Dua minggu setelah ancaman dari Hartono, Rumah Harapan mengalami serangkaian kejadian mencurigakan. Pertama, pompa air tiba-tiba rusak tanpa sebab jelas. Kemudian kabel listrik di beberapa ruangan putus, padahal baru dipasang beberapa bulan lalu. Lalu, satu malam, jendela-jendela lantai atas dipecahkan oleh batu-batu yang dilempar orang tidak dikenal.
Bima tahu ini bukan kebetulan. Ini sabotase terencana.
Pagi itu dia menemukan hal yang paling meresahkan. Di depan pagar Rumah Harapan, ada tulisan dengan cat semprot merah: "TUTUP TEMPAT INI ATAU YANG TUTUP NYAWAMU."
Anak-anak yang datang untuk belajar melihat tulisan itu dan ketakutan. Beberapa orang tua langsung membawa anak mereka pulang. "Maaf, Mas Bima. Kami tidak mau anak-anak terlibat dalam masalah berbahaya," kata salah satu ibu dengan nada minta maaf.
Bima tidak bisa menyalahkan mereka. Keamanan anak-anak adalah prioritas utama.
Sari membantu menghapus tulisan itu, wajahnya keras dengan amarah. "Mereka pengecut. Mengancam dengan cara seperti ini."
"Mereka ingin kita ketakutan dan menyerah," kata Bima sambil mengecat ulang pagar. "Tapi kita tidak akan memberi mereka kepuasan itu."
Pak Marjo datang dengan wajah khawatir. "Bima, beberapa pemuda desa bilang mereka ditawari uang untuk membuat keributan di Rumah Harapan. Mereka menolak, tapi ini menunjukkan ada orang yang serius ingin menutup tempat ini."
"Kita perlu meningkatkan keamanan," kata Bima. "Mungkin perlu ronda malam. Dan kamera CCTV jika ada dana."
"Aku bisa bantu untuk CCTV," kata suara dari belakang mereka.
Mereka berbalik dan melihat seorang pria muda berusia sekitar tiga puluhan, mengenakan jaket kulit dan membawa tas ransel besar. Wajahnya asing, tapi senyumnya ramah.
"Maaf, siapa Anda?" tanya Bima waspada.
"Namaku Adi. Aku teknisi elektronik dari kota. Aku baca tentang Rumah Harapan di berita dan tersentuh. Aku ingin jadi relawan. Dan kebetulan aku punya beberapa kamera bekas yang masih bagus. Gratis, tidak usah bayar."
Bima menatapnya dengan hati-hati. "Kenapa Anda mau membantu?"
Adi tersenyum pahit. "Kakekku juga korban ketidakadilan di masa lalu. Dia pembantu di rumah keluarga kaya, dituduh mencuri tapi sebenarnya tidak. Dia dihukum dengan kejam dan mati dalam tahanan. Tidak ada yang peduli. Jadi ketika aku lihat ada orang yang berani membela korban-korban masa lalu, aku ingin ikut berkontribusi."
Sari merasakan energi Adi dengan indra spiritualnya. Setelah beberapa saat, dia mengangguk pada Bima. "Dia jujur. Tidak ada niat buruk."
"Baiklah," kata Bima sambat mengulurkan tangan. "Kami terima bantuan Anda dengan senang hati. Terima kasih, Mas Adi."
Hari itu juga Adi memasang enam kamera CCTV di titik-titik strategis sekitar Rumah Harapan. Halaman depan, halaman belakang, pintu masuk utama, dan beberapa sudut lain. Semua terhubung ke sistem yang bisa dimonitor dari laptop.
"Sekarang kalau ada yang coba sabotase lagi, kita punya bukti," kata Adi sambil menunjukkan cara kerja sistem.
Malam itu, Bima dan beberapa pemuda desa mengadakan ronda pertama. Mereka bergiliran berjaga, memastikan tidak ada orang mencurigakan yang mendekat.
Sekitar jam dua dini hari, giliran Bima yang berjaga bersama dua pemuda bernama Andi dan Joko. Mereka duduk di teras depan, minum kopi hangat untuk mengusir kantuk.
Tiba-tiba Andi menunjuk ke arah pagar. "Mas, lihat. Ada orang di luar."