyum di wajah, perlahan keberanian mereka tumbuh.


Seorang ibu muda menghampiri dengan membawa nampan. "Mas Bima, saya bawakan kopi dan pisang goreng untuk yang bekerja. Terima kasih ya sudah membersihkan rumah itu. Desa kami jadi terasa lebih aman sekarang."


Bima menerima dengan senyum lebar. "Terima kasih, Bu. Ini sangat membantu."


Lambat laun, lebih banyak penduduk datang membantu. Ada yang membawakan makanan, ada yang ikut bekerja tanpa diminta bayaran, ada yang memberikan material bekas yang masih bagus. Desa yang tadinya menghindari rumah terkutuk itu kini bahu-membahu membantu mengubahnya.


"Lihat itu," kata Pak Marjo sambil menunjuk kerumunan orang yang membantu. "Dulu rumah ini simbol ketakutan. Sekarang jadi simbol persatuan."


Bima merasakan kehangatan di dadanya. Ini bukan hanya soal rumah. Ini soal menyatukan komunitas yang sudah terlalu lama hidup dalam bayang-bayang ketakutan.


Renovasi berlangsung sebulan penuh. Setiap hari ada kemajuan. Atap yang bocor sudah diperbaiki. Dinding yang retak sudah ditambal dan dicat ulang dengan warna krem cerah. Lantai kayu yang rusak diganti dengan yang baru. Jendela-jendela dipasangi kaca bening yang bersih.


Ruang bawah tanah, tempat penyiksaan yang mengerikan, diubah total. Dinding besi dibongkar. Rantai-rantai dilepas dan dibuang. Lantai dibersihkan sampai tidak ada lagi noda hitam. Lalu ruangan itu diubah menjadi gudang penyimpanan dengan pencahayaan yang baik dan ventilasi yang cukup.


"Kau tidak menutup ruang bawah tanah?" tanya Sari saat melihat renovasi di sana.


"Tidak," jawab Bima. "Menutupnya sama saja menyembunyikan sejarah. Aku ingin mengubahnya. Membuktikan bahwa tempat yang dulunya gelap bisa menjadi terang. Gudang ini nantinya akan menyimpan bahan-bahan untuk kegiatan positif."


Sari tersenyum memahami. "Kau benar. Transformasi lebih baik daripada penyangkalan."


Lihat selengkapnya