Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #18

PENGHARGAAN DAN ANCAMAN

Tiga bulan setelah penemuan lima korban terakhir, cerita tentang Bima dan transformasi Rumah Harapan menyebar luas. Media lokal dan nasional mulai meliput kisahnya. Bukan hanya tentang rumah berhantu yang diubah menjadi pusat komunitas, tapi juga tentang keberanian seorang pemuda mengungkap kejahatan leluhurnya sendiri dan memberikan keadilan pada korban-korban yang terlupakan.


Suatu pagi, Bima menerima telepon dari pemerintah provinsi. Mereka mengundangnya untuk menerima penghargaan sebagai "Tokoh Muda Peduli Sejarah dan Kemanusiaan". Acara akan diadakan di gedung pemerintahan provinsi, dihadiri gubernur dan berbagai pejabat.


"Aku tidak pantas menerima penghargaan," kata Bima pada Sari saat membicarakan undangan itu. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Memperbaiki kesalahan keluargaku."


"Justru karena itu kau pantas," jawab Sari. "Di zaman ini, jarang ada orang yang mau mengakui kesalahan leluhurnya, apalagi berusaha memperbaikinya. Kau teladan yang baik."


Pak Marjo menambahkan, "Dan dengan penghargaan ini, Rumah Harapan akan mendapat lebih banyak perhatian. Lebih banyak dukungan. Ini bukan untuk kau pribadi, tapi untuk misi yang lebih besar."


Akhirnya Bima setuju untuk datang. Hari penghargaan tiba, dia mengenakan batik formal yang dipinjamkan Pak Marjo. Sari, Pak Marjo, dan beberapa tokoh desa ikut menemani.


Acara berlangsung meriah. Gubernur sendiri yang menyerahkan piagam penghargaan. "Saudara Bima telah menunjukkan bahwa masa lalu yang kelam tidak harus menentukan masa depan. Bahwa dari kegelapan bisa lahir cahaya. Beliau adalah inspirasi bagi kita semua."


Tepuk tangan riuh menggema. Kamera-kamera wartawan mengabadikan momen itu. Bima tersenyum canggung, tidak terbiasa dengan perhatian sebesar ini.


Tapi di tengah kegembiraan itu, ada seseorang yang menatapnya dengan pandangan tidak senang. Seorang pria paruh baya berjas mahal duduk di barisan belakang, wajahnya keras dan mata tajam penuh perhitungan.


Setelah acara selesai, saat Bima sedang berbincang dengan beberapa tamu, pria itu menghampiri. "Selamat atas penghargaanmu, Bima. Atau seharusnya aku panggil Raden Bima Suryono?"


Bima tidak suka nada bicara pria itu. "Terima kasih. Maaf, Bapak siapa?"


"Namaku Hartono Wibowo. Aku keturunan keluarga Wibowo yang dulu berbisnis dengan keluarga Suryono. Dan aku sangat tidak senang dengan apa yang kau lakukan."


Bima mengernyit. "Apa maksud Bapak?"


"Kau membongkar semua kejahatan masa lalu. Kau mengungkap semua rahasia kotor. Kau tahu itu berdampak pada keluarga lain juga? Termasuk keluargaku?"


"Kalau keluarga Bapak juga terlibat kejahatan, seharusnya juga bertanggung jawab."


Hartono tersenyum dingin. "Naif sekali. Kau pikir semua orang mau masa lalu dibongkar? Ada banyak keluarga kaya dan berkuasa di provinsi ini yang punya sejarah kelam. Dan mereka tidak senang ada orang yang mulai membuka-buka luka lama."


"Itu bukan urusan saya. Saya hanya bertanggung jawab atas kejahatan keluarga saya sendiri."


"Oh, tapi kau sudah membuat preseden berbahaya. Sekarang keluarga korban yang lain mulai menuntut kebenaran. Mulai mencari keadilan. Kau tahu itu merepotkan banyak orang penting?"


Bima merasakan ketegangan. "Apa yang Bapak mau?"


"Hentikan. Hentikan semua dramatisasi ini. Tutup Rumah Harapan. Berhenti membuat keributan. Dan yang paling penting, hentikan pencarian 'keadilan' untuk korban-korban lain. Fokus pada kehidupanmu sendiri."


"Saya tidak akan melakukan itu."


Lihat selengkapnya