Koridor kompleks bawah tanah Pulau Sembunyi sangat berbeda dari apa yang dibayangkan Bima. Tidak gelap dan seram seperti ruang bawah tanah rumah Suryono dulu. Sebaliknya, koridor ini sangat modern - dinding beton putih bersih, lantai ubin mengkilap, lampu LED terang di langit-langit. Seperti fasilitas penelitian canggih, bukan sarang konspirasi gaib.
Tapi kesan steril itu justru membuat suasana lebih mencekam. Terlalu bersih. Terlalu sempurna. Dan sangat sepi.
"Aku tidak suka ini," bisik Sari sambil berjalan dengan sangat waspada. "Terlalu tenang. Di mana semua orang?"
"Mungkin semua sedang menghadapi Tim Gangguan di atas," jawab Adi. Tapi suaranya tidak yakin.
Mereka bergerak dalam formasi yang ketat. Eyang Suryo dan Bima di depan dengan jimat pelindung siap. Sari di tengah, mata setengah tertutup untuk merasakan energi spiritual di sekitar. Adi tepat di belakangnya dengan tablet yang menampilkan peta digital. Enam paranormal lain membentuk lingkaran pelindung di sekeliling mereka.
"Sari, ada yang kau rasakan?" tanya Bima tanpa menoleh, mata terus memindai koridor di depan.
"Ada... energi. Sangat banyak energi spiritual berkumpul di suatu tempat. Di bawah kita. Seperti kolam energi yang sangat dalam dan gelap."
"Ruang ritual," gumam Eyang Suryo. "Mereka sudah mulai mengumpulkan kekuatan untuk Penyatuan Agung."
"Berapa lama lagi sebelum ritual dimulai?" tanya salah satu paranormal.
Bima melihat jam tangannya. "Pukul enam pagi sekarang. Ritual dijadwalkan jam lima sore. Kita punya sebelas jam. Tapi tidak bisa santai - semakin lama kita di sini, semakin besar kemungkinan ketahuan."
Mereka menemukan tangga darurat sesuai peta. Pintu besi berat dengan tanda "AKSES TERBATAS - HANYA PERSONEL BERWENANG". Adi menempelkan kartu akses dari Pak Bambang.
Klik. Lampu berubah hijau. Pintu terbuka.
"Sejauh ini kartu masih berfungsi," kata Adi dengan lega. "Semoga terus begitu."
Mereka turun tangga dengan sangat hati-hati. Setiap langkah bisa berbunyi di ruang beton yang sempit ini. Satu tingkat. Dua tingkat.
Di tengah tangga antara tingkat kedua dan ketiga, Sari tiba-tiba berhenti dengan napas tersengal.
"Ada yang tidak beres," bisiknya dengan wajah pucat. "Ada sesuatu yang... menunggu kita."
"Apa maksudmu menunggu?"
"Seperti... jebakan. Perangkap spiritual. Aku merasakan energi yang sangat kuat di tingkat bawah. Tapi bukan energi dari ritual. Ini berbeda. Ini—"
DUAAAAR!
Pintu di tingkat paling bawah meledak terbuka. Asap hitam mengepul keluar dengan cepat, naik melalui tangga menuju mereka.
"MUNDUR! ITU TIDAK NORMAL!" teriak Eyang Suryo.
Tapi sudah terlambat. Asap bergerak dengan kecepatan tidak wajar - seperti makhluk hidup yang berburu. Dalam sekejap sudah sampai di tengah tangga, mengelilingi mereka.
Di dalam asap, sosok-sosok mulai terbentuk. Puluhan sosok. Wajah-wajah yang terdistorsi dengan mata menyala merah. Tangan-tangan pucat dengan kuku panjang mencakar-cakar udara.
"Pengawal Spiritual!" teriak Sari. "Banyak sekali! Mereka ditanam di sini sebagai perangkap!"
Para paranormal langsung membentuk lingkaran pelindung, masing-masing membaca mantra dari tradisi mereka. Cahaya mulai menyala - putih dari jimat Buddha, hijau dari jimat Islam, keemasan dari jimat Hindu, perak dari jimat Katolik.
Tapi sosok-sosok dalam asap tidak berhenti. Mereka menyerang dengan ganas. Cakar-cakar spiritual menembus lapisan pelindung, mencoba meraih jiwa mereka.
"INI TERLALU BANYAK!" teriak salah satu paranormal sambil berjuang mempertahankan mantranya. "KITA TIDAK BISA LAWAN SEMUANYA!"
Bima membuat keputusan cepat. "Adi! Ada jalur alternatif ke tingkat bawah?"
Adi memeriksa peta dengan tangan gemetar. "Ada! Melalui shaft ventilasi! Tapi sangat sempit!"
"TUNJUKKAN!"
"Kembali ke tingkat dua, koridor kanan, ruangan ketiga!"
"SEMUA MUNDUR! PERTAHANKAN FORMASI! BERGERAK CEPAT!"
Mereka mundur naik tangga sambil tetap menghadap ke asap yang mengejar. Para paranormal membaca mantra tanpa henti, menciptakan dinding cahaya yang rapuh untuk menahan serangan.
Keluar dari tangga. Berlari di koridor. Salah satu paranormal - Pak Darno dari Surabaya - tersandung dan jatuh. Asap langsung menerjangnya.
"DARNO!" Bima berbalik untuk membantu.
Tapi Eyang Suryo menahan lengannya. "Tidak! Kalau kau kembali, kita semua mati! Dia sudah—"
Teriakan Pak Darno bergema di koridor. Teriakan kesakitan yang sangat mengerikan. Tubuhnya bergetar hebat, mata memutih, mulut terbuka lebar dalam jeritan tanpa suara.
Lalu tubuhnya jatuh terkulai. Tidak bergerak lagi.
"LARI! SEKARANG!" teriak Eyang Suryo.
Mereka berlari dengan sekuat tenaga. Koridor kanan. Ruangan ketiga. Pintu dengan tanda "RUANG MESIN - AKSES TERBATAS".
Adi menyentuhkan kartu akses dengan tangan gemetar. Lampu berkedip merah. AKSES DITOLAK.
"TIDAK! TIDAK TIDAK TIDAK!" Adi mencoba lagi. Masih merah.
Asap sudah hampir mencapai mereka. Sosok-sosok di dalamnya semakin jelas - wajah-wajah menderita, tangan-tangan yang meraih-raih.
"GESER!" Bima mendorong Adi ke samping, mengambil jimat terkuat yang diberikan Pak Bambang, dan menempelkannya ke panel akses.
Jimat bersinar terang. Panel elektronik berkilat, asap keluar dari sirkuit yang terbakar. Tapi pintunya terbuka.