Renovasi Penjara Ngawi dimulai dengan hati-hati. Tim konstruksi yang dipilih adalah orang-orang yang tidak mudah takut dan sudah diberi penjelasan tentang kondisi spiritual tempat itu. Eyang Suryo memasang jimat pelindung di setiap sudut area kerja dan melakukan ritual pembersihan harian.
Minggu pertama berjalan lancar. Terlalu lancar, menurut Sari.
"Aku merasakan ada yang aneh," katanya pada Bima saat mereka inspeksi perkembangan renovasi. "Arwah-arwah terlalu tenang. Biasanya saat renovasi dimulai, mereka gelisah karena tempat mereka diganggu. Tapi ini terlalu sunyi."
"Mungkin mereka sudah percaya pada kita?"
"Atau mereka menunggu sesuatu. Menyembunyikan sesuatu."
Firasat Sari terbukti benar. Hari kedelapan renovasi, para pekerja menemukan sesuatu yang membuat mereka semua berhenti bekerja.
Bima menerima telepon panik dari mandor. "Mas Bima, cepat datang ke sini! Kami menemukan sesuatu di bawah lantai blok sel C!"
Bima dan Sari langsung melaju ke lokasi. Setibanya di sana, mereka melihat para pekerja berkumpul dengan wajah pucat di depan sebuah lubang besar di lantai blok sel.
"Ada ruangan di bawah ini," kata mandor sambil menunjuk lubang. "Ruangan rahasia yang tidak ada di blueprint. Dan di dalamnya..."
Bima dan Sari turun dengan tangga sementara yang dipasang pekerja. Di bawah lantai blok sel ternyata ada ruangan bawah tanah yang cukup luas, sekitar sepuluh kali sepuluh meter. Gelap, lembab, dan berbau busuk.
Sari menyalakan senter besar. Cahaya menerangi ruangan dan memperlihatkan pemandangan yang membuat perut mereka mual.
Tulang-tulang manusia berserakan di mana-mana. Bukan satu atau dua kerangka. Puluhan. Mungkin lebih. Ditumpuk tidak teratur di sudut-sudut ruangan seperti sampah.
"Ya Tuhan," bisik Bima dengan tangan menutup mulut.
Di dinding ada tulisan besar dengan sesuatu yang sudah mengering hitam - kemungkinan besar darah: "KAMP PEMUSNAHAN - RAHASIA NEGARA - TIDAK BOLEH ADA YANG TAHU."
"Ini bukan hanya penjara," kata Sari dengan suara gemetar. "Ini tempat pembantaian massal yang disembunyikan."
Mereka menjelajahi ruangan dengan hati-hati. Ada meja panjang dengan bekas-bekas noda darah. Ada alat-alat yang jelas digunakan untuk eksekusi: guillotine kecil, tiang untuk ditembak, bahkan tungku yang kemungkinan untuk membakar mayat.
"Mereka membunuh tahanan di sini dan menyembunyikan mayatnya," kata Bima dengan amarah yang membara. "Ini bukan penjara. Ini kamp kematian."
Di sudut ruangan ada lemari besi berkarat. Dengan susah payah mereka membukanya. Di dalam ada dokumen-dokumen yang masih terbungkus plastik - karena itu masih relatif terbaca meski sudah puluhan tahun.
Bima mengambil salah satu dokumen dengan tangan gemetar. Judulnya: "OPERASI PEMBERSIHAN - SANGAT RAHASIA."
Isinya mencatat detail eksekusi puluhan orang yang dianggap "berbahaya bagi negara." Ada nama-nama, tanggal eksekusi, dan metode yang digunakan. Yang membuat Bima terkejut adalah beberapa nama dalam dokumen itu juga ada di daftar seratus tiga puluh lima korban yang mereka temukan sebelumnya.