Pukul delapan malam, tim yang terdiri dari sembilan orang berkumpul di halaman Rumah Harapan. Bima, Sari, Eyang Suryo, dan lima paranormal dari berbagai daerah. Mereka semua mengenakan pakaian putih bersih sebagai simbol kesucian. Di punggung masing-masing terpasang jimat pelindung berlapis. Di tangan mereka membawa perlengkapan spiritual: dupa, air suci, tasbih, salib, keris pusaka, dan berbagai benda sakral lainnya.
"Ini bukan ekspedisi biasa," kata Eyang Suryo sambil memeriksa perlengkapan terakhir kali. "Kita akan memasuki wilayah yang sudah dikuasai energi gelap hampir sembilan puluh tahun. Apa pun yang kalian lihat, apa pun yang kalian dengar, jangan panik. Tetap bersama dalam formasi. Jangan ada yang tertinggal atau terpisah."
"Apa yang kita harapkan akan terjadi di sana?" tanya Ustadz Hasan sambil memeriksa tasbihnya.
"Yang terburuk," jawab Mbah Kyai dengan suara berat. "Kuntilanak Hitam hasil ritual sihir hitam tidak akan melepaskan kekuasaannya dengan mudah. Dia akan gunakan semua cara untuk menghancurkan kita. Ilusi, manipulasi mental, serangan fisik, bahkan mencoba merasuki salah satu dari kita."
"Karena itu kita harus saling jaga," tambah Romo Benedictus. "Kalau melihat ada yang mulai berperilaku aneh, langsung kabarkan. Semakin cepat kita deteksi, semakin mudah menanganinya."
Mereka berangkat dengan dua mobil menuju Hutan Bambang Sakti. Perjalanan memakan waktu empat puluh menit melewati jalan yang semakin sepi dan gelap. Tidak ada lampu jalan. Hanya cahaya bulan tiga perempat yang menerangi jalan tanah berbatu.
Sampai di pinggir hutan, mereka harus melanjutkan dengan berjalan kaki. Hutan itu sangat lebat dengan pohon-pohon bambu raksasa yang tingginya mencapai puluhan meter. Batang-batang bambu saling bergesekan ditiup angin, menciptakan suara seperti rintihan. Udara terasa berat dan lembab, membuat napas terasa sesak.
"Energi negatifnya sangat kuat," bisik Ni Ketut sambil mengamati sekitar dengan mata tertutup. "Seperti ada dinding tebal energi gelap yang mengelilingi tempat ini. Menolak siapa pun yang ingin masuk."
"Kita harus tembus dinding itu," kata Eyang Suryo sambil mengeluarkan dupa khusus. "Semua keluarkan perlengkapan kalian. Kita bentuk lingkaran pelindung sambil berjalan."
Mereka membentuk formasi lingkaran dengan Bima di tengah - sebagai keturunan yang paling langsung dari pelaku kejahatan, dia yang paling rentan terhadap serangan. Sari berdiri di sampingnya, tangan mereka saling menggenggam erat.
Perlahan mereka memasuki hutan. Setiap paranormal membaca mantra dalam tradisi masing-masing. Suara-suara doa dari berbagai bahasa dan kepercayaan bercampur menciptakan harmoni aneh yang terasa sangat kuat.
Tapi hutan seolah menolak kehadiran mereka. Cabang-cabang bambu tiba-tiba jatuh menghalangi jalan. Akar-akar pohon seperti hidup, menjulur mencoba menjerat kaki mereka. Kabut hitam pekat mulai muncul, membuat jarak pandang hanya beberapa meter.
"Ini bukan fenomena alam," kata Datu Mansur sambil mengayunkan mandau pusakanya memotong cabang-cabang yang menghalangi. "Ini serangan spiritual. Hutan ini sudah menjadi perpanjangan dari kekuatan Dewi Ratih."
"Terus maju," perintah Eyang Suryo. "Jangan berhenti. Kalau kita berhenti, kita akan dikepung."
Mereka terus berjalan meski semakin sulit. Tanah di bawah kaki mereka mulai berubah tekstur, menjadi lengket seperti lumpur meski sebelumnya kering. Ada suara-suara bisikan dari segala arah. Bisikan dalam bahasa yang tidak mereka mengerti tapi terasa sangat mengganggu.
Tiba-tiba Ustadz Hasan berhenti. Wajahnya pucat. "Ada yang... ada yang mencoba masuk ke pikiranku. Menunjukkan gambar-gambar... gambar keluargaku terluka..."
"Jangan lihat!" teriak Mbah Kyai. "Itu ilusi untuk memecah konsentrasi kita!" Dia langsung membacakan mantra pelindung untuk Ustadz Hasan.
Tapi serangan tidak berhenti. Satu per satu mereka mulai merasakan gangguan. Romo Benedictus mendengar suara anak-anak menangis memanggil-manggil namanya. Ni Ketut melihat bayangan ibunya yang sudah meninggal berdiri di antara bambu-bambu, melambaikan tangan. Datu Mansur mencium bau darah yang sangat kuat hingga membuat dia mual.
"Ini semakin kuat!" teriak Sari sambil mencoba bertahan. "Dia tahu kita datang dan sedang mempersiapkan serangan besar!"
"Berapa jauh lagi ke lokasi ritual?" tanya Bima pada Eyang Suryo.
"Sekitar dua ratus meter. Tapi dengan kondisi seperti ini, terasa seperti dua kilometer."
Mereka memaksa diri terus melangkah. Setiap meter terasa seperti perjuangan melawan arus kuat yang tidak terlihat. Keringat membasahi tubuh mereka semua meski udara dingin.
Tiba-tiba kabut hitam di depan mereka membentuk sosok. Sosok wanita tinggi berjubah hitam dengan rambut panjang terurai. Wajahnya sangat pucat, hampir putih seperti porselen. Tapi yang paling mengerikan adalah matanya - sepenuhnya hitam tanpa putih mata atau pupil. Hanya kehitaman yang dalam seperti lubang tanpa dasar.
"Dewi Ratih," bisik Bima.
Sosok itu tidak bergerak. Hanya berdiri di sana, menghalangi jalan mereka. Tapi aura yang dipancarkannya sangat mencekam. Seperti ada tekanan fisik yang menekan dada mereka semua.
"Kalian berani datang," suara Dewi Ratih bergema dari segala arah, bukan hanya dari mulutnya. "Berani memasuki kerajaanku. Keturunan pembunuhku berani berdiri di depanku."
"Kami datang bukan untuk melawan," kata Eyang Suryo dengan suara tenang tapi tegas. "Kami datang untuk memberikan keadilan yang sudah terlalu lama kau tunggu."
Dewi Ratih tertawa. Tawa yang mengerikan, tanpa kehangatan, penuh kebencian. "Keadilan? Sembilan puluh tahun aku menunggu. Sembilan puluh tahun aku menderita dalam kegelapan, terikat oleh ritual terkutuk itu. Dan sekarang kalian datang dengan kata-kata manis tentang keadilan?"
"Kami tahu apa yang dilakukan keluarga Suryono padamu," kata Bima melangkah maju meski kaki gemetar. "Kami tahu kau dibunuh dengan cara yang sangat kejam dalam ritual sihir hitam. Kami tahu tubuhmu dikubur tanpa penghormatan. Dan kami tahu keluarga Darmawan hancur karena kehilanganmu. Kami datang untuk mengakui semua itu dan memberikanmu apa yang seharusnya kau terima sejak lama."
"DAN APA ITU?" teriakan Dewi Ratih membuat tanah bergetar. Bambu-bambu di sekitar mereka patah bergelimpangan. "APA YANG BISA KALIAN BERIKAN PADA JIWA YANG SUDAH TERIKAT DENGAN KEGELAPAN SELAMA HAMPIR SATU ABAD?"
"Pembebasan," jawab Sari dengan suara gemetar tapi penuh keyakinan. "Kami bisa memutuskan ikatan sihir hitam yang menahan arwahmu. Kami bisa memberikanmu pemakaman yang layak. Kami bisa memastikan namamu diingat sebagai korban, bukan sebagai kutukan."
Dewi Ratih melayang mendekati mereka. Suhu udara turun drastis hingga napas mereka semua membentuk uap putih tebal. "Kalian pikir semudah itu? Kalian pikir aku mau dibebaskan? KEKUATAN INI ADALAH SATU-SATUNYA YANG AKU PUNYA! TANPA INI AKU HANYA ARWAH LEMAH YANG TIDAK BISA MEMBALAS DENDAM!"
"Balas dendam tidak akan memberikanmu kedamaian," kata Romo Benedictus sambil mengangkat salibnya. "Hanya akan memperpanjang penderitaanmu."
"AKU TIDAK BUTUH KEDAMAIAN! AKU BUTUH KEADILAN! DAN KEADILAN UNTUKKU ADALAH MELIHAT SEMUA KETURUNAN SURYONO MATI DENGAN PENDERITAAN SEPERTI AKU!"
Dewi Ratih tiba-tiba bergerak dengan kecepatan luar biasa. Dalam sekejap dia sudah berada tepat di depan Bima, tangan pucat dengan kuku panjang teracung hendak mencakar wajahnya.
Tapi sebelum itu terjadi, delapan paranormal secara bersamaan melepaskan kekuatan spiritual mereka. Cahaya dari berbagai warna menyala membentuk perisai mengelilingi Bima. Dewi Ratih terlempar ke belakang, meraung kesakitan saat cahaya menyentuh tubuhnya.
"KALIAN BERANI MENYAKITIKU?!" teriaknya dengan amarah yang membara.
"Kami tidak mau menyakitimu," kata Mbah Kyai. "Tapi kami juga tidak akan membiarkanmu menyakiti yang tidak bersalah. Bima bukan pembunuhmu. Dia bahkan belum lahir saat kau dibunuh."
"DARAHNYA SAMA! DARAH PEMBUNUH MENGALIR DI TUBUHNYA!"
"Ya, tapi pilihannya berbeda!" teriak Bima. "Aku memilih untuk memperbaiki kesalahan leluhurku! Aku sudah memberikan keadilan untuk dua ratus delapan puluh dua korban! Aku mengubah tempat-tempat kejahatan menjadi tempat pembelajaran! Apa itu tidak berarti apa-apa?"
Dewi Ratih terdiam. Tatapan mata hitamnya menatap Bima dengan intensitas yang menakutkan.
"Kau yang mengubah Penjara Ngawi?" tanyanya akhirnya.
"Ya. Aku dan timku."
"Aku tahu tempat itu. Banyak arwah dari sana yang akhirnya bisa pergi dengan damai. Mereka... mereka menceritakan tentangmu. Tentang keturunan Suryono yang berbeda dari yang lain."