Bima melayang di antara dua dunia - tidak sepenuhnya hidup, tidak sepenuhnya mati. Di sekelilingnya, sosok-sosok cahaya menunggu keputusannya dengan sabar. Tidak ada tekanan, tidak ada desakan. Hanya ketenangan yang sangat dalam.
"Aku memilih..." ulangnya dengan suara yang terdengar seperti gema, "...untuk kembali."
Kartika tersenyum sedih. "Kau yakin? Hidup tanpa kekuatan spiritual akan sangat berbeda. Kau tidak akan lagi bisa merasakan kehadiran kami. Tidak bisa lagi berkomunikasi dengan arwah. Tidak bisa lagi melakukan pembersihan spiritual. Kau akan jadi orang biasa sepenuhnya."
"Aku tahu," jawab Bima dengan mantap. "Tapi Sari masih di sana. Orang-orang yang kukasihi masih di sana. Dan mungkin... mungkin sudah waktunya bagi orang lain untuk melanjutkan perjuangan ini. Aku sudah melakukan bagianku. Sekarang aku ingin hidup sebagai manusia biasa bersama istriku."
Eyang Suryo mengangguk dengan bangga. "Pilihan yang bijaksana. Kau sudah belajar bahwa kekuatan sejati bukan dari kemampuan gaib, tapi dari keberanian untuk melakukan yang benar."
Pak Bambang maju. "Aku punya pesan terakhir untukmu, Bima. Putri ku, Anindya. Jaga dia. Dia sudah kehilangan segalanya karena aku menyeret keluarga kami ke dalam kekacauan ini. Pastikan dia punya kesempatan untuk hidup dengan baik."
"Aku berjanji, Pak."
Pak Darno, paranormal yang mati di tangga, juga berbicara. "Sampaikan pada keluargaku bahwa aku mati dengan terhormat. Bahwa aku tidak menyesal. Bahwa aku akan selalu mengawasi mereka dari sini."
"Aku akan sampaikan."
Satu per satu arwah-arwah itu memberikan pesan, berkat, dan perpisahan terakhir. Lalu perlahan mereka mulai memudar, cahayanya melebur dengan cahaya yang lebih besar di kejauhan.
"Saatnya kau kembali," kata Kartika sambil menyentuh dahi Bima dengan lembut. "Hiduplah dengan baik, Bima Suryono. Dan ingat - meski kau tidak lagi bisa melihat kami, kami selalu ada. Mengawasi. Melindungi dari alam sini."
Cahaya menyilaukan.
Lalu kegelapan.
Lalu...
"BIMA! BIMA, KUMOHON BANGUN! JANGAN TINGGALKAN AKU!"
Suara Sari. Penuh dengan kesedihan dan putus asa.
Bima membuka mata dengan sangat berat. Penglihatannya kabur. Seluruh tubuhnya terasa seperti dihancurkan lalu disatukan kembali dengan cara yang salah.
Tapi dia hidup.
Wajah Sari muncul di atas wajahnya. Penuh air mata. Rambut berantakan. Darah di pipinya - entah darahnya sendiri atau orang lain.
"Bima..." bisiknya dengan tidak percaya. "Kau... kau kembali... aku pikir kau sudah..."
"Aku... disuruh pulang..." suara Bima sangat lemah. "Mereka... bilang belum waktunya..."
Sari memeluknya erat, menangis di bahunya. "Jangan pernah lakukan itu lagi. Jangan pernah. Aku hampir kehilangan kau..."
Bima mengangkat tangan gemetar, mengusap punggung Sari. Dia merasakan sesuatu yang aneh - atau lebih tepatnya, tidak merasakan sesuatu. Dunia terasa... datar. Tidak ada lagi lapisan spiritual yang biasanya dia rasakan. Tidak ada aura, tidak ada energi, tidak ada bisikan dari dimensi lain.
Hanya dunia fisik yang nyata dan normal.
Dia benar-benar sudah menjadi manusia biasa.
Tapi anehnya, dia tidak merasa kehilangan. Dia merasa... bebas. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, dia tidak punya beban untuk membersihkan tempat kelam atau membebaskan arwah. Dia bisa hanya... hidup.
"Jantung Ritual..." tanyanya sambil mencoba duduk.
"Hancur," jawab Adi yang tiba-tiba muncul di sampingnya, wajah penuh luka dan darah tapi tersenyum lebar. "Kau benar-benar melakukannya. Kristal intinya hancur berkeping-keping. Seluruh struktur runtuh."
Bima melihat sekeliling. Ruang ritual dalam keadaan kacau total. Jantung Ritual yang tadinya berdiri megah kini hanya reruntuhan. Anggota Dewan Tujuh Serangkai tergeletak di berbagai sudut ruangan - beberapa tidak sadarkan diri, beberapa terluka parah.
Dan di tengah reruntuhan, berlutut dengan kepala tertunduk, adalah Darius Hartanto.
Dia masih hidup. Tapi terlihat sangat berbeda. Aura megah yang tadinya mengelilinginya sudah lenyap. Dia terlihat seperti manusia biasa yang tua dan kelelahan.
Para paranormal yang tersisa - tinggal lima orang yang masih bisa berdiri - mengelilingi Darius dengan waspada, jimat siap di tangan.