Enam bulan setelah pembebasan Dewi Ratih, kehidupan di Desa Merah Delima memasuki era baru yang penuh harapan. Pemakaman Dewi Ratih dilakukan dengan sangat khidmat di pemakaman keluarga Darmawan yang sudah lama terbengkalai. Beberapa keturunan keluarga Darmawan yang berhasil dilacak datang dari berbagai kota, terharu akhirnya bisa memberikan penghormatan terakhir untuk leluhur mereka yang selama ini dianggap hilang tanpa jejak.
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Bima dan Sari: hari pernikahan mereka.
Pagi hari cerah di akhir Mei. Langit biru tanpa awan. Angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga-bunga yang ditanam khusus untuk acara ini. Rumah Harapan dihias dengan dekorasi sederhana tapi elegan - kain putih dan merah, bunga melati dan mawar, lentera-lentera tradisional yang digantung di pepohonan.
Halaman Rumah Harapan yang biasanya digunakan untuk berbagai kegiatan komunitas kini disulap menjadi venue pernikahan yang indah. Kursi-kursi kayu sederhana disusun rapi menghadap ke panggung kecil yang didekorasi dengan gapura bunga. Di belakang area duduk tamu, ada tenda besar untuk resepsi.
"Gugup?" tanya Adi sambil membantu Bima merapikan jas beskap hitam dengan motif batik yang dipakainya.
"Sangat," akui Bima sambil tersenyum. "Tapi ini gugup yang menyenangkan. Bukan gugup seperti saat menghadapi hantu."
"Untung fase menghadapi hantu sudah selesai. Sekarang kau bisa fokus pada menghadapi kehidupan pernikahan, yang kata orang bisa lebih menakutkan." Adi tertawa.
Bima ikut tertawa. "Aku sudah menghadapi Kuntilanak Merah, Kuntilanak Hitam, iblis, dan berbagai hal mengerikan lainnya. Aku rasa aku siap untuk tantangan apapun."
Di ruangan sebelah, Sari sedang dibantu Ratih dan beberapa sahabatnya bersiap. Dia mengenakan kebaya putih gading dengan payet halus dan kain batik merah marun. Rambut panjangnya disanggul dengan hiasan bunga melati. Wajahnya berseri-seri, cantik dengan riasan natural.
"Kau terlihat sangat cantik," kata Ratih dengan mata berkaca-kaca. "Bima sangat beruntung."
"Aku yang beruntung," jawab Sari sambil tersenyum. "Menemukan seseorang yang berani menghadapi segala ketakutannya demi melakukan hal yang benar. Itu bukan hal yang mudah ditemukan."
"Kalian berdua sempurna satu sama lain. Kalian sudah melewati begitu banyak hal bersama. Pernikahan ini seperti kesimpulan yang sempurna untuk perjalanan luar biasa itu."
Tamu mulai berdatangan sejak jam sembilan pagi. Ratusan orang dari berbagai latar belakang. Ada penduduk Desa Merah Delima yang sudah mengenal Bima sejak awal. Ada keluarga korban dari berbagai kasus yang telah diselesaikan Bima. Ada paranormal-paranormal yang pernah membantu dalam berbagai ritual. Ada aktivis HAM, jurnalis, akademisi, bahkan beberapa pejabat pemerintah.
Pak Wiryo datang dengan menggunakan kursi roda, sudah sangat tua tapi matanya masih berbinar. "Aku tidak akan melewatkan hari ini untuk apapun," katanya pada Bima saat mereka berpapasan. "Kau seperti cucu bagiku. Melihatmu bahagia adalah kebahagiaan terbesarku."
Mbah Darmo juga hadir, penampilannya jauh lebih sehat dibanding tiga tahun lalu. "Terima kasih sudah membebaskanku dari rasa bersalah," katanya sambil memeluk Bima. "Tanpa kau, aku mungkin sudah mati dengan beban itu masih di pundak."
Eyang Suryo datang bersama lima paranormal yang membantu ritual terakhir. Mereka semua tersenyum bangga melihat Bima yang sudah berkembang dari pemuda ketakutan menjadi pria dewasa yang bijaksana.
Yang mengejutkan, Ibu Ratna Kusuma - sepupu Arjuna - juga datang dengan membawa hadiah besar: dana hibah untuk mengembangkan Yayasan Keadilan dan Harapan menjadi organisasi nasional yang bisa beroperasi di lebih banyak daerah.
"Arjuna dan Kartika pasti sangat bangga melihat ini," katanya sambil memeluk Bima. "Kau sudah mengubah warisan kelam menjadi warisan cahaya."
Upacara pernikahan dimulai tepat jam sebelas siang. Penghulu dari masjid setempat memimpin akad nikah yang sakral dan khidmat. Bima mengucapkan ijab dengan suara jelas dan penuh keyakinan. Sari menerima dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.
"Sah!" ucapan penghulu disambut tepuk tangan meriah dari semua tamu.
Bima dan Sari saling menatap dengan mata berkaca-kaca. Setelah tiga tahun bersama melewati berbagai badai, akhirnya mereka resmi menjadi suami istri.
Setelah akad, ada upacara panggih sederhana dengan adat Jawa. Bima dan Sari duduk bersisian dengan pakaian pengantin tradisional. Prosesi dilakukan dengan khidmat tapi juga penuh kehangatan. Tidak ada kemewahan berlebihan, tapi semuanya terasa sangat bermakna.
Saat resepsi, berbagai orang memberikan sambutan dan ucapan selamat. Pak Marjo, yang sudah seperti ayah bagi Bima, memberikan sambutan yang membuat semua orang terharu.
"Tiga tahun lalu, anak muda ini datang ke desa kami dengan beban berat di pundaknya," katanya dengan suara bergetar. "Dia bisa saja kabur, menjual rumah warisan dan melupakan semuanya. Tapi dia memilih untuk menghadapi, untuk memperbaiki, untuk memberikan keadilan. Dan dalam prosesnya, dia tidak hanya mengubah satu rumah atau satu desa, tapi membuka jalan bagi perubahan yang lebih besar."
"Hari ini kami merayakan bukan hanya pernikahannya dengan Sari, tapi juga kelahiran kehidupan baru yang bebas dari bayang-bayang masa lalu. Hidup bahagia, anak-anakku. Kalian pantas mendapatkan semua kebahagiaan di dunia."
Tepuk tangan memenuhi tenda. Banyak yang mengelap air mata, termasuk Bima dan Sari sendiri.
Gubernur yang datang sebagai tamu kehormatan juga memberikan ucapan. "Apa yang dilakukan Bima dan timnya adalah contoh luar biasa dari keadilan transisional. Mengakui kesalahan masa lalu, memberikan kompensasi pada korban, dan memastikan sejarah tidak terulang. Pemerintah provinsi bangga mendukung karya mereka dan akan terus mendukung ke depannya."
Sore harinya, setelah acara resmi selesai dan sebagian besar tamu pulang, Bima dan Sari berjalan berdua ke pemakaman yang sudah menjadi tempat mereka sering berkunjungi. Mereka masih mengenakan pakaian pengantin, ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka yang sudah pergi.