Naren Kama Brotoseno terkejut saat menerima telepon dari Raden Brotoseno kakeknya. Kabar kematian Riko secara mendadak sampai ke telinganya, tetapi ia memutuskan tidak datang karena tak ingin kedatangannya menganggu keluarga Brotoseno yang sedang berduka. Maka dari itu panggilan dari kakeknya di hari kedua sejak kematian Riko mengundang rasa penasaran mengingat bagaimana sikap mereka kepadanya selama ini.
Langkah kakinya terasa berat pada saat memasuki rumah besar tempatnya menghabiskan masa kecil hingga remajanya. Ia berhenti tepat di depan foto keluarga. Duduk di kursi kebesarannya Raden Brotoseno mengenakan pakaian resmi menatap kamera dengan wajah datar dan dingin. Sisi kanan Riko berdiri dengan jas hitam rapi, lalu depannya Prisha dengan gaun putih gading sangat cantik sedangkan sebelah kirinya Bayu dan Pramudita.
Ia melihat semua orang ada di sana, kecuali dirinya.
“Tiga puluh tiga tahun berlalu… bahkan bingkai saya pun tak pernah dipasang.”
Tatapan Naren menyapu rumah, lalu langkahnya lanjut masuk ke dalam rumah kemudian berhenti. Di sini masih membuatnya trauma karena di rumah ini ia tidak memiliki kenangan indah.
Langkah Naren berhenti di depan tangga. Matanya tertuju pada pintu kecil di bawah tangga. Dulu, pintu itu adalah tempatnya ia dikurung ketika rumah dipenuhi tamu.
Kelahiran Naren bukan dari pernikahan sah. Keberadaannya disembunyikan, dihilangkan, bahkan tidak diakui. Ia adalah hasil pernikahan siri Bayu Brotoseno dengan Chandani Sadira.
Sejak pertama kali menginjak rumah ini, hidup Naren berubah. Ia hidup tanpa kasih sayang orang tua. Keberadaan Naren disembunyikan dari dunia. Dan kelahiran Riko membuat keberadaannya seolah tidak pernah ada.
Begitu bisa keluar dari rumah ini Naren tidak pernah datang kecuali mendapat panggilan seperti sekarang. Pertama keluar dari rumah utama Brotoseno pada saat Naren menginjak bangku universitas sampai sekarang ia memilih jalan hidup sendiri.
Memasuki rumah sambutan yang ia terima adalah suara pertengkaran Bayu dan kakeknya terdengar dari ruang kerja.
“Menarik,” gumamnya lirih menatap ruang kerja dengan sinis.
Pramudita tidak terlihat keberadaannya, tetapi suara tangis dari lantai dua menjelaskan jika ibu Riko itu masih bersedih atas kepergian anaknya. Naren duduk di ruang tamu sambil memeriksa pesan dari asistennya Dimas membiarkan ayah dan kakeknya menyelesaikan masalah mereka. Beberapa kali namanya ikut disebut membuatnya penasaran.
Mungkin keberadaannya di rumah ini ada hubungannya dengan pertengakaran mereka.
Brak.
Suara keras seperti lemparan dari ruang kerja Kakek kembali terdengar dengan suara saling bersahutan. Perdebatan mereka baru selesai hampir tiga puluh menit setelah Naren sampai kemudian Bayu keluar. Melihat keberadaan Naren Bayu hanya mendengus sinis melanjutkan langkahnya naik ke lantai dua.
Naren tidak menanggapi. Bukan hal baru mendapatkan perlakuan seperti itu. Tiga puluh tiga tahun hidupnya ia tidak mengingat ayahnya pernah menganggap Naren sebagai anaknya. Sangat berbeda sikapnya dengan Riko dan Prisha yang selalu menjadi anak kesayangannya.
“Sudah datang kamu?” tanya Kakek.
Kakek menatap Naren sambil melangkah menuju salah satu kursi tidak jauh darinya.
“Ada apa Kakek memanggil saya?” tanya Naren datar.
“Nanti, menunggu semua berkumpul.”
Kakek memanggil ART.
“Ya, Pak,” ucap ART yang telah lama bekerja dengan di rumah ini.