Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #26

PERSEKONGKOLAN TERUNGKAP

Satu bulan setelah serangan batu ke jendela Rumah Harapan, Bima menerima amplop misterius yang diselipkan di bawah pintu kantornya. Tidak ada pengirim, hanya amplop cokelat tebal berisi setumpuk dokumen fotokopi.


Bima membukanya dengan hati-hati. Matanya membulat saat membaca halaman pertama: "NOTULEN RAPAT RAHASIA - OPERASI PENGHENTIAN PROYEK PENJARA NGAWI."


Dokumen itu berisi catatan rapat antara beberapa pejabat tinggi, pengusaha, dan keturunan keluarga yang terlibat kejahatan masa lalu - termasuk Hartono Wibowo. Mereka membahas strategi sistematis untuk menghentikan proyek Bima dengan berbagai cara: tekanan politik, intimidasi, gugatan hukum, bahkan rencana untuk "menghilangkan" Bima jika semua cara lain gagal.


"Ya Tuhan," bisik Bima sambil terus membaca. "Ini lebih besar dari yang kukira."


Dia langsung menelepon Sari dan Ratih. Dalam sejam mereka berkumpul di kantor, membaca dokumen itu dengan seksama.


"Ini bom," kata Ratih setelah selesai membaca. "Kalau ini asli, ini bukti persekongkolan untuk menghalangi pengungkapan kebenaran. Ini bisa jadi kasus kriminal."


"Tapi dari mana dokumen ini?" tanya Sari curiga. "Kenapa ada orang dari dalam yang membocorkannya pada kita?"


"Mungkin ada yang tidak setuju dengan metode mereka," kata Bima. "Atau mungkin ada yang punya hati nurani."


Di halaman terakhir ada catatan tulisan tangan: "Saya tidak bisa terus diam melihat ketidakadilan ini. Gunakan ini dengan bijak. - Seorang Teman."


"Kita harus verifikasi keasliannya dulu," kata Ratih. "Jangan sampai ini jebakan untuk menjatuhkan kredibilitas kita."


Mereka membawa dokumen ke ahli forensik dokumen. Setelah pemeriksaan menyeluruh, ahli itu menyimpulkan: "Berdasarkan analisis tinta, kertas, dan cap yang ada, dokumen ini kemungkinan besar asli. Ini bukan hasil rekayasa atau pemalsuan."


Dengan konfirmasi itu, Bima memutuskan untuk mengungkapkan dokumen tersebut. Tapi kali ini dengan strategi yang lebih hati-hati. Mereka tidak langsung ke media, tapi membawa dokumen ke Komnas HAM dan kejaksaan.


"Ini bukti persekongkolan untuk menghalangi proses keadilan," kata Bima saat menyerahkan dokumen ke Komnas HAM. "Kami minta ini diselidiki secara serius."


Komnas HAM menerima dokumen itu dan berjanji akan menindaklanjuti. Tapi Bima tidak hanya mengandalkan jalur resmi. Dia juga memberikan salinan dokumen ke beberapa jurnalis investigatif terpercaya.


Dua minggu kemudian, artikel besar dimuat di media nasional: "KONSPIRASI GELAP: BAGAIMANA ELIT LAMA BERUSAHA TUTUP SKANDAL PEMBANTAIAN MASA LALU."


Artikel itu mengupas detail isi dokumen bocoran, lengkap dengan analisis dari berbagai ahli. Media sosial kembali meledak. Kali ini bukan hanya mendukung Bima, tapi juga menuntut investigasi terhadap orang-orang yang disebutkan dalam dokumen.


Tekanan publik sangat kuat. DPR terpaksa membentuk Pansus untuk menyelidiki kasus ini. Kejaksaan Agung mengumumkan akan membuka penyelidikan terhadap dugaan persekongkolan jahat.


Hartono Wibowo yang namanya jelas disebut dalam dokumen langsung menyewa tim pengacara ternama. Dia mengadakan konferensi pers menyangkal semua tuduhan.


"Ini fitnah keji. Dokumen itu palsu. Dibuat oleh pihak tertentu untuk menjatuhkan saya," katanya dengan wajah marah di depan kamera.


Tapi publik tidak mudah percaya. Terlalu banyak detail dalam dokumen itu yang bisa diverifikasi dengan kenyataan. Terlalu banyak kejadian yang sesuai dengan strategi yang tercantum di sana.


Lihat selengkapnya