Enam bulan setelah Rumah Harapan dibuka, kehidupan Bima sudah sepenuhnya menyatu dengan Desa Merah Delima. Setiap pagi dia bangun dengan suara anak-anak yang bermain di halaman. Setiap siang dia membantu mengkoordinir berbagai kegiatan di rumahnya. Setiap malam dia duduk bersama penduduk desa membicarakan rencana-rencana baru untuk kemajuan desa.
Pagi itu Pak Marjo datang dengan wajah berseri. "Bima, ada kabar baik. Kepala desa mau datang sore ini. Dia mau bicara sesuatu yang penting."
"Tentang apa, Pak?"
"Beliau tidak bilang detailnya. Tapi katanya tentang pengakuan resmi untuk Rumah Harapan."
Bima merasa gugup. Selama ini Rumah Harapan beroperasi secara informal, didukung murni oleh kerelawanan dan donasi. Jika ada pengakuan resmi, mungkin akan ada bantuan pemerintah. Tapi juga mungkin ada regulasi dan birokrasi yang rumit.
Sore harinya, Kepala Desa Harjo datang bersama beberapa perangkat desa. Pria berusia lima puluhan dengan wajah tegas tapi ramah. Mereka duduk di teras Rumah Harapan yang sudah dipasang kursi-kursi kayu sederhana.
"Bima," mulai Kepala Desa Harjo dengan nada formal. "Saya sudah mengamati apa yang kau lakukan di rumah ini selama enam bulan terakhir. Dan saya harus akui, kau telah melakukan sesuatu yang luar biasa."
"Terima kasih, Pak Kepala Desa. Tapi ini bukan hanya usaha saya. Ini usaha seluruh desa."
"Justru itu yang membuat saya terkesan. Kau datang sebagai orang luar dengan warisan kelam, tapi berhasil menyatukan desa. Kau mengubah tempat yang ditakuti menjadi tempat yang dicintai. Itu bukan hal mudah."
Bima menunduk, tidak tahu harus berkata apa.
"Karena itu," lanjut Kepala Desa, "saya ingin menawarkan sesuatu. Pemerintah desa ingin mengakui Rumah Harapan secara resmi sebagai Pusat Kegiatan Masyarakat. Dengan pengakuan ini, akan ada anggaran dari desa untuk membantu operasional. Tidak besar, tapi bisa membantu."
Bima mengangkat kepala dengan mata berbinar. "Benarkah, Pak? Kami akan sangat terbantu!"
"Tapi ada syaratnya," Kepala Desa mengangkat tangan. "Rumah ini harus terdaftar secara resmi dengan struktur organisasi yang jelas. Harus ada pengurus, bendahara, sekretaris. Harus ada laporan kegiatan dan keuangan yang transparan. Bisa kau lakukan?"
"Bisa, Pak. Kami akan atur semuanya dengan baik."
Kepala Desa tersenyum. "Bagus. Dan satu hal lagi. Saya ingin mengusulkan kau menjadi Ketua Karang Taruna desa. Pemuda-pemuda kita butuh figur sepertimu. Seseorang yang punya visi dan dedikasi."
Bima tertegun. "Saya? Tapi saya baru beberapa bulan di desa ini."
"Justru karena itu kau bisa melihat dengan pandangan segar. Dan yang paling penting, kau sudah membuktikan komitmenmu. Maukah kau?"
Bima melirik Pak Marjo dan Sari yang hadir di sana. Keduanya mengangguk mendukung. "Baik, Pak. Saya terima tanggung jawab ini."
Setelah Kepala Desa dan rombongannya pergi, Bima, Sari, dan beberapa tokoh desa yang lain mengadakan rapat kecil untuk membentuk struktur organisasi Rumah Harapan. Mereka sepakat Bima menjadi Ketua, Sari sebagai Wakil Ketua yang mengurusi program-program, Pak Marjo sebagai Bendahara, dan Bu Tini sebagai Sekretaris.