Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #32

UNDANGAN MISTERIUS

Dua bulan setelah pernikahan, kehidupan Bima dan Sari mulai memasuki ritme yang lebih tenang. Mereka tinggal di rumah kecil yang dibangun di samping Rumah Harapan, cukup dekat untuk mengawasi operasional tapi cukup jauh untuk punya privasi. Setiap pagi mereka sarapan bersama sambil membahas agenda hari itu, dan setiap malam mereka makan malam bersama tim di Rumah Harapan.


Pagi itu Bima sedang memeriksa email di laptopnya sambil menyeruput kopi ketika sebuah email dengan subjek aneh menarik perhatiannya: "UNDANGAN KHUSUS - PERTEMUAN NASIONAL PARANORMAL DAN INVESTIGATOR SUPERNATURAL."


"Sari, lihat ini," panggilnya sambil memutar laptop agar Sari yang sedang menyiapkan sarapan bisa melihat.


Sari membaca email itu dengan alis berkerut. "Pertemuan Nasional Paranormal? Aku tidak pernah dengar acara seperti ini sebelumnya."


Email itu dikirim oleh seseorang bernama Profesor Arman Wibisono dari Universitas Gadjah Mada, mengundang Bima dan Sari untuk menghadiri pertemuan rahasia yang akan diadakan di Yogyakarta minggu depan. Pertemuan ini diklaim akan dihadiri oleh paranormal, dukun, pendeta, ustadz, dan berbagai praktisi spiritual terkemuka dari seluruh Indonesia.


"Tujuan pertemuan ini," tulis email tersebut, "adalah untuk membahas fenomena supernatural yang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan bagaimana menanganinya secara terkoordinasi. Kehadiran Anda sangat penting mengingat pencapaian luar biasa Anda dalam menangani kasus-kasus spiritual yang kompleks."


Di bagian bawah email ada nomor telepon untuk konfirmasi. Bima langsung menelepon nomor tersebut.


"Halo, Profesor Arman?" tanya Bima setelah sambungan tersambung.


"Ya, ini saya. Bima Suryono?" suara di seberang terdengar tua tapi tegas.


"Benar, Pak. Saya menerima email tentang pertemuan nasional. Boleh saya tahu lebih detail tentang ini?"


"Tentu. Ini pertemuan pertama dari jenisnya di Indonesia. Kami mengumpulkan para praktisi spiritual terbaik karena ada pola yang mengkhawatirkan. Dalam dua tahun terakhir, kasus-kasus gangguan supernatural meningkat hampir tiga kali lipat di seluruh Indonesia. Bukan hanya kasus individual, tapi juga kasus massal yang melibatkan puluhan orang sekaligus."


Bima merasakan firasat tidak enak. "Apa Profesor punya teori kenapa ini terjadi?"


"Beberapa. Tapi terlalu kompleks untuk dijelaskan lewat telepon. Karena itu kami mengadakan pertemuan ini. Kami butuh berbagai perspektif dan pengalaman untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi."


"Siapa saja yang akan hadir?"


"Lebih dari lima puluh praktisi spiritual dari berbagai tradisi. Termasuk beberapa yang pernah bekerja sama dengan Anda - Eyang Suryo, Mbah Kyai, Romo Benedictus, dan lainnya. Ini akan jadi gathering terbesar para praktisi spiritual dalam sejarah modern Indonesia."


Bima melirik Sari yang mengangguk, memberi sinyal bahwa mereka harus datang. "Baik, Pak. Kami akan hadir."


"Bagus. Saya kirim detail lengkap melalui email. Oh, dan Bima, satu hal lagi. Pertemuan ini sangat rahasia. Jangan beritahu siapa pun yang tidak perlu tahu. Ada alasan kenapa kami tidak mempublikasikan ini."


"Alasan apa, Pak?"


"Karena kami tidak ingin menimbulkan kepanikan publik. Situasinya... lebih serius dari yang bisa dibayangkan orang awam."


Telepon terputus, meninggalkan Bima dengan perasaan was-was yang semakin kuat.


Seminggu berlalu dengan cepat. Bima dan Sari mengatur operasional Rumah Harapan dan yayasan agar bisa berjalan tanpa mereka selama beberapa hari. Adi dan Ratih akan mengkoordinir sementara mereka pergi.


"Kalian yakin tidak mau kami ikut?" tanya Adi saat mengantar mereka ke stasiun kereta.


"Ini pertemuan khusus untuk praktisi spiritual," jawab Sari. "Lagipula kami butuh kalian di sini menjaga semuanya."


"Baiklah. Tapi kalau ada masalah, langsung kabari ya."


Perjalanan ke Yogyakarta memakan waktu lima jam dengan kereta. Sepanjang perjalanan Bima dan Sari membahas berbagai kemungkinan tentang pertemuan ini.


"Menurutmu kenapa kasus supernatural meningkat drastis?" tanya Sari sambil menatap pemandangan sawah yang berlalu di luar jendela.


"Aku tidak tahu. Mungkin karena lebih banyak orang yang berani melaporkan sekarang? Atau mungkin ada faktor lain yang belum kita pahami."


"Atau mungkin ada yang sengaja membangkitkan kekuatan-kekuatan gelap," kata Sari dengan nada serius. "Seperti ritual-ritual yang dilakukan keluargamu dulu, tapi dalam skala yang lebih besar."


Bima tidak suka kemungkinan itu, tapi dia tidak bisa menyangkal bahwa itu masuk akal.


Mereka tiba di Yogyakarta sore hari dan langsung menuju alamat yang diberikan Profesor Arman - sebuah pendopo besar di dalam kampus UGM yang biasanya digunakan untuk acara-acara akademis. Tapi hari ini pendopo itu dijaga ketat dengan security yang memeriksa undangan dengan teliti.


Di dalam pendopo, Bima dan Sari kagum melihat begitu banyak orang yang sudah berkumpul. Ada wajah-wajah yang mereka kenal - Eyang Suryo, Mbah Kyai, Romo Benedictus, Ni Ketut - dan puluhan wajah lain yang asing tapi jelas memancarkan aura spiritual yang kuat.


"Bima! Sari!" Eyang Suryo melambaikan tangan dari sudut ruangan. Mereka mendekat dan disambut hangat.

Lihat selengkapnya