Warisan Gelap Penebusan Darah

Achmad Wahyudi
Chapter #42

KEHIDUPAN BARU

Tiga hari setelah pertempuran di Pulau Sembunyi, Bima masih dirawat di rumah sakit Jakarta. Luka-luka fisiknya tidak terlalu parah - beberapa patah tulang rusuk, memar di sekujur tubuh, gegar otak ringan. Tapi dokter tetap memaksanya istirahat total minimal seminggu.

Yang lebih sulit adalah penyesuaian mental. Bangun setiap pagi tanpa bisa merasakan energi spiritual di sekitarnya terasa sangat aneh. Seperti kehilangan salah satu indra. Dunia terasa lebih... datar. Lebih sepi.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sari yang duduk di kursi samping tempat tidur. Dia hampir tidak pernah meninggalkan Bima sejak mereka tiba di rumah sakit.

"Aku tidak tahu," jawab Bima jujur sambil menatap tangannya. "Rasanya aneh. Tiga tahun terakhir aku bisa merasakan hantu, energi, aura. Sekarang... tidak ada apa-apa. Hanya kekosongan."

"Kau menyesal?"

Bima terdiam lama, benar-benar memikirkan pertanyaan itu. "Tidak. Aku tidak menyesal. Pilihan itu perlu dilakukan. Aku hanya... perlu waktu untuk terbiasa."

Sari menggenggam tangannya. "Kau tidak sendirian dalam penyesuaian ini. Aku di sini. Selalu."

Pintu kamar terbuka. Adi masuk dengan laptop dan tablet, diikuti Ratih dengan setumpuk koran dan dokumen.

"Bos masih istirahat atau sudah siap lihat kehebohan di luar?" tanya Adi sambil tersenyum.

"Kehebohan apa?"

Ratih meletakkan koran-koran di meja. Semua halaman depan. Semua dengan headline besar tentang kasus Darius Hartanto.

"PENGUSAHA KAYA DITANGKAP ATAS TUDUHAN KONSPIRASI KEJAHATAN MASSAL"

"PENCULIKAN 97 ANAK: RITUAL MENGERIKAN YANG HAMPIR TERJADI"

"SAKSI KUNCI BONGKAR ORGANISASI RAHASIA YANG RENCANAKAN 'PENYATUAN AGUNG'"

"PAHLAWAN TERSEMBUNYI: KISAH PEMUDA YANG SELAMATKAN INDONESIA DARI BENCANA SUPERNATURAL"

"Cerita ini meledak di media," kata Ratih sambil membuka tabletnya menampilkan berbagai artikel online. "Dalam tiga hari, ini jadi berita terbesar tahun ini. Bahkan internasional mulai liput."

"Tapi kami jaga identitasmu," tambah Adi cepat melihat wajah Bima yang khawatir. "Media hanya tahu ada 'tim penyelamat' yang terdiri dari praktisi spiritual dan relawan. Tidak ada nama, tidak ada foto. Kau aman dari sorotan."

"Bagaimana dengan Darius dan anggota Dewan lainnya?"

"Darius menepati janjinya," jawab Ratih. "Dia mengaku semuanya dan memberikan nama, lokasi, dokumen - semuanya. Dia bahkan kasih akses ke server rahasia organisasinya. Polisi sudah tangkap lebih dari lima puluh orang dalam tiga hari. Termasuk beberapa pejabat tinggi."

"Dan anak-anak yang diselamatkan?"

"Sembilan puluh tujuh anak semua selamat. Mereka sedang menjalani pemeriksaan kesehatan dan konseling psikologis. Keluarga mereka sangat bersyukur. Beberapa keluarga ingin bertemu dan berterima kasih padamu, tapi kami bilang kau masih dalam pemulihan."

Bima merasakan kehangatan di dadanya. Sembilan puluh tujuh nyawa diselamatkan. Itu nyata. Itu bermakna.

"Ada yang lain," kata Adi sambil membuka laptopnya. "Aku menemukan sesuatu saat menggali lebih dalam server Darius. Seperti yang dia bilang saat kalian bicara empat mata, organisasinya punya cabang internasional."

Dia menampilkan peta dunia dengan titik-titik merah di berbagai negara. "Ada sel aktif di Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, bahkan sampai Australia dan Jepang. Mereka belum tahu bahwa pusat komando di Indonesia sudah hancur."

"Apa artinya mereka akan mencoba melanjutkan rencana?" tanya Sari dengan wajah khawatir.

"Mungkin. Atau mungkin mereka akan bubar setelah tahu pemimpin mereka ditangkap. Aku sudah kasih semua data ini ke Interpol. Mereka akan koordinasikan dengan polisi setempat di setiap negara."

"Tapi," lanjut Adi dengan hati-hati, "ada kemungkinan beberapa cabang akan mencoba balas dendam. Mereka mungkin lihat kalian - terutama kau, Bima - sebagai musuh yang harus dihancurkan."

"Hebat," gumam Bima dengan sarkasme. "Jadi sekarang aku punya musuh internasional. Dan aku bahkan tidak lagi punya kekuatan untuk melindungi diri."

Lihat selengkapnya