Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #22

JEJAK BARU

Enam bulan setelah perayaan setahun Rumah Harapan, Bima mulai menjalankan peran barunya sebagai konsultan transformasi tempat bersejarah untuk pemerintah provinsi. Tugasnya mengidentifikasi bangunan-bangunan tua dengan sejarah kelam dan merancang strategi mengubahnya menjadi ruang publik yang bermanfaat.


Pagi itu dia duduk di kantornya yang sederhana di lantai dua Rumah Harapan, memeriksa email dari Dinas Kebudayaan. Ada laporan tentang sebuah bekas penjara kolonial di kabupaten sebelah yang sudah ditinggalkan puluhan tahun. Penduduk setempat percaya tempat itu berhantu dan menghindarinya.


"Penjara kolonial," gumam Bima sambil membaca detail laporannya. "Pasti banyak penderitaan di sana."


Sari mengetuk pintu dan masuk membawa berkas. "Aku sudah siapkan jadwal kunjungan lapangan. Kita bisa ke sana minggu depan kalau kau siap."


"Kau ikut?"


"Tentu. Kau butuh paranormal untuk mengecek kondisi spiritual tempat itu. Dan lagipula, aku penasaran. Ini proyek besar pertamamu sebagai konsultan resmi."


Bima tersenyum. Kehadiran Sari selalu membuatnya merasa lebih percaya diri. "Baiklah. Kita berangkat Senin pagi."


Sementara mempersiapkan kunjungan itu, Bima juga harus mengurus operasional Rumah Harapan. Meski sudah ada tim solid, dia tetap terlibat dalam keputusan-keputusan penting. Hari itu ada rapat dengan pengrajin-pengrajin untuk membahas ekspansi usaha mereka.


"Pesanan dari kota semakin banyak," lapor Pak Marjo. "Furniture kita mulai dikenal. Tapi kapasitas produksi kita terbatas. Kita perlu workshop yang lebih besar atau rekrut lebih banyak pekerja."


"Atau keduanya," usul Adi yang sekarang jadi koordinator teknologi dan produksi. "Aku sudah hitung. Dengan modal tambahan sekitar seratus juta, kita bisa bangun workshop baru dan beli peralatan yang lebih modern. Produktivitas bisa naik tiga kali lipat."


"Dari mana modalnya?" tanya Bu Tini.


"Kita bisa ajukan kredit usaha ke bank," jawab Bima. "Atau cari investor yang mau mendukung usaha sosial. Biar aku yang urus proposal dan presentasinya."


Rapat berlangsung produktif dengan berbagai ide dan solusi. Rumah Harapan memang sudah berkembang jauh melampaui sekadar pusat kegiatan. Sekarang juga menjadi inkubator usaha sosial yang memberikan penghasilan nyata bagi puluhan keluarga.


Senin pagi, Bima dan Sari berangkat ke Kabupaten Ngawi untuk mengunjungi bekas penjara kolonial. Perjalanan memakan waktu tiga jam dengan mobil. Sepanjang jalan mereka membahas strategi pendekatan.


"Penjara itu dibangun tahun seribu delapan ratus sembilan puluhan," kata Sari sambil membaca dokumen sejarah. "Digunakan untuk menahan pejuang kemerdekaan dan tahanan politik. Banyak yang disiksa dan mati di sana. Ditutup tahun enam puluhan dan ditinggalkan sejak itu."


"Enam puluh tahun ditinggalkan. Energi negatif pasti sangat kuat."


"Sangat. Dan berbeda dengan rumahmu yang akhirnya punya energi positif dari keluarga yang tinggal di sana, penjara ini sama sekali kosong. Tidak ada yang mau tinggal atau bahkan mendekatinya."


Mereka tiba di lokasi sekitar jam sebelas siang. Bangunan penjara berdiri suram di tengah lahan kosong yang dipenuhi semak belukar. Dinding bata merah sudah ditumbuhi lumut dan tanaman liar. Jendela-jendela besi berkarat terbuka menganga seperti mulut yang menjerit. Atap genteng banyak yang runtuh.


Seorang petugas dari Dinas Kebudayaan setempat menunggu mereka di depan gerbang. Pria paruh baya bernama Pak Suroto. Wajahnya terlihat tidak nyaman berada di sana.


"Selamat datang, Mas Bima, Mbak Sari," sapanya sambat berjabat tangan. "Maaf ya, saya tidak bisa lama-lama di sini. Tempat ini memang sangat tidak nyaman."


"Tidak apa-apa, Pak. Kami mengerti. Bapak bisa tunggu di mobil saja. Kami akan eksplorasi sendiri."


Pak Suroto terlihat lega. "Kalau begitu saya tunggu di mobil ya. Kalau ada apa-apa, teriak saja. Tapi jujur, kalau ada apa-apa, saya juga tidak tahu harus bagaimana." Dia tertawa canggung lalu cepat-cepat pergi.


Bima dan Sari berdiri di depan gerbang besi besar yang setengah terbuka. Udara terasa berat meski matahari bersinar terang. Ada aura mencekam yang jelas terasa.


"Kau merasakan?" tanya Sari.


"Ya. Seperti ada yang tidak ingin kita masuk."


"Bukan hanya tidak ingin. Lebih seperti memperingatkan. Energi di sini sangat berbeda dari rumahmu. Ini bukan dendam personal seperti Kartika. Ini penderitaan kolektif dari ratusan jiwa."


Lihat selengkapnya