Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #27

PEMAKAMAN MASSAL KEDUA

Tiga bulan setelah putusan pengadilan, renovasi Penjara Ngawi akhirnya selesai. Bangunan tua itu kini berdiri dengan wajah baru tapi tetap mempertahankan keaslian historisnya. Sel-sel tahanan dipertahankan apa adanya sebagai pengingat. Ruang penyiksaan diubah menjadi galeri dengan penjelasan detail tapi sensitif. Dan yang paling penting, ruang kematian bawah tanah diubah menjadi memorial khusus untuk mengenang korban.


Tapi sebelum museum dibuka untuk umum, ada satu hal penting yang harus dilakukan: memberikan pemakaman yang layak untuk seratus delapan puluh dua korban.


Tim forensik dari beberapa universitas telah bekerja berbulan-bulan mengidentifikasi tulang-tulang yang ditemukan. Dari empat puluh tujuh kerangka di ruang bawah tanah, mereka berhasil mengidentifikasi tiga puluh dua dengan bantuan catatan gigi, DNA keluarga, dan benda-benda pribadi yang ditemukan. Lima belas sisanya tidak bisa diidentifikasi karena catatan tidak lengkap atau tidak ada keluarga yang tersisa.


Untuk seratus tiga puluh lima korban lainnya yang tercatat meninggal di penjara tapi tidak ditemukan tulangnya, mereka membuat memorial simbolik dengan nama-nama terukir di dinding marmer.


Upacara pemakaman massal dijadwalkan pada hari yang sangat bermakna: 17 Agustus, Hari Kemerdekaan Indonesia. Karena sebagian besar korban adalah pejuang kemerdekaan, tanggal ini terasa sangat pas.


Pagi hari sebelum upacara, Bima berjalan sendirian di area memorial yang baru selesai dibangun. Dinding marmer hitam sepanjang dua puluh meter dengan seratus delapan puluh dua nama terukir dalam huruf emas. Di depannya ada taman dengan bunga-bunga putih dan merah, melambangkan kemurnian dan pengorbanan.


"Akhirnya," bisiknya sambil menyentuh salah satu nama. "Kalian semua akan dikenang."


Sari datang mendekat, membawa secangkir kopi hangat untuk Bima. "Kau sudah di sini sejak subuh?"


"Aku tidak bisa tidur. Terlalu banyak yang ada di pikiran."


"Gugup untuk upacara nanti?"


"Bukan gugup. Lebih seperti... lega campur sedih. Lega karena akhirnya bisa memberikan mereka pemakaman yang layak. Sedih karena butuh waktu enam puluh tahun lebih untuk itu terjadi."


Sari berdiri di sampingnya, menatap deretan nama. "Kau sudah melakukan lebih dari yang bisa dilakukan kebanyakan orang, Bima. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri."


Pukul sembilan pagi, tamu mulai berdatangan. Ratusan orang memenuhi area penjara yang sudah diubah menjadi taman memorial. Ada keluarga korban dari berbagai penjuru negeri, ada veteran pejuang kemerdekaan, ada pejabat pemerintah, ada aktivis HAM, ada akademisi, dan ada masyarakat umum yang tergerak oleh cerita ini.


Yang mengejutkan Bima, hadir juga delegasi dari pemerintah pusat. Wakil Presiden datang secara langsung untuk memberikan penghormatan.


"Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengakui kesalahan masa lalu," kata Wakil Presiden saat berbincang dengan Bima sebelum upacara. "Apa yang Anda lakukan telah membuka mata bangsa ini tentang pentingnya keadilan transisional."


Upacara dimulai dengan khidmat. Bendera merah putih dikibarkan setengah tiang sebagai penghormatan. Paduan suara menyanyikan lagu-lagu perjuangan dengan suara yang menyayat hati.


Pak Wiryo, sebagai perwakilan keluarga korban sekaligus mantan tahanan yang selamat, memberikan sambutan pertama.


"Enam puluh tahun kami menunggu hari ini," katanya dengan suara bergetar. "Enam puluh tahun kami hidup dengan pertanyaan tanpa jawaban. Kemana keluarga kami? Bagaimana nasib mereka? Kenapa mereka tidak pernah pulang?"


Air mata mengalir di pipinya yang keriput. "Hari ini akhirnya kami tahu. Dan meski kebenaran itu menyakitkan, setidaknya sekarang kami bisa melepaskan mereka dengan damai. Kami bisa mengatakan: kalian tidak terlupakan. Kalian pahlawan yang telah berkorban untuk negara yang kita cintai."

Lihat selengkapnya