Tiga hari setelah ancaman langsung dari preman-preman suruhan, Bima duduk di ruang tamu Rumah Harapan berhadapan dengan dua jurnalis investigatif dari media nasional terkemuka. Rini Kusuma, wartawan senior yang terkenal dengan investigasi korupsinya, dan Dimas Prakoso, fotografer dokumenter yang karyanya sering memenangkan penghargaan.
"Jadi ceritakan dari awal," kata Rini sambil menyalakan perekam suara. "Kami ingin tahu semuanya. Tidak hanya tentang transformasi rumah ini, tapi juga tentang tekanan dan ancaman yang kau terima."
Bima menarik napas dalam dan mulai bercerita. Dari awal kedatangannya yang disambut Kuntilanak Merah, pembersihan spiritual, penemuan korban-korban, hingga ancaman dan sabotase yang terjadi belakangan ini. Dia menunjukkan rekaman CCTV, laporan polisi, artikel-artikel fitnah, dan barang bukti lainnya.
Rini mendengarkan dengan serius, sesekali mencatat hal-hal penting. Dimas mengambil foto-foto dokumen dan lokasi. Mereka bekerja profesional dan teliti.
"Kau punya bukti kuat bahwa Hartono Wibowo di balik semua ini?" tanya Rini.
"Tidak ada bukti langsung yang menghubungkan dia dengan sabotase atau ancaman," akui Bima. "Tapi dia orang pertama yang mengancam secara terang-terangan. Dan semua masalah mulai muncul setelah pertemuan dengan dia."
"Itu cukup untuk kami mulai investigasi lebih dalam," kata Rini. "Kami akan gali sejarah keluarga Wibowo, hubungan mereka dengan keluarga Suryono, dan kemungkinan keterlibatan mereka dalam kejahatan masa lalu."
"Tapi kalian harus hati-hati," peringatkan Sari. "Orang-orang ini berbahaya. Mereka punya kekuatan dan koneksi."
Rini tersenyum tipis. "Aku sudah menghadapi banyak orang berbahaya dalam karirku. Ini bukan yang pertama."
Proses investigasi berlangsung dua minggu. Rini dan Dimas bekerja keras menggali dokumen-dokumen lama, mewawancarai berbagai narasumber, dan mengumpulkan bukti-bukti. Mereka menemukan hal-hal yang mengejutkan.
Ternyata keluarga Wibowo memang punya hubungan bisnis gelap dengan keluarga Suryono di masa lalu. Mereka terlibat dalam penyelundupan dan penggelapan tanah. Dan yang paling mengejutkan, dua dari dua puluh delapan korban yang ditemukan adalah pekerja keluarga Wibowo yang "menghilang" karena tahu terlalu banyak.
"Ini lebih besar dari yang kita kira," kata Rini saat kembali mengunjungi Bima. "Ini bukan hanya soal keluarga Suryono. Ini jaringan kejahatan yang melibatkan beberapa keluarga berkuasa di wilayah ini."
"Kalian akan publikasikan?" tanya Bima dengan harap bercampur khawatir.
"Tentu. Tapi kami harus sangat berhati-hati dalam penulisan. Semua harus didukung bukti kuat agar tidak bisa digugat. Dan kami akan koordinasi dengan polisi untuk investigasi lebih lanjut."
Seminggu kemudian, artikel investigasi berjudul "Jaringan Kelam: Kejahatan Lintas Generasi yang Terlupakan" dipublikasikan di media nasional dan langsung menjadi viral. Artikel lengkap dengan foto-foto, dokumen-dokumen, dan kesaksian berbagai pihak. Tidak menyebutkan nama secara langsung untuk menghindari gugatan, tapi cukup jelas menggambarkan siapa saja yang terlibat.
Reaksi publik luar biasa. Media lain mulai mengikuti. Hashtag #KeadilanUntukKorbanMasaLalu trending di media sosial. Orang-orang mulai menuntut investigasi resmi oleh pemerintah.
Dua hari setelah publikasi, polisi tingkat provinsi membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus ini. Beberapa keturunan keluarga lama, termasuk Hartono Wibowo, dipanggil untuk dimintai keterangan.