Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #16

JEJAK ARJUNA

Sembilan bulan setelah kepergian Kartika, Bima belum melupakan janji terakhirnya pada arwah pengantin malang itu. Kartika meminta agar Bima mencari makam Arjuna, kekasih sejatinya, agar mereka bisa beristirahat berdekatan di alam baka. Janji itu selalu mengganjal di hati Bima setiap kali dia mengingat wajah damai Kartika saat akhirnya bersatu dengan anaknya.


Pagi itu Bima duduk di perpustakaan kecil Rumah Harapan, membuka-buka dokumen lama yang berhasil dia kumpulkan dari arsip desa dan keluarga. Ada catatan pernikahan, catatan kematian, dan berbagai surat-surat tua. Dia mencari jejak tentang Arjuna, tapi informasinya sangat sedikit.


Yang dia tahu hanya nama lengkap: Arjuna Kusuma. Pria dari keluarga pedagang menengah yang jatuh cinta pada Kartika tapi ditolak oleh keluarga Suryono karena dianggap tidak sederajat. Setelah itu, tidak ada catatan apapun tentangnya.


"Mencari apa?" tanya Sari yang datang membawa dua cangkir kopi.


"Jejak Arjuna. Aku janji pada Kartika akan menemukan makamnya. Tapi susah sekali. Sepertinya dia pergi dari desa ini setelah Kartika menikah dengan kakekku."


Sari duduk di samping Bima, ikut melihat dokumen-dokumen tua itu. "Mungkin dia pindah ke kota. Atau ke desa lain. Sudah coba tanya pada orang tua desa?"


"Sudah. Tapi tidak ada yang tahu. Kejadian itu sudah terlalu lama. Orang-orang yang tahu langsung sudah hampir semua meninggal."


"Kecuali Mbah Darmo," kata Sari tiba-tiba. "Dia ada di rumah saat pembunuhan. Mungkin dia tahu sesuatu tentang Arjuna."


Bima menepuk dahinya. "Benar! Kenapa aku tidak kepikiran?"


Mereka langsung pergi ke gubuk Mbah Darmo di pinggir hutan bambu. Gubuk yang dulu seram dan kotor sekarang sudah lebih terawat. Setelah beban rasa bersalahnya terangkat, Mbah Darmo mulai merawat dirinya dan tempat tinggalnya lebih baik.


Mbah Darmo sedang duduk di depan gubuknya, menganyam bambu. Wajahnya yang dulu penuh ketakutan kini terlihat tenang, meski tetap keriput karena usia.


"Mbah," sapa Bima sambil duduk di hadapan lelaki tua itu. "Saya mau tanya tentang Arjuna Kusuma. Kekasih Kartika yang sebenarnya. Mbah tahu dia kemana setelah Kartika menikah dengan kakek saya?"


Mbah Darmo berhenti menganyam. Matanya menatap jauh, mengingat masa lalu yang sudah tujuh puluh tahun lebih berlalu.


"Arjuna..." bisiknya pelan. "Pemuda baik itu. Aku ingat dia. Dia datang ke pernikahan Kartika dan Suryono. Berdiri jauh di belakang, menangis dalam diam. Setelah upacara, dia pergi. Tidak ada yang tahu kemana."


"Tapi Mbah dengar sesuatu tentangnya setelah itu?"


Mbah Darmo mengangguk perlahan. "Beberapa bulan setelah Kartika dibunuh, aku dengar kabar bahwa Arjuna meninggal. Bunuh diri katanya. Gantung diri di suatu tempat jauh dari sini."


Bima merasa dadanya sesak. "Di mana, Mbah? Di mana dia dikuburkan?"


"Aku tidak tahu pasti. Tapi aku ingat ada yang bilang dia pergi ke Desa Sumber Tirta, sekitar lima puluh kilometer dari sini. Desa di kaki gunung. Mungkin dia dikubur di sana."


"Desa Sumber Tirta," ulang Sari sambil mencatat. "Itu perjalanan jauh. Tapi kalau itu satu-satunya petunjuk yang kita punya..."


"Kita harus ke sana," kata Bima dengan tekad. "Aku sudah janji pada Kartika. Harus kutepati."


Keesokan harinya, Bima dan Sari berangkat ke Desa Sumber Tirta dengan naik bus. Perjalanan memakan waktu hampir tiga jam melewati jalan-jalan berliku di pegunungan. Desa itu benar-benar terpencil, jauh dari hiruk pikuk kota.


Lihat selengkapnya