Setahun setelah Bima dan Sari resmi menjalin hubungan, kehidupan mereka berjalan dengan harmonis. Mereka merencanakan pernikahan untuk enam bulan ke depan. Yayasan Keadilan dan Harapan berkembang pesat dengan tiga lokasi baru yang sedang ditransformasi di berbagai provinsi. Proyek kurikulum nasional dengan Kemendikbud berjalan lancar dan akan diluncurkan semester depan.
Tapi kehidupan, seperti yang dipelajari Bima selama ini, tidak pernah berjalan mulus selamanya.
Suatu malam di pertengahan November, Bima terbangun dari mimpi buruk yang sangat jelas. Dia bermimpi berdiri di sebuah rumah tua yang tidak dikenalnya. Rumah yang lebih tua dan lebih gelap dari rumah kolonial miliknya. Di rumah itu, dia melihat sosok wanita berjubah hitam - bukan merah seperti Kartika. Wanita itu menatapnya dengan mata yang sama sekali hitam, tanpa putih mata sama sekali.
"Kau pikir kau sudah selesai?" bisik wanita itu dengan suara yang bergema dari segala arah. "Kau pikir dengan memberikan keadilan untuk beberapa ratus jiwa, hutang keluargamu sudah lunas? Kau bahkan tidak tahu separuh dari kejahatan yang dilakukan leluhurmu."
Bima terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Jantungnya berdebar keras. Dia meraih ponsel dan melihat waktu: 03:33 dini hari. Angka yang sama dengan waktu dia pertama kali diserang Kartika tiga tahun lalu.
Dia tidak bisa tidur lagi. Duduk di tepi tempat tidur, mencoba menenangkan napas. Ini hanya mimpi, katanya pada dirinya sendiri. Hanya mimpi.
Tapi ada sesuatu tentang mimpi itu yang terasa terlalu nyata. Terlalu spesifik. Seperti bukan mimpi biasa tapi semacam peringatan.
Pagi harinya, saat sarapan bersama Sari di Rumah Harapan, Bima menceritakan mimpinya.
Ekspresi Sari langsung berubah serius. "Wanita berjubah hitam? Dengan mata sepenuhnya hitam?"
"Ya. Kau tahu siapa dia?"
Sari terdiam lama, seperti sedang mengingat sesuatu. "Dalam mitologi spiritual Jawa, ada legenda tentang Kuntilanak Hitam. Berbeda dengan kuntilanak biasa yang mati karena melahirkan atau karena dendam cinta, Kuntilanak Hitam adalah arwah dari wanita yang dibunuh dengan ritual sihir hitam. Mereka jauh lebih kuat dan berbahaya. Dan mereka tidak hanya mengincar pembunuh mereka, tapi seluruh garis keturunannya hingga tujuh generasi."
Bima merasakan dingin merayap di punggungnya. "Kau pikir ini nyata? Bukan hanya mimpi buruk biasa?"
"Mimpi di jam tiga pagi, dengan detail yang sangat spesifik, dan melibatkan entitas supernatural? Itu jarang hanya mimpi biasa, Bima. Terutama untuk orang dengan sejarah spiritualmu."
"Tapi kenapa sekarang? Kenapa tiga tahun setelah semua yang terjadi?"
"Mungkin karena kau sudah mulai bahagia. Mungkin karena kau sudah mulai melupakan masa lalu dan fokus pada masa depan. Entitas gelap suka mengganggu saat korbannya sedang merasa aman."
Bima mengusap wajahnya dengan frustasi. "Aku pikir semua ini sudah selesai. Aku pikir setelah Kartika pergi dengan damai, setelah korban-korban dimakamkan dengan layak, aku bisa hidup normal."
"Normal adalah relatif untuk orang seperti kita," kata Sari sambil menggenggam tangan Bima. "Tapi kita akan hadapi ini bersama. Seperti dulu."
"Aku tidak mau melibatkanmu lagi dalam bahaya. Kita sudah hampir menikah. Aku tidak mau kau—"
"Bima," potong Sari dengan tegas. "Aku memilih ini. Aku memilih kau dengan semua konsekuensinya. Jangan coba-coba memutuskan sendiri untuk 'melindungiku' dengan menjauhkanku. Kita hadapi bersama atau tidak sama sekali."
Bima menatap mata Sari yang penuh tekad. Dia tahu tidak ada gunanya membantah. "Baiklah. Kita perlu mulai investigasi. Mencari tahu apakah benar-benar ada Kuntilanak Hitam yang terkait dengan keluargaku."
Mereka memulai dengan sumber yang paling jelas: Mbah Darmo. Pria tua yang dulu pelayan di rumah keluarga Suryono. Kalau ada yang tahu tentang kejahatan lain yang dilakukan keluarga itu, dia orangnya.
Mbah Darmo sekarang tinggal di rumah kecil yang lebih layak, dibantu dana dari yayasan Bima. Kesehatannya membaik setelah beban rasa bersalahnya terangkat. Tapi ketika Bima dan Sari datang mengunjunginya dengan pertanyaan tentang Kuntilanak Hitam, wajahnya langsung pucat.
"Dari mana kau tahu tentang itu?" tanyanya dengan suara gemetar.
"Jadi memang ada?" Bima merasa jantungnya berhenti sejenak.
Mbah Darmo mengangguk lemah. "Ada. Tapi itu kejadian yang bahkan lebih gelap dari pembunuhan Kartika. Kejadian yang sama sekali tidak pernah kuceritakan pada siapa pun karena terlalu mengerikan."