Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #28

KEHIDUPAN BARU

Enam bulan setelah pembukaan Museum Perjuangan dan HAM Penjara Ngawi, kehidupan Bima memasuki fase yang berbeda. Museum menjadi salah satu destinasi edukasi paling dikunjungi di Jawa Tengah, dengan rata-rata lima ratus pengunjung per hari, sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa.


Rumah Harapan di Desa Merah Delima terus berkembang pesat. Usaha furniture dan kerajinan yang dimulai sebagai program kecil-kecilan kini mempekerjakan lebih dari lima puluh orang dari desa dan sekitarnya. Mereka bahkan sudah ekspor ke beberapa negara tetangga.


Pagi itu Bima duduk di kantornya yang baru - tidak lagi di Rumah Harapan, tapi di gedung kecil yang disewa khusus untuk Yayasan Keadilan dan Harapan yang resmi didirikan setahun lalu. Yayasan ini mengelola Rumah Harapan, Museum Penjara Ngawi, dan beberapa proyek serupa di daerah lain.


"Mas Bima, ada tamu," kata resepsionis melalui interkom.


"Siapa?"


"Beliau bilang dari Kementerian Pendidikan. Ada penawaran kerja sama."


Bima merapikan pakaiannya dan keluar menyambut tamu. Seorang pria paruh baya dengan setelan rapi berdiri di ruang tamu, tersenyum ramah.


"Selamat pagi, Mas Bima. Saya Pak Hidayat dari Direktorat Pendidikan Karakter Kemendikbud. Boleh kita bicara sebentar?"


Mereka duduk di ruang meeting sederhana. Pak Hidayat membuka laptopnya dan menunjukkan presentasi.


"Kementerian sangat terkesan dengan apa yang Anda lakukan. Rumah Harapan dan Museum Penjara Ngawi adalah contoh sempurna bagaimana sejarah bisa menjadi pembelajaran. Kami ingin mengajak Anda kerja sama untuk membuat kurikulum pendidikan karakter berbasis sejarah lokal."


"Kurikulum untuk tingkat apa?"


"SMP dan SMA. Kami ingin siswa tidak hanya belajar sejarah dari buku, tapi juga dari tempat-tempat seperti museum Anda. Kami ingin mereka belajar tentang keadilan, kemanusiaan, dan keberanian dari kisah nyata seperti kisah Anda."


Bima tertarik tapi juga hati-hati. "Apa yang diharapkan dari saya?"


"Anda akan jadi konsultan untuk pengembangan kurikulum. Tim kami akan bekerja sama dengan Anda merancang modul pembelajaran, pelatihan guru, dan program kunjungan edukatif. Tentunya dengan kompensasi yang layak."


"Boleh saya pikir-pikir dulu? Saya perlu diskusi dengan tim."


"Tentu. Tidak ada tekanan. Tapi kami berharap Anda bisa bergabung. Ini kesempatan untuk memberikan dampak lebih luas lagi."


Setelah Pak Hidayat pergi, Bima langsung mengadakan rapat dengan tim inti yayasan. Sari, Ratih, Pak Marjo, dan Adi berkumpul untuk membahas penawaran ini.


"Ini kesempatan bagus," kata Ratih. "Dengan masuk ke kurikulum nasional, cerita tentang pentingnya keadilan akan sampai ke jutaan siswa."


"Tapi kita sudah sangat sibuk," kata Pak Marjo. "Bima hampir setiap minggu harus bolak-balik antara Desa Merah Delima dan Ngawi. Kalau ditambah lagi proyek nasional, kapan dia istirahat?"


"Aku setuju dengan Pak Marjo," kata Sari. "Bima, kau sudah bekerja terlalu keras. Dua tahun terakhir ini kau hampir tidak pernah benar-benar libur."


Bima tahu mereka benar. Dia memang kelelahan. Tapi di sisi lain, penawaran ini terlalu baik untuk dilewatkan.


"Bagaimana kalau begini," usul Adi. "Kita terima penawaran itu, tapi kita delegasikan sebagian besar pekerjaan ke tim. Bima cukup jadi supervisi dan wajah publik proyek. Eksekusinya kita yang jalankan."


"Kau yakin bisa?" tanya Bima pada Adi.


"Kita sudah punya tim yang solid. Sari bisa handle konten spiritual dan psikologis. Ratih handle hubungan eksternal dan media. Pak Marjo handle aspek komunitas. Aku handle teknis dan koordinasi. Kau cukup kasih arahan besar dan review hasil akhir."


Bima memikirkan usulan itu. Memang masuk akal. Dia tidak harus mengerjakan semuanya sendiri.


"Baiklah. Tapi dengan satu syarat: aku mau ambil cuti satu bulan penuh sebelum proyek ini dimulai. Satu bulan untuk benar-benar istirahat dan memikirkan arah hidup ke depan."


Lihat selengkapnya