Sepuluh hari setelah pertempuran di Pulau Sembunyi, Bima akhirnya diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Pagi itu dia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap pantulan dirinya sendiri.
Ada perubahan yang kentara. Tidak hanya luka-luka yang masih sembuh di wajah dan tubuhnya. Ada sesuatu di matanya - kelelahan yang dalam, tapi juga kedamaian yang tidak pernah ada sebelumnya. Seperti orang yang baru saja melepaskan beban sangat berat yang dibawanya bertahun-tahun.
"Siap untuk pulang?" tanya Sari sambil membantu Bima memakai kemeja. Tangannya masih sedikit kaku karena patah tulang rusuk yang belum sembuh sempurna.
"Lebih dari siap. Aku rindu Desa Merah Delima. Rindu Rumah Harapan. Rindu tempat tidur kita sendiri."
Mereka mengemas barang-barang sedikit yang ada - kebanyakan pakaian ganti yang dibawa Sari dan beberapa obat dari dokter. Saat akan keluar kamar, seorang perawat menghampiri dengan buket bunga besar.
"Untuk Bapak Bima Suryono," katanya sambil menyerahkan buket.
Bima menerima dengan bingung. Tidak ada kartu nama. Tapi ada catatan kecil terselip di antara bunga.
"Terima kasih telah menyelamatkan putriku. Dia adalah segalanya bagi kami. Kami berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan Anda selamanya. - Keluarga Prasetyo"
"Salah satu keluarga dari anak yang diselamatkan," bisik Sari sambil membaca di atas bahu Bima.
Mereka turun ke lobi rumah sakit. Dan pemandangan yang menyambut mereka membuat Bima berhenti melangkah.
Lobi penuh dengan orang. Puluhan orang - pria, wanita, anak-anak, lansia. Mereka semua berdiri dengan membawa bunga, kartu ucapan, bahkan ada yang membawa bingkisan makanan.
"Mereka keluarga dari anak-anak yang diselamatkan," bisik salah satu perawat. "Mereka datang sejak pagi untuk berterima kasih."
Bima berdiri di sana, tidak tahu harus berbuat apa. Lalu seorang wanita paruh baya maju dengan mata berkaca-kaca. Di sampingnya seorang gadis remaja berusia sekitar tujuh belas tahun.
"Ini putri saya, Dinda," kata wanita itu dengan suara bergetar. "Dia diculik dua minggu lalu. Kami sudah kehilangan harapan. Tapi Anda... Anda menyelamatkannya. Anda membawa dia kembali pada kami."
Gadis bernama Dinda memeluk Bima tiba-tiba. "Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah menyelamatkan saya dan teman-teman saya. Kami sangat ketakutan di sana. Kami pikir kami akan mati. Tapi Anda datang..."
Dia menangis di bahu Bima. Dan Bima - yang selama ini berusaha kuat - akhirnya juga menangis. Semua tekanan, semua ketakutan, semua pengorbanan selama ini terasa sepadan di momen ini.
Satu per satu keluarga lain maju. Semuanya ingin mengucapkan terima kasih, ingin bersalaman, ingin memastikan Bima tahu betapa berartinya tindakannya bagi mereka.
Seorang ayah tua dengan tangan gemetar menyalami Bima. "Cucu saya... dia satu-satunya keluarga yang saya punya setelah istri dan anak saya meninggal. Kalau dia hilang, saya tidak tahu bagaimana saya bisa melanjutkan hidup. Terima kasih. Terima kasih telah memberikan saya alasan untuk terus hidup."
Seorang ibu muda dengan bayi di gendongannya. "Kakak bayi ini yang diculik. Dia baru sepuluh tahun. Sekarang dia sudah kembali dan bisa memeluk adiknya lagi. Terima kasih telah mempertahankan keluarga kami tetap utuh."
Remaja yang selamat sendiri juga datang - sembilan puluh tujuh anak yang sudah menjalani terapi dan pemulihan. Mereka berdiri di satu sisi lobi, dan saat Bima melewati mereka, mereka semua membungkuk hormat secara bersamaan.
"Terima kasih, Pak Bima," kata mereka serentak.
Bima hampir tidak bisa menahan tangisnya. Ini dia. Ini alasan dia melakukan semua ini. Bukan untuk ketenaran, bukan untuk penghargaan, tapi untuk melihat anak-anak ini selamat dan bisa kembali pada keluarga mereka.
Butuh hampir satu jam untuk Bima dan Sari melewati semua orang, mengucapkan terima kasih balik, dan akhirnya sampai ke mobil yang sudah menunggu.
Adi yang menyetir. "Maaf baru kasih tahu. Aku coba bilang mereka untuk tidak datang ramai-ramai karena kau masih pulih. Tapi mereka bersikeras. Mereka bilang harus bertemu langsung untuk mengucapkan terima kasih."
"Tidak apa-apa," kata Bima sambil mengelap air mata. "Aku senang mereka datang. Aku perlu... aku perlu diingatkan kenapa kita melakukan semua ini."
Perjalanan dari Jakarta ke Desa Merah Delima memakan waktu lima jam dengan beberapa kali berhenti untuk istirahat. Bima masih tidak boleh terlalu lama duduk karena tulang rusuknya.
Sepanjang perjalanan, Adi memberikan update tentang perkembangan kasus.