Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #40

PERTEMPURAN JIWA

Ruang ritual meledak dalam kekacauan.


Sembilan orang Tim Inti langsung membentuk lingkaran pelindung dengan Adi di tengah - satu-satunya yang tidak punya kemampuan spiritual dan paling rentan. Para paranormal membaca mantra dari berbagai tradisi secara bersamaan, menciptakan lapisan demi lapisan perlindungan.


Tapi serangan dari Dewan Tujuh Serangkai dan puluhan Pengawal Spiritual mereka sangat kuat. Gelombang energi gelap menabrak perlindungan mereka seperti tsunami menabrak tembok pasir.


"PERTAHANKAN FORMASI!" teriak Eyang Suryo sambil menuangkan seluruh kekuatannya ke mantra pelindung. Keringat membasahi wajahnya yang sudah pucat.


Sari berdiri dengan mata tertutup, berkonsentrasi penuh. Dia tidak membuat perlindungan - dia melakukan sesuatu yang berbeda. Dia mencoba merasakan pola serangan, mencari kelemahan dalam koordinasi musuh.


"Ada tiga yang lebih lemah dari yang lain!" teriaknya sambil menunjuk tiga sosok berjubah. "Di sana, sana, dan sana! Mereka baru direkrut, belum sepenuhnya terikat dengan Dewan!"


"FOKUSKAN SERANGAN KE MEREKA!" perintah Bima.


Tiga paranormal terkuat - termasuk Eyang Suryo - mengarahkan energi mereka ke tiga jubah hitam yang ditunjuk Sari. Cahaya putih bersih melesat dari tangan mereka, menembus pertahanan gelap.


Salah satu jubah hitam menjerit - jeritan yang terdengar seperti banyak suara berteriak bersamaan. Tubuhnya bergetar hebat, lalu tiba-tiba runtuh. Jubahnya jatuh kosong - tidak ada tubuh di dalamnya, hanya asap hitam yang menguap.


"SATU TURUN!" teriak Bima. "TERUS!"


Tapi kemenangan kecil itu datang dengan harga. Saat mereka fokus menyerang, pertahanan melemah. Pengawal Spiritual berhasil menembus celah. Tiga sosok hantu melayang dengan cepat menuju Ibu Ratna.


"RATNA! DI BELAKANGMU!"


Ibu Ratna berbalik, mencoba membuat pelindung dadakan. Tapi terlambat. Salah satu hantu mencakar dengan tangan spiritual yang menembus tubuh fisiknya, langsung mencengkeram jiwanya.


Dia berteriak kesakitan yang sangat mengerikan. Tubuhnya berubah pucat dalam sekejap, mata memutih, napas terengah-engah.


Sari langsung berlari, menarik Ibu Ratna ke belakang sambil membaca mantra pengusiran dengan suara sekeras mungkin. Hantu itu terlempar keluar dari tubuh Ibu Ratna, tapi kerusakan sudah terjadi.


Ibu Ratna terbatuk darah - meski tidak ada luka fisik. Darah spiritual. Jiwanya terluka parah.


"Aku... aku tidak bisa lanjut," batuknya dengan lemah. "Maaf... maaf..."


"Jangan bicara! Hemat tenagamu!" Sari meletakkan Ibu Ratna di tengah lingkaran, posisi paling aman yang mereka punya.


Tapi sekarang mereka tinggal delapan yang bisa bertarung. Melawan enam anggota Dewan yang tersisa plus puluhan Pengawal Spiritual.


Darius berdiri di dekat Jantung Ritual, menonton pertempuran dengan ekspresi terhibur. Seperti menonton pertunjukan yang menarik.


"Kalian bertarung dengan baik," katanya dengan nada seolah memuji anak kecil. "Lebih baik dari yang kubayangkan. Tapi ini sudah cukup. Waktunya mengakhiri permainan ini."


Dia mengangkat kedua tangannya. Jantung Ritual berdenyut sangat kencang, cahaya merahnya memenuhi seluruh ruangan. Dan dari Jantung Ritual, gelombang energi meledak keluar.


Gelombang itu sangat kuat hingga semua orang - bahkan anggota Dewan - tersungkur. Pelindung Tim Inti pecah berkeping-keping seperti kaca.


Bima bangkit dengan susah payah, telinga berdengung, penglihatan kabur. Dia melihat Sari terbaring beberapa meter darinya, tidak bergerak. Panik langsung menguasainya.


"SARI!"


Dia merangkak menuju istrinya, mengabaikan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Mengangkat kepala Sari dengan tangan gemetar.


"Sari... Sari, kumohon, bangun..."


Sari membuka mata perlahan. Darah mengalir dari hidungnya. "Aku... aku baik-baik saja. Itu tadi... apa itu?"


"Ledakan energi dari Jantung Ritual," jawab Eyang Suryo yang juga berjuang bangkit. "Dia melepaskan sebagian kecil kekuatan yang sudah dikumpulkan. Kalau ledakan penuh terjadi saat ritual nanti..."


Dia tidak perlu menyelesaikan kalimatnya. Semua paham implikasinya.


Darius tertawa. "Kalian mulai mengerti sekarang? Kekuatan yang kami kumpulkan ini jauh melampaui apapun yang pernah kalian hadapi. Dan itu baru sepuluh persen dari kapasitas penuh."


"Saat ritual dimulai nanti sore, seratus lokasi akan mengalirkan energi secara bersamaan. Jantung Ritual akan menyala dengan kekuatan yang bisa merobek dimensi. Dan gerbang akan terbuka."


"KAU TIDAK AKAN SAMPAI KE SANA!" Bima bangkit, mengambil jimat terkuat yang dimilikinya - jimat terakhir dari Pak Bambang yang dijanjikan punya kekuatan sangat besar tapi hanya bisa dipakai sekali.


Jimat itu berbentuk batu obsidian hitam dengan ukiran yang sangat rumit. Begitu Bima menggenggamnya dengan kedua tangan dan berkonsentrasi, jimat mulai bersinar.


Tidak merah seperti energi Darius. Tidak putih seperti energi perlindungan. Tapi biru - biru sangat gelap seperti langit tengah malam, dengan bintang-bintang kecil berkelap-kelip di dalamnya.


"Itu..." Darius untuk pertama kalinya terlihat kaget. "Itu Jimat Bintang Utara. Di mana kau mendapatkannya?"


Lihat selengkapnya