Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #17

BISIKAN MALAM

Setahun setelah kedatangannya di Desa Merah Delima, Bima sudah benar-benar menjadi bagian integral dari desa itu. Rumah Harapan berkembang pesat dengan berbagai program baru. Ada kelas komputer dasar yang didanai donatur dari kota, kelas bahasa Inggris untuk anak-anak, bahkan koperasi simpan pinjam untuk membantu ekonomi ibu-ibu rumah tangga.


Malam itu Bima duduk di kamarnya, menyelesaikan laporan bulanan untuk pemerintah desa. Sudah hampir tengah malam, tapi dia masih belum mengantuk. Udara dingin pegunungan membuat dia tetap segar.


Tiba-tiba dia mendengar suara. Suara yang sangat halus, hampir seperti bisikan. "Bimaaaaa..."


Dia berhenti mengetik dan mendengarkan. Mungkin hanya angin. Tapi suara itu datang lagi, lebih jelas kali ini. "Bimaaaa... tolooong..."


Bulu kuduknya berdiri. Suara itu bukan dari luar, tapi seperti langsung di telinganya. Dan yang membuatnya lebih tidak nyaman, suara itu terdengar sangat ketakutan.


Dia keluar dari kamar dan berjalan ke koridor. Rumah sangat sunyi. Semua kegiatan sudah selesai sejak sore. Lampu-lampu sudah dimatikan kecuali lampu-lampu kecil di koridor.


"Siapa di sana?" panggilnya pelan.


Tidak ada jawaban. Tapi suara bisikan itu datang lagi, kali ini dari arah tangga menuju lantai bawah. "Di sini... di ruang bawah tanah... tolong kami..."


Bima merasakan dingin merayap di punggungnya. Ruang bawah tanah sudah dibersihkan dan diubah menjadi gudang penyimpanan. Tidak seharusnya ada sesuatu di sana. Tidak seharusnya ada energi negatif lagi.


Tapi insting spiritualnya yang sudah berkembang selama setahun terakhir memberitahunya bahwa ini bukan ilusi. Ada sesuatu yang membutuhkan bantuan.


Dia turun dengan hati-hati, menyalakan lampu-lampu koridor. Sampai di dapur, dia menatap pintu ruang bawah tanah yang sudah tidak terkunci lagi sejak pembersihan spiritual. Pintu itu sedikit terbuka, padahal Bima ingat betul dia menutupnya rapat sore tadi.


Dengan napas dalam, dia membuka pintu dan turun tangga batu. Ruang bawah tanah yang sekarang menjadi gudang penyimpanan terlihat normal. Rak-rak penuh dengan perlengkapan untuk berbagai kegiatan. Tidak ada yang aneh.


Tapi bisikan itu datang lagi. "Di belakang... dinding belakang... ada yang tersembunyi..."


Bima berjalan ke dinding paling belakang. Dinding yang dulu dilapisi besi tapi sekarang sudah dibersihkan. Dia mengetuk-ketuk dinding, mendengarkan suara yang berbeda. Dan benar saja, ada satu bagian yang suaranya berbeda. Lebih hampa. Seperti ada rongga di baliknya.


Dia mengambil linggis dari rak peralatan dan mulai menggali. Setelah beberapa menit, sebagian dinding runtuh menampakkan rongga kecil di baliknya. Dan di dalam rongga itu, ada kotak kayu kecil yang sudah sangat tua.


Dengan tangan gemetar, Bima mengeluarkan kotak itu. Sangat ringan. Dia membawanya naik ke lantai atas dan meletakkannya di meja. Dengan linggis, dia membuka gembok kecil yang sudah berkarat.


Di dalam kotak ada beberapa barang. Foto-foto hitam putih, beberapa surat, dan yang paling mengejutkan, sebuah buku catatan kecil. Buku catatan yang sampulnya bertuliskan: "Daftar Rahasia Keluarga Suryono."


Bima membuka buku itu dengan napas tertahan. Halaman demi halaman berisi catatan detail tentang berbagai transaksi gelap, perjanjian kotor, dan yang paling mengerikan, daftar orang-orang yang "disingkirkan" oleh keluarga Suryono.


Ada dua puluh tiga nama di daftar itu - sesuai dengan jumlah korban yang ditemukan di ruang bawah tanah. Tapi ada catatan tambahan yang membuat darah Bima membeku:


"Lima orang lagi dikubur di tempat rahasia. Tidak boleh ada yang tahu. Mereka tahu terlalu banyak tentang bisnis gelap keluarga."


Lima orang lagi. Lima korban yang belum ditemukan.


Bima langsung menelepon Sari meski sudah tengah malam. "Sari, aku menemukan sesuatu. Bisa kau datang sekarang?"


Lihat selengkapnya