Dua bulan menjelang 17 Agustus, Rumah Harapan berubah menjadi pusat komando untuk operasi terbesar yang pernah dilakukan jaringan spiritual Indonesia. Ruang-ruang yang biasanya digunakan untuk kegiatan masyarakat kini dipenuhi peta, dokumen, peralatan spiritual, dan orang-orang yang sibuk berkoordinasi.
Bima berdiri di depan papan besar yang penuh dengan foto, catatan, dan garis-garis yang menghubungkan berbagai informasi. Di sampingnya, Profesor Arman menunjuk beberapa titik penting.
"Dari penyelidikan dua minggu terakhir, kami mengidentifikasi sembilan puluh tiga kasus kehilangan anak yang mencurigakan dalam enam bulan terakhir," lapor Profesor Arman. "Semua anak berusia antara lima belas hingga dua puluh tahun. Semua berasal dari keluarga yang punya koneksi - meski tipis - dengan anggota organisasi Darius."
"Sembilan puluh tiga," gumam Bima. "Berarti masih kurang tujuh dari seratus yang disebutkan Pak Bambang."
"Mungkin tujuh anak terakhir akan diambil menjelang ritual. Atau mungkin mereka sudah mengubah angkanya," kata Sari yang ikut mengamati papan.
"Pertanyaannya sekarang, di mana mereka menyimpan anak-anak itu?" kata Ratih sambil menandai beberapa lokasi di peta. "Kami sudah menelusuri semua properti yang dimiliki Darius dan perusahaan-perusahaannya. Ada ratusan gedung, gudang, bahkan pulau-pulau pribadi. Terlalu banyak untuk diperiksa satu per satu."
"Logikanya, mereka menyimpan anak-anak di lokasi yang aman dan terisolasi," kata Adi sambil mengetik di laptopnya. "Tempat yang tidak mudah ditemukan tapi cukup besar untuk menampung seratus orang. Dan kemungkinan besar di dekat Pulau Sembunyi agar mudah dipindahkan saat ritual."
Dia menampilkan peta kepulauan Seribu di layar proyektor. "Ada tiga pulau milik Darius di area ini selain Pulau Sembunyi. Dua pulau kecil yang tidak berpenghuni, dan satu pulau sedang yang punya kompleks bangunan."
"Pulau yang mana?" tanya Bima.
"Pulau Mutiara. Secara resmi itu resort mewah pribadi. Tapi aku cek data satelit, tidak ada aktivitas resort normal di sana. Tidak ada pergerakan kapal wisata, tidak ada tamu yang datang pergi. Yang ada adalah kapal-kapal kargo yang datang teratur seminggu sekali membawa persediaan. Terlalu banyak persediaan untuk hanya beberapa staf pemeliharaan."
"Berapa jauh dari Pulau Sembunyi?"
"Lima kilometer. Sekitar sepuluh menit dengan kapal cepat."
Bima menatap peta dengan saksama. "Kita perlu memastikan. Kalau anak-anak memang di sana, kita harus menyelamatkan mereka sebelum atau bersamaan dengan misi ke Pulau Sembunyi."
"Itu artinya kita perlu dua tim," kata Eyang Suryo yang baru masuk ruangan. "Tim utama ke Pulau Sembunyi untuk menghancurkan Jantung Ritual. Tim kedua ke Pulau Mutiara untuk menyelamatkan anak-anak."
"Kita tidak punya cukup orang untuk dua misi sekaligus," kata Mbah Kyai. "Paranormal kuat yang bisa kita andalkan hanya lima belas orang. Kalau dibagi dua, masing-masing tim akan terlalu lemah."
"Kalau begitu kita lakukan berurutan," usul Bima. "Tim kecil dulu ke Pulau Mutiara untuk penyelamatan. Setelah anak-anak aman, seluruh tim gabung untuk serangan ke Pulau Sembunyi."
"Itu akan memberi peringatan pada Darius," kata Sari. "Begitu kita serang Pulau Mutiara, dia akan tahu ada yang mencoba menggagalkan rencananya. Dia akan meningkatkan keamanan di Pulau Sembunyi."
"Atau dia akan mempercepat ritual," tambah Profesor Arman. "Melakukan Penyatuan Agung sebelum 17 Agustus."
Bima memijat pelipisnya yang mulai pusing. Setiap solusi punya resikonya sendiri. Tidak ada pilihan yang sempurna.
"Apa kita bisa melakukan serangan simultan?" tanya Ratih. "Dua tim menyerang di waktu yang sama. Tim penyelamatan di Pulau Mutiara, tim utama di Pulau Sembunyi. Dengan begitu Darius tidak punya waktu bereaksi."
"Itu membutuhkan koordinasi yang sangat presisi," kata Adi. "Dan kita perlu lebih banyak orang. Minimal dua puluh lima orang untuk dua tim yang efektif."
"Kita rekrut lebih banyak?" usul salah satu anggota tim.
"Tidak ada waktu untuk melatih orang baru," kata Eyang Suryo. "Menghadapi kekuatan spiritual sebesar ini butuh pengalaman bertahun-tahun. Orang yang tidak siap hanya akan jadi beban atau bahkan korban."
Mereka terjebak dalam kebuntuan strategi. Setiap rencana punya kelemahan fatal. Dan waktu terus berjalan - sekarang tinggal lima puluh hari menjelang 17 Agustus.
Tiba-tiba ponsel Bima berdering. Nomor tidak dikenal. Dia ragu sejenak tapi akhirnya mengangkat.
"Halo?"
"Bima Suryono?" suara wanita muda di seberang terdengar tegang. "Namaku Anindya. Aku putri Pak Bambang yang asli - yang masih hidup."
Bima terkejut. "Putri Pak Bambang?"
"Ayahku menyuruhku menghubungimu kalau ada keadaan darurat. Dan sekarang darurat. Mereka menemukan ayahku. Dewan Tujuh Serangkai tahu dia masih hidup. Dan mereka memburu kami."
"Kalian di mana sekarang?"
"Kami kabur dari Jakarta pagi tadi. Sekarang di Bandung, bersembunyi di rumah teman lama ayah. Tapi aku tidak tahu berapa lama kita aman. Mereka punya orang di mana-mana."
"Kenapa kau menghubungiku?"
"Karena ayah bilang kau satu-satunya harapan untuk menghentikan Darius. Dan karena ayah punya sesuatu yang harus diserahkan padamu - sesuatu yang sangat penting tapi tidak bisa dia berikan saat pertemuan di Bali karena terlalu berbahaya dibawa kemana-mana."
"Apa itu?"
"Peta lengkap kompleks bawah tanah Pulau Sembunyi. Termasuk lokasi Jantung Ritual, jalur masuk rahasia, titik keamanan, dan jadwal rotasi penjaga. Ayah mencurinya sebelum dia pura-pura mati."
Bima merasakan harapan menyala. Informasi itu sangat berharga - bisa membuat perbedaan antara misi bunuh diri dan misi yang punya peluang sukses wajar.