Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #33

INVESTIGASI DIMULAI

Kembali di Desa Merah Delima, Bima dan Sari langsung mengadakan rapat darurat dengan tim inti yayasan. Adi, Ratih, Pak Marjo, Bu Tini, dan beberapa koordinator regional berkumpul di ruang meeting Rumah Harapan.


"Ada perkembangan serius yang perlu kalian ketahui," mulai Bima sambil menampilkan data yang diberikan Profesor Arman di proyektor. "Kasus gangguan supernatural meningkat drastis di seluruh Indonesia. Dan ada indikasi bahwa ini bukan fenomena natural."


Dia menjelaskan detail pertemuan di Yogyakarta, teori tentang Maha Ritual Kegelapan, dan tugas investigasi yang diberikan kepada mereka.


Wajah semua orang di ruangan berubah serius. Adi yang biasanya santai kini terlihat tegang. "Jadi kita berbicara tentang kemungkinan konspirasi nasional untuk membuka gerbang antara dunia?"


"Tepatnya itu teori terburuk," jawab Sari. "Tapi dengan peningkatan kasus yang terjadi, kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan itu."


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ratih.


"Investigasi," jawab Bima. "Kita mulai dengan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mencari lokasi-lokasi dengan sejarah kelam yang belum dibersihkan. Mewawancarai praktisi spiritual lokal tentang aktivitas mencurigakan. Dan yang paling penting, mencari tahu apa ada kelompok atau organisasi yang aktif melakukan ritual di berbagai tempat."


"Itu pekerjaan besar," kata Pak Marjo. "Jawa Tengah dan Jawa Timur itu area yang sangat luas."


"Karena itu kita perlu sistem yang terorganisir," kata Bima sambil membuka laptop. "Aku sudah buat database dari informasi yang dikumpulkan Profesor Arman. Ada sekitar tiga puluh lima lokasi di wilayah kita yang teridentifikasi punya peningkatan aktivitas supernatural signifikan dalam setahun terakhir."


Dia menampilkan peta dengan titik-titik merah tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


"Kita bagi jadi beberapa cluster," lanjut Bima. "Cluster pertama di sekitar Semarang dan sekitarnya, ada delapan lokasi. Cluster kedua di Solo dan Yogyakarta, sepuluh lokasi. Cluster ketiga di Surabaya dan Malang, sembilan lokasi. Dan cluster terakhir di daerah pedalaman seperti Pacitan, Trenggalek, ada delapan lokasi."


"Bagaimana kita investigasi semuanya?" tanya Adi. "Kita tidak punya cukup orang."


"Kita rekrut tim tambahan," jawab Ratih. "Mahasiswa dari berbagai universitas yang tertarik dengan penelitian supernatural. Jurnalis investigatif yang pernah kerja sama dengan kita. Dan paranormal lokal yang bisa dipercaya."


"Aku bisa koordinir rekrutmen," tawarkan Bu Tini. "Aku punya kontak di beberapa universitas dan organisasi mahasiswa."


"Bagus," kata Bima. "Tapi kita harus sangat selektif. Profesor Arman menekankan bahwa investigasi ini harus rahasia. Kita tidak mau memicu kepanikan publik atau memberi peringatan pada pihak yang mungkin terlibat dalam konspirasi."


Mereka menghabiskan tiga jam berikutnya merancang strategi detail. Membagi tim, menentukan prioritas lokasi, menyiapkan protokol keamanan, dan membuat sistem pelaporan terkoordinasi.


"Satu hal lagi yang penting," kata Sari. "Kita harus berhati-hati. Kalau memang ada organisasi besar di balik ini, mereka pasti punya mata dan telinga di mana-mana. Kita tidak boleh terlalu mencolok dalam investigasi."


"Kita bisa menyamar sebagai peneliti akademis," usul Adi. "Bilang sedang riset untuk tesis atau penelitian tentang kepercayaan lokal. Itu tidak akan terlalu mencurigakan."


"Ide bagus," setuju Bima. "Ratih, bisakah kau urus surat-surat resmi dari universitas atau lembaga penelitian yang bisa kita gunakan sebagai cover?"


"Bisa. Aku punya teman di beberapa universitas yang bisa bantu."


Minggu berikutnya, tim sudah terbentuk. Lima puluh orang terdiri dari mahasiswa, peneliti muda, jurnalis, dan beberapa paranormal lokal yang bisa dipercaya. Mereka dibagi menjadi sepuluh kelompok, masing-masing terdiri dari lima orang dengan komposisi seimbang: satu paranormal, satu peneliti/akademisi, satu jurnalis, dan dua asisten lapangan.


Bima dan Sari memimpin kelompok yang akan investigasi cluster Semarang - dianggap paling prioritas karena beberapa laporan tentang aktivitas kultus yang mencurigakan di daerah itu.


Hari pertama investigasi, mereka mengunjungi sebuah bekas penjara Jepang di pinggiran Semarang. Bangunan tua yang sudah tidak terpakai sejak tahun lima puluhan, sekarang hanya reruntuhan yang ditumbuhi tanaman liar.


"Menurut data, ada peningkatan laporan penampakan dan gangguan supernatural di radius satu kilometer dari lokasi ini," kata Adi sambil memeriksa tablet-nya yang berisi database. "Tiga bulan lalu hanya dua laporan per bulan. Bulan lalu jadi sepuluh laporan. Dan bulan ini sudah lima belas laporan padahal baru pertengahan bulan."


"Peningkatan hampir sepuluh kali lipat dalam tiga bulan," gumam Bima. "Itu sangat drastis."


Mereka memasuki area bekas penjara dengan hati-hati. Sari langsung merasakan energi yang sangat kuat - jauh lebih kuat dari yang seharusnya untuk lokasi yang sudah ditinggalkan puluhan tahun.


"Ada sesuatu yang tidak beres di sini," bisiknya pada Bima. "Energi negatifnya seperti baru saja diperkuat. Seperti ada yang melakukan ritual di sini tidak lama lalu."


Mereka menjelajahi lebih dalam dan menemukan bukti yang memperkuat perasaan Sari. Di salah satu ruangan bekas sel tahanan, ada bekas-bekas lilin yang masih relatif baru. Ada simbol-simbol yang digambar dengan sesuatu yang berwarna merah gelap - kemungkinan besar darah - di dinding dan lantai.


"Ini simbol apa?" tanya salah satu asisten lapangan sambil memotret simbol tersebut.


Bima memeriksa dengan seksama. Dia mengenali beberapa elemen dari berbagai tradisi sihir hitam yang pernah dipelajarinya. "Ini campuran. Ada elemen dari ilmu hitam Jawa, ada juga dari tradisi okultisme Barat. Seperti... seperti fusion ritual."

Lihat selengkapnya