Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #37

RENCANA TERAKHIR

Tiga minggu menjelang 17 Agustus, Rumah Harapan tidak pernah seramai dan setegang ini. Dengan peta lengkap dari Pak Bambang yang sudah meninggal, tim bisa merencanakan serangan dengan jauh lebih detail. Tapi setiap rincian yang mereka tambahkan juga menunjukkan betapa berbahayanya misi ini.


Bima berdiri di depan ruang rapat yang penuh sesak. Dua puluh lima orang berkumpul - semua praktisi spiritual terkuat dari jaringan nasional, plus beberapa ahli teknis seperti Adi dan Ratih, serta Anindya yang sekarang jadi konsultan dalam tentang Dewan.


"Berdasarkan peta dan informasi dari Anindya, inilah rencana final kita," kata Bima sambil menampilkan diagram di layar proyektor.


"Tanggal 17 Agustus, jam lima sore, ritual Penyatuan Agung akan dimulai. Darius dan semua anggota Dewan akan berkumpul di ruang ritual utama di tingkat paling bawah kompleks Pulau Sembunyi. Mereka akan memimpin ritual yang menghubungkan seratus lokasi jangkar di seluruh Indonesia."


"Ritual akan berlangsung tiga jam - dari jam lima sore hingga jam delapan malam. Pada puncak ritual di jam delapan malam tepat, mereka akan mengaktifkan Jantung Ritual untuk membuka gerbang antar dimensi secara permanen."


Dia berhenti sejenak, membiarkan informasi itu meresap.


"Kita punya jendela waktu dari jam lima sore hingga jam delapan malam untuk menghentikan mereka. Setelah jam delapan, kalau Jantung Ritual sudah aktif penuh, akan sangat sulit - mungkin tidak mungkin - untuk menghentikan prosesnya."


"Jadi kita punya tiga jam," kata Eyang Suryo. "Itu tidak banyak waktu untuk menyusup masuk, melewati semua keamanan, sampai ke tingkat paling bawah, dan menghancurkan Jantung Ritual."


"Benar. Karena itu kita tidak bisa hanya satu tim. Kita akan membagi menjadi tiga kelompok dengan tugas berbeda."


Bima menampilkan diagram yang menunjukkan tiga jalur berbeda.


"Kelompok Pertama - Tim Penyelamatan. Dipimpin oleh Ratih dengan enam orang. Tugas kalian: serang Pulau Mutiara tepat jam lima sore, selamatkan anak-anak yang ditahan di sana, dan bawa mereka ke kapal yang sudah disiapkan untuk evakuasi ke daratan."


Ratih mengangguk tegas. Dia mungkin tidak punya kemampuan spiritual, tapi dia punya keberanian dan kecerdasan taktis yang tajam.


"Kelompok Kedua - Tim Gangguan. Dipimpin oleh Mbah Kyai dengan delapan orang. Tugas kalian: masuk Pulau Sembunyi dari pintu utama dengan cara frontal dan keras. Buat kegaduhan sebanyak mungkin. Tarik perhatian semua pengawal - baik manusia maupun spiritual - ke arah kalian. Bertahan selama mungkin untuk memberi waktu Tim Inti."


Mbah Kyai tersenyum tipis. "Kami akan membuat kegaduhan yang tidak akan mereka lupakan."


"Kelompok Ketiga - Tim Inti. Dipimpin olehku dengan sepuluh orang termasuk Sari, Eyang Suryo, dan Adi. Tugas kita: masuk lewat terowongan bawah air saat Tim Gangguan sudah menarik perhatian. Turun ke tingkat paling bawah. Menghancurkan Jantung Ritual. Dan kalau memungkinkan, menghadapi Darius dan Dewan secara langsung."


"Kenapa Adi ikut Tim Inti?" tanya seseorang. "Dia tidak punya kemampuan spiritual."


"Karena Jantung Ritual bukan hanya artefak gaib," jawab Adi sambil menampilkan foto yang berhasil dia dapat dari pencurian data sebelumnya. "Ini juga teknologi. Lihat ini - ada komponen elektronik yang terintegrasi dengan artefak mistis. Semacam gabungan sihir dan ilmu pengetahuan. Untuk benar-benar menghancurkannya, kita tidak hanya butuh kekuatan spiritual tapi juga pemahaman teknis."


"Dan aku akan membantu membuka pintu-pintu elektronik yang tidak bisa dibuka hanya dengan sihir," tambahnya.


"Baiklah," kata Romo Benedictus. "Tapi apa yang terjadi setelah Jantung Ritual hancur? Kita masih harus menghadapi Darius dan enam anggota Dewan lainnya."


"Menurut penjelasan ayahku," kata Anindya yang duduk di pojok ruangan, "kalau Jantung Ritual hancur saat ritual sedang berlangsung, akan ada efek balik yang sangat kuat. Semua energi yang sudah dikumpulkan dari seratus lokasi akan meledak tidak terkendali. Dalam kekacauan itu, kekuatan Darius dan Dewan akan sangat berkurang - setidaknya untuk beberapa menit."


"Itu kesempatan kita," kata Bima. "Dalam jendela waktu saat mereka lemah, kita serang dengan segala yang kita punya. Tidak untuk membunuh - kita bukan pembunuh - tapi untuk melumpuhkan mereka cukup lama hingga kita bisa keluar dan menyerahkan mereka ke pihak berwajib."


"Asumsi kita bisa keluar hidup-hidup," gumam Ni Ketut.


Keheningan berat mengisi ruangan. Semua orang tahu ini misi yang sangat berbahaya. Kemungkinan besar banyak yang tidak akan kembali.


"Aku tidak akan bohong pada kalian," kata Bima dengan suara rendah tapi jelas. "Ini misi yang sangat berbahaya. Kemungkinan kita berhasil dan semua pulang dengan selamat sangat kecil. Kalau ada yang ingin mundur sekarang, aku tidak akan menyalahkan. Tidak ada yang akan menganggap kalian pengecut. Ini murni sukarela."


Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang mengangkat tangan untuk mundur.


Lihat selengkapnya