Dua minggu setelah menemukan hubungan dengan Darius Hartanto, Adi menghabiskan hampir seluruh waktunya di depan komputer. Dia merekrut tiga peretas beretika yang pernah bekerja sama dengannya dalam proyek-proyek keamanan digital untuk membantu penyelidikan.
Malam itu, sekitar pukul dua dini hari, Adi masih terjaga di ruang peladen yang dibuat seadanya di Rumah Harapan. Layar-layar komputer menyala terang menampilkan berbagai kode dan data. Di sampingnya, dua rekannya - Raka dan Dewi - juga sibuk mengetik dengan cepat.
"Aku berhasil masuk," bisik Raka tiba-tiba dengan nada bersemangat. "Aku berhasil menembus dinding api peladen surel PT Nusantara Abadi Sejahtera."
"Bagus," kata Adi sambil bergerak ke komputer Raka. "Tapi hati-hati. Jangan tinggalkan jejak. Dan jangan unduh apapun. Kita hanya melihat dan mengambil tangkapan layar."
"Aku tahu tata caranya," jawab Raka sambil mulai membuka surel-surel yang tersimpan di peladen. "Wah, ini banyak sekali. Ada ratusan ribu surel."
"Saring dengan kata kunci tertentu," perintah Adi sambil memberikan daftar kata kunci yang relevan: ritual, spiritual, gaib, dan beberapa istilah teknis ilmu kebatinan yang mereka pelajari dari paranormal.
Sistem penyaringan bekerja dan mengurangi jumlah surel menjadi sekitar tiga ratus. Masih banyak, tapi jauh lebih dapat ditangani.
"Mulai dari yang paling baru," kata Dewi yang ikut memeriksa dari komputernya.
Surel pertama yang menarik perhatian mereka dikirim seminggu lalu dari alamat yang terenkripsi ke akun pribadi seseorang yang namanya familiar: Darius Hartanto.
"Perihal: Laporan Kemajuan - Tahap Kedua," baca Raka. "Isi surelnya... ya ampun, ini memakai sandi."
Memang, surel tersebut ditulis dengan sandi yang tidak langsung bisa dibaca. Tapi Adi yang sudah terbiasa dengan ilmu penyandian bisa mengenali pola dasarnya.
"Ini sandi penggantian sederhana tapi dengan lapisan tambahan," analisisnya. "Beri aku lima menit."
Dia membuka perangkat lunak pemecah sandi dan mulai bekerja. Dengan kombinasi pengenalan pola dan beberapa asumsi berdasarkan konteks, dia berhasil memecahkan sandi surel tersebut.
Isi surel membuat mereka semua terdiam:
"Kepada Yang Mulia,
Tahap Kedua telah mencapai penyelesaian 68 persen. Dari seratus lokasi sasaran, 68 sudah siap dengan titik jangkar yang stabil. Sisanya 32 lokasi sedang dalam persiapan akhir dan diperkirakan selesai dalam enam minggu.
Beberapa masalah kecil:
Lokasi J27 (Semarang) mengalami gangguan dari pihak luar. Ada kelompok yang melakukan penyelidikan. Sudah ditangani dengan pengawasan dan tindakan pencegahan terbatas.
Lokasi J15 (Solo) mengalami ketidakstabilan energi. Tim spiritual sedang melakukan ritual penguatan.
Untuk Penyatuan Agung yang dijadwalkan tanggal 17 Agustus, semua persiapan sesuai rencana. Perkiraan kami bisa melaksanakan sesuai garis waktu.
Hormat kami,
Dewan Tujuh Serangkai"
"Tanggal 17 Agustus," bisik Dewi dengan ngeri. "Itu tiga bulan lagi."
"Dan itu Hari Kemerdekaan Indonesia," tambah Raka. "Mereka merencanakan sesuatu di hari yang sangat berarti."
Adi langsung mengambil tangkapan layar surel tersebut dan menyimpannya di penyimpanan tersandi. "Kita perlu cari lebih banyak surel dari 'Dewan Tujuh Serangkai' ini. Mereka sepertinya lingkaran dalam yang melaksanakan rencana Darius."
Mereka terus menggali dan menemukan surel-surel lain yang semakin mengkhawatirkan. Ada pembahasan tentang "pemanenan energi" dari lokasi-lokasi bersejarah. Ada perhitungan matematis rumit tentang "penipisan penghalang dimensi". Ada bahkan rancangan ritual dengan rincian langkah-langkahnya.
Yang paling mengerikan adalah surel yang dikirim dua bulan lalu dengan lampiran berupa berkas PDF berjudul "Rancangan Agung: Menyatukan Alam untuk Tatanan Dunia Baru."
Berkas itu panjangnya empat puluh tujuh halaman, menjelaskan rinci falsafah, tata cara, dan tujuan akhir dari rencana mereka.
Adi membacanya dengan perasaan semakin tercekam. "Kalian harus baca ini. Ini gila."
Mereka bertiga membaca berkas bersama-sama. Intinya:
Rancangan Agung adalah rencana untuk secara permanen menipiskan batas antara dunia fisik dan dunia spiritual, memungkinkan energi dan makhluk dari dimensi lain untuk masuk ke dunia manusia. Tujuannya bukan untuk menghancurkan dunia, tapi untuk "evolusi umat manusia ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi."
Menurut berkas itu, umat manusia sudah terlalu lama terpisah dari "kekuatan spiritual sejati." Dengan membuka gerbang, manusia akan mendapat akses ke pengetahuan dan kekuatan yang selama ini tersembunyi. Mereka yang "layak" akan mendapat kekuatan luar biasa dan menjadi pemimpin dunia baru. Yang tidak layak akan... berkas tidak menjelaskan rinci, tapi tersirat bahwa nasib mereka tidak bagus.
"Ini aliran sesat," kata Dewi dengan yakin. "Aliran sesat kiamat yang percaya mereka melakukan sesuatu yang mulia padahal sebenarnya akan menghancurkan dunia."
"Atau mereka tahu persis akibatnya dan tidak peduli," kata Raka. "Karena mereka yakin mereka akan jadi penguasa di 'dunia baru' itu."
Adi terus membaca. Ada bagian yang menjelaskan susunan organisasi:
Sang Arsitek: Darius Hartanto sendiri, yang merancang seluruh rencana