Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #35

PENGKHIANATAN DAN KEBENARAN

Bima dan Sari berdiri terpaku menatap Pak Bambang yang sekarang terlihat jauh lebih tua dari terakhir kali mereka bertemu setahun lalu. Rambutnya sudah sepenuhnya putih, wajahnya penuh kerutan dalam, dan mata yang dulu tajam kini terlihat lelah dan penuh penyesalan.


"Pak Bambang," kata Bima akhirnya setelah menemukan suaranya. "Bapak bilang dulunya bagian dari Dewan Tujuh Serangkai?"


"Duduklah dulu," Pak Bambang menunjuk bangku di gazebo. "Ini cerita panjang dan kita tidak punya banyak waktu."


Mereka duduk dengan waspada, Sari sudah bersiap secara spiritual kalau ini ternyata jebakan. Tapi energi yang dia rasakan dari Pak Bambang tidak berbahaya - hanya sedih, lelah, dan penuh penyesalan.


"Aku akan langsung ke inti," mulai Pak Bambang. "Ya, aku dulunya bagian dari Dewan Tujuh Serangkai. Aku bergabung lima tahun lalu, direkrut oleh Darius Hartanto sendiri. Waktu itu aku masih menjabat sebagai pejabat tinggi di pemerintahan. Darius menawariku kekuasaan, pengetahuan spiritual tingkat tinggi, dan tempat di 'dunia baru' yang akan diciptakan."


Dia terdiam sejenak, menatap laut yang bergelombang.


"Awalnya aku pikir ini hanya perkumpulan spiritual elite. Seperti freemason atau illuminati di versi Indonesia. Aku tidak tahu mereka serius dengan rencana untuk membuka gerbang antar dimensi. Aku pikir itu hanya simbolis, metaforis."


"Kapan Bapak menyadari mereka serius?" tanya Sari.


"Dua tahun lalu. Saat pertemuan Dewan di markas rahasia mereka. Darius menunjukkan demonstrasi kekuatan yang dia kumpulkan dari ritual-ritual di berbagai lokasi. Dia... dia memanggil sesuatu. Makhluk dari dimensi lain. Dan makhluk itu nyata. Sangat nyata. Dan sangat mengerikan."


Pak Bambang bergidik mengingat kejadian itu.


"Aku melihat makhluk itu membunuh seseorang - seorang anggota yang mencoba keluar dari Dewan. Membunuhnya dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Tubuhnya... hancur dari dalam. Seperti ada sesuatu yang memakan jiwa dan tubuhnya dari dalam secara bersamaan. Dia berteriak selama lima menit penuh sebelum akhirnya mati. Dan sepanjang itu, Darius hanya berdiri dan tersenyum."


"Kenapa Bapak tidak keluar saat itu juga?" tanya Bima.


"Karena aku takut. Aku melihat apa yang terjadi pada yang mencoba keluar. Dan Darius bilang dengan jelas: sekali kau masuk Dewan, satu-satunya jalan keluar adalah kematian. Jadi aku bertahan, berharap bisa menemukan cara untuk menghentikan mereka dari dalam."


"Apa yang membuat Bapak akhirnya keluar enam bulan lalu?"


Pak Bambang mengeluarkan foto dari sakunya. Foto seorang gadis muda yang tersenyum manis. "Cucuku. Dia baru berusia tujuh belas tahun. Enam bulan lalu, Darius mengatakan bahwa untuk Penyatuan Agung berhasil sepenuhnya, mereka butuh 'pengorbanan suci' - seratus orang yang tidak bersalah, murni, untuk dijadikan jangkar energi permanen."


Bima dan Sari tersentak.


"Dan dia sudah punya daftar orang-orang yang akan 'dikorbankan'. Termasuk cucuku. Termasuk anak-anak dari keluarga para anggota Dewan yang tidak sepenuhnya loyal. Sebagai cara untuk mengikat loyalitas kami - kalau anak cucu kami sudah jadi bagian dari ritual, kami tidak punya pilihan selain memastikan ritual berhasil agar 'pengorbanan mereka tidak sia-sia'."


"Ya Tuhan," bisik Sari dengan ngeri.


"Itu saat aku tahu aku harus keluar dan menghentikan mereka, apapun resikonya. Aku tidak peduli dengan nyawaku sendiri. Tapi aku tidak bisa membiarkan cucuku dan anak-anak tidak bersalah lainnya mati untuk ambisi gila Darius."


"Bagaimana Bapak bisa keluar kalau satu-satunya jalan keluar adalah kematian?"


"Aku berpura-pura mati. Aku punya teman di rumah sakit yang membantuku membuat sertifikat kematian palsu. Aku 'meninggal' karena serangan jantung mendadak. Ada upacara pemakaman dan semuanya. Tapi tubuh di peti mati itu bukan aku - hanya boneka yang dibuat menyerupai aku. Sejak itu aku hidup sembunyi, menggunakan identitas palsu, menghindari semua orang yang mengenalku."


"Tapi kenapa Dewan tidak curiga?"


"Karena serangan jantung memang masuk akal untuk orang seusiaku dengan tekanan kerja yang tinggi. Dan karena salah satu anggota Dewan lain - dokter pribadi Darius - yang 'memeriksa' tubuhku dan menyatakan aku mati. Dia tidak tahu itu boneka karena pemeriksaan dilakukan sangat cepat dan aku sudah menyuap beberapa orang di rumah sakit untuk memastikan tidak ada autopsi menyeluruh."


"Berarti ada anggota Dewan lain yang membantu Bapak?"


Pak Bambang menggeleng. "Tidak. Aku melakukan semuanya sendiri. Dokter itu aku manipulasi dengan berbagai cara. Dia tidak tahu aku masih hidup."


Bima memikirkan cerita ini dengan seksama. Ada yang masuk akal tapi juga ada yang terasa janggal. Tapi untuk saat ini, dia memutuskan untuk terus mendengarkan.


"Baiklah, Pak. Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya akan terjadi kalau Penyatuan Agung berhasil. Apa yang tidak ada di berkas resmi mereka?"


Pak Bambang menarik napas dalam. "Berkas resmi mengatakan akan ada 'evolusi kesadaran manusia' dan mereka yang layak akan dapat kekuatan besar. Itu tidak sepenuhnya bohong, tapi itu bukan keseluruhan cerita."


"Kebenaran yang lengkap adalah: kalau gerbang antar dimensi terbuka sepenuhnya, memang akan ada aliran energi spiritual yang sangat besar masuk ke dunia kita. Dan memang beberapa orang - yang sudah dipersiapkan secara spiritual seperti Darius dan anggota Dewan - akan mendapat kekuatan luar biasa."


"Tapi ada harga yang harus dibayar. Gerbang yang terbuka itu tidak bisa ditutup lagi. Dan energi yang masuk itu bukan hanya energi netral atau positif. Itu campuran dari semua jenis energi spiritual - termasuk yang sangat gelap dan berbahaya."


"Makhluk-makhluk dari dimensi lain akan bisa masuk dengan bebas. Arwah-arwah yang seharusnya di alam lain akan berkeliaran di dunia manusia. Dan yang paling mengerikan, batas antara hidup dan mati akan menjadi kabur. Orang yang meninggal tidak akan bisa beristirahat dengan tenang. Arwah mereka akan terjebak di antara dua dunia, menderita tanpa akhir."


"Dalam hitungan bulan setelah Penyatuan Agung, akan ada kekacauan massal. Kerasukan massal, penampakan dimana-mana, orang-orang kehilangan kewarasan karena dibombardir oleh energi spiritual yang tidak bisa mereka tangani. Sistem sosial akan runtuh. Peradaban seperti yang kita kenal akan berakhir."


"Dan di tengah kekacauan itu, Darius dan orang-orang yang dia pilih akan bangkit sebagai penguasa baru. Mereka yang punya kekuatan untuk mengendalikan energi spiritual akan jadi dewa-dewa di dunia yang hancur. Mereka akan membangun tatanan baru di atas penderitaan miliaran orang."


Keheningan berat menyelimuti mereka. Gambaran masa depan yang dijelaskan Pak Bambang terlalu mengerikan untuk dibayangkan.

Lihat selengkapnya