Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #38

SERANGAN FAJAR

Pukul empat pagi, 17 Agustus. Pelabuhan kecil di Ancol yang sudah disewa secara rahasia dipenuhi aktivitas. Tiga kapal cepat sudah siap dengan mesin dinyalakan pelan. Dua puluh lima orang berpakaian gelap memeriksa perlengkapan mereka untuk terakhir kali.


Bima berdiri di dermaga, menatap laut yang masih gelap. Di ufuk timur, langit mulai memerah samar - fajar akan segera tiba. Tapi mereka tidak akan menunggu terang. Mereka akan bergerak dalam kegelapan.


"Semua tim sudah siap," lapor Adi sambil memeriksa perangkat komunikasi. "Radio tersandi sudah diuji. Pelacak lokasi aktif. Kamera mini untuk dokumentasi terpasang."


"Bagaimana dengan peralatan selam?" tanya Bima.


"Sudah diperiksa tiga kali. Tabung oksigen penuh, regulator berfungsi sempurna, lampu bawah air sudah diisi daya. Kita siap untuk terowongan."


Sari mendekat dengan membawa tas besar berisi jimat-jimat pelindung. "Ini untuk semua orang. Pakai di leher, jangan lepas apapun yang terjadi."


Dia membagikan jimat ke setiap anggota tim. Jimat dari berbagai tradisi - ada yang berbentuk liontin dengan ayat suci, ada yang berupa batu akik dengan ukiran mantra, ada yang hanya kain kuning bertuliskan simbol kuno.


"Jimat ini tidak akan membuat kalian kebal," kata Sari dengan serius. "Tapi akan memberi perlindungan dari serangan spiritual langsung. Dan yang paling penting, akan membantu kami menemukan kalian kalau terpisah."


Eyang Suryo berkumpul dengan semua anggota untuk doa terakhir. Mereka berdiri dalam lingkaran, tangan saling berpegangan.


"Ya Tuhan Yang Maha Esa, dalam nama apapun Engkau dipanggil, kami mohon perlindungan dan kekuatan. Kami tidak berjuang untuk kemuliaan pribadi, tapi untuk melindungi yang tidak bisa melindungi diri. Untuk menghentikan kejahatan yang akan menghancurkan banyak nyawa. Berikan kami keberanian menghadapi bahaya. Berikan kami kebijaksanaan membuat keputusan sulit. Dan kalau ada di antara kami yang tidak kembali, terima mereka dengan kasih."


"Amin," kata semua orang bersama.


Mereka naik ke kapal masing-masing. Tim Penyelamatan dengan Ratih di kapal pertama. Tim Gangguan dengan Mbah Kyai di kapal kedua. Tim Inti dengan Bima di kapal ketiga.


Pukul empat tiga puluh tepat, ketiga kapal melaju meninggalkan pelabuhan. Tidak ada lampu yang menyala - mereka bergerak dalam kegelapan total, hanya mengandalkan GPS dan penglihatan malam.


Perjalanan ke kepulauan Seribu memakan waktu empat puluh lima menit dengan kecepatan penuh. Angin laut menampar wajah mereka, air asin memercik ke dek kapal. Tidak ada yang bicara. Semua tenggelam dalam pikiran dan doa masing-masing.


Bima menatap Sari yang duduk di sebelahnya. Istrinya terlihat tenang, mata tertutup dalam meditasi. Tapi dia bisa melihat tangannya yang sedikit gemetar - tanda dia juga takut meski tidak menunjukkannya.


Dia menggenggam tangan Sari. Sari membuka mata dan tersenyum - senyum yang mencoba meyakinkan tapi tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan kekhawatiran.


"Apapun yang terjadi hari ini," bisik Bima, "aku ingin kau tahu bahwa hidupku menjadi bermakna karena kau. Terima kasih sudah selalu di sampingku."


"Jangan bicara seolah ini perpisahan," bisik Sari balik. "Kita akan pulang bersama. Kita akan tua bersama. Kita akan ceritakan kisah ini pada cucu kita suatu hari nanti."


"Aku berharap begitu."


"Jangan berharap. Yakini."


Mereka saling menatap dalam kegelapan yang mulai mencair oleh cahaya fajar. Dan dalam tatapan itu ada janji - janji untuk berjuang sekuat tenaga untuk kembali satu sama lain.


Pukul lima lima belas pagi, mereka tiba di perairan dekat Pulau Mutiara dan Pulau Sembunyi. Kapal-kapal melambat, mesin dikecilkan agar tidak terlalu berisik.


"Tim Penyelamatan, siap?" tanya Bima melalui radio.


"Siap," jawab Ratih. "Kami bisa lihat Pulau Mutiara dari sini. Sepertinya belum ada aktivitas. Semua masih tenang."


"Tim Gangguan?"


"Siap untuk membuat keributan," jawab Mbah Kyai dengan nada yang terdengar hampir gembira. "Kami tidak sabar untuk mulai."


"Baiklah. Kita sinkronisasikan jam. Sekarang pukul lima tujuh belas. Serangan dimulai tepat pukul lima tiga puluh. Tim Penyelamatan menyerang Pulau Mutiara. Lima menit kemudian, pukul lima tiga puluh lima, Tim Gangguan menyerang pintu depan Pulau Sembunyi. Dan saat semua perhatian teralihkan, Tim Inti masuk lewat terowongan."


"Mengerti."


"Semua, periksa perlengkapan terakhir kali. Pastikan radio, senjata, jimat, semua berfungsi. Ini tidak akan ada kesempatan kedua."


Tiga belas menit berikutnya terasa seperti tiga belas tahun. Semua orang memeriksa dan memeriksa ulang perlengkapan mereka. Beberapa berdoa dalam diam. Beberapa bermeditasi. Beberapa hanya menatap pulau-pulau di kejauhan dengan wajah tegang.


Bima memeriksa jimat dari Pak Bambang yang seharusnya menyembunyikan mereka dari pengawal spiritual. Benda kecil yang terlihat tidak istimewa - hanya batu hitam dengan ukiran aneh. Tapi kalau Pak Bambang benar, ini akan membuat perbedaan antara tertangkap atau berhasil masuk.


"Satu menit," kata Adi sambil menatap jam digitalnya.


Semua orang mengambil posisi. Tim Penyelamatan sudah ada di perahu karet kecil yang akan mereka dayung ke pantai Pulau Mutiara. Tim Gangguan bersiap di kapal mereka dengan berbagai perlengkapan ritual untuk serangan spiritual jarak jauh.


"Tiga puluh detik."


Bima merasakan jantungnya berdegup keras. Ini dia. Tidak ada jalan mundur setelah ini.

Lihat selengkapnya