Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #14

ARWAH BARU

Tiga bulan setelah Rumah Harapan dibuka, kehidupan di Desa Merah Delima berubah drastis. Anak-anak rajin datang untuk belajar dengan guru pensiunan yang sukarela. Ibu-ibu berkumpul membuat kerajinan tangan yang hasilnya dijual ke kota. Pemuda-pemuda belajar pertukangan kayu dan mulai menerima pesanan dari luar desa.


Bima sendiri memutuskan untuk tinggal menetap di rumah itu. Dia mengambil salah satu kamar kecil di lantai atas sebagai kamar pribadinya, sementara ruangan lain tetap untuk kegiatan komunitas. Skripsi arsitekturnya tentang transformasi bangunan bersejarah dengan beban trauma menjadi ruang komunitas positif mendapat nilai sempurna dari dosennya.


Pagi itu Bima sedang menyiram tanaman di taman depan ketika seorang wanita tua datang dengan langkah tergopoh-gopoh. Wajahnya pucat dan penuh keringat meski udara masih sejuk.


"Mas Bima! Mas Bima!" panggilnya dengan napas terengah.


Bima langsung meletakkan kaleng penyiram dan menghampiri. "Ada apa, Bu? Kenapa terburu-buru?"


"Anak saya, Mas. Anak saya Tono. Dia sakit aneh sejak seminggu lalu. Sudah dibawa ke puskesmas tidak sembuh-sembuh. Malah semakin parah."


"Sakit apa, Bu?"


"Dia terus mimpi buruk. Mimpi ada wanita tua yang mengejarnya. Setiap malam dia berteriak-teriak ketakutan. Dan sekarang dia tidak mau makan, tidak mau minum. Terus bilang ada yang mengikutinya."


Bima merasakan firasat tidak enak. "Sejak kapan ini dimulai?"


"Sejak dia pulang dari kuburan tua di ujung desa. Dia main-main di sana sama teman-temannya. Terus sejak itu dia jadi begini."


Bima ingat ada kuburan tua di ujung desa yang jarang dikunjungi orang. Kuburan yang sudah tidak terawat puluhan tahun. "Tunggu sebentar, Bu. Saya panggilkan Mbak Sari."


Sari sedang mengajar anak-anak membuat kerajinan dari kertas di ruang serbaguna. Bima memanggilnya keluar dan menjelaskan situasinya.


Wajah Sari langsung serius. "Kita harus ke rumahnya sekarang. Ini bisa jadi gangguan spiritual."


Mereka bertiga berjalan cepat menuju rumah wanita tua itu yang bernama Bu Warni. Rumah kecil sederhana di tengah desa. Di dalam, terdengar suara rintihan lemah.


Tono terbaring di kasur dengan wajah pucat dan mata cekung. Usianya baru sepuluh tahun tapi sekarang terlihat seperti orang sakit parah. Bibirnya kering pecah-pecah, tubuhnya berkeringat dingin.


Sari mendekat dan meletakkan tangan di dahi Tono. Matanya menutup, berkonsentrasi. Beberapa detik kemudian dia membuka mata dengan ekspresi khawatir.


"Ada energi asing yang menempel padanya. Energi dari arwah yang marah."


"Arwah?" Bu Warni menutup mulut dengan tangan gemetar. "Maksudnya anak saya diganggu hantu?"


"Sepertinya begitu. Tono mengambil sesuatu dari kuburan itu?"


Bu Warni berpaling pada anaknya. "Tono, kamu ambil apa dari kuburan itu? Jawab Ibu!"


Tono dengan lemah mengangkat tangan menunjuk ke arah sudut kamar. Di sana ada tas kecil. Bu Warni mengambil tas itu dan membukanya. Di dalam ada sebuah liontin tua dari kuningan yang sudah berkarat.


"Ini dari kuburan itu?" tanya Sari sambil mengamati liontin tanpa menyentuhnya.


Tono mengangguk lemah. "Aku... aku menemukan di tanah dekat nisan tua. Cantik... jadi aku ambil..."


Sari mengeluarkan jimat dan membungkus liontin itu dengan hati-hati. "Liontin ini punya ikatan kuat dengan pemiliknya. Dan pemiliknya tidak senang barangnya diambil."


"Bagaimana sekarang?" tanya Bima. "Bagaimana cara membantu Tono?"


"Kita harus mengembalikan liontin ini ke kuburan. Dan meminta maaf pada arwah pemiliknya. Tapi harus dilakukan dengan benar. Jika tidak, Tono bisa semakin parah."


Bu Warni menangis. "Tolong selamatkan anak saya. Dia masih kecil. Dia tidak tahu itu salah."


Lihat selengkapnya