Warisan Luka

Uttera
Chapter #3

Chapter 3

Wajah Vanya masih sembab dan pucat. Matanya bengkak karena masih terus menangisi kepergian Riko. Pemberitaan masih beredar di televisi maupun media sosial karena rencana pernikahannya dengan Riko Brotoseno memang tidak pernah menjadi rahasia. Hubungan mereka selalu terbuka ke media. Bahkan foto preweding mereka telah banyak beredar di berbagai media.

Di kamar ia hanya diam tidak tahu harus melakukan apa. Menjual kesedihan keluar tidak ada gunanya karena hatinya memang hancur dan Vanya tidak ingin terlihat begitu menyedihkan.

Sejak menjalin kasih dengan Riko, tujuan akhir Vanya sampai ke jenjang pernikahan. Maka dari itu pada saat ayah Riko berencana maju sebagai calon Gubernur DKI meminta dukungan penuh dari partai Eyangnya lalu dibuat lah kerjasama dua keluarga melalui pernikahan antara Riko dan Vanya.

Namun, kematian Riko mengubah segalanya. Semua rencana yang telah tersusun rapi hancur berantakan.

Pintu terbuka Bondan dan Sari kedua orang tua Vanya masuk mendekati putrinya. Sari duduk di tempat tidur tangannya mengusap lembut surai rambut putrinya, sedangkan Bondan berdiri tidak jauh dari ranjang ikut merasakan kesedihan putrinya.

“Vanya, bagaimana kondisimu, Nak?”

Vanya mendongak lalu bangun dari tidurnya. Matanya merah bengkak membuat Bondan dan Sari menatap sedih putrinya. Mereka memiliki berita penting yang harus mereka sampaikan kepada sang putri dari keluarga Brotoseno, tetapi melihat kondisi putrinya saat ini membuat mereka ragu.

“Hancur, Ma. Janji Riko bohong semua. Padahal kami sudah merencanakan masa depan indah bersama. Sekarang rencana kami gagal semua.”

Bondan ikut duduk di tempat tidur mengusap bahu putrinya untuk memberikan dukungan dan simpati. Sebenarnya dia tidak tega, tetapi berita yang baru dia dapat harus segera dikabarkan kepada Vanya.

“Semua masih bisa kamu wujudkan.”

“Maksud Papa apa?” tanya Vanya sambil duduk.

Bondan menghela napas menatap istrinya yang memberikan senyum menyemangati dengan anggukan kepala.

“Pak Raden sudah memutuskan rencana pernikahan antara keluarga kita tetap dilakukan.”

Vanya diam mendengarkan.

“Bagaimana bisa, Riko saja tidak ada. Bagaimana mungkin rencana tetap berjalan?” tanya Vanya bingung.

Suasana kamar langsung sunyi kedua orang tua Vanya diam. Putrinya tampak berantakan masih mengenakan pakaian tidur, rambut berantakan, wajahnya sembab dan pucat. Biasanya Vanya akan selalu tampil sempurna, tidak pernah lepas dari makeup. Namun, bencana kehilangan calon suami membuat Vanya seperti ini. Bondan kembali menghela napas panjang.

“Kamu akan menikah dengan cucu tertuanya keluarga Brotoseno yaitu Naren Brotoseno.”

Vanya mematung.

Air mata berhenti mengalir.

Vanya menatap orang tuanya dengan tatapan tak percaya. Naren Brotoseno. Orang yang wajahnya tidak pernah Vanya kenal, tetapi namanya pernah Riko sebutkan sebagai aib bagi keluarga Brotoseno.

“Papa tidak salah, Naren?”

Bondan mengangguk.

Vanya tertawa miris.

“Dari calon istri pewaris sah sekarang aku harus menikah dengan anak yang bahkan tidak pernah mereka sebut. Papa, yang benar saja.”

“Tapi, Nak… “

Vanya memotong perkataan ayahnya.

“Papa, Mama tahu siapa Naren?”

Bondan dan Sari diam.

“Pernah kenal dia, tidak kan?” tanya Vanya lagi. 

Kedua orang tuanya menggeleng.

“Aku tidak bisa kalau harus menikah dengan, Naren,” putus Vanya tegas.

“Nak, coba kamu pikirkan lagi,” bujuk Sari disetujui suaminya.

Vanya menutup wajahnya.

Bahunya bergetar.

“Aku… diganti begitu saja?”

Hancur sudah, Vanya tidak hanya kehilangan calon suami, harga dirinya ikut terinjak-injak oleh mereka. Lebih baik pernikahan ini gagal dan menjadi pemberitaan menyedihkan daripada harus menikah dengan Naren.

Dulu, Riko pernah cerita ayahnya pernah memiliki anak sebelum menikah dengan ibunya, tetapi ibunya Naren siapa, bagaimana kelahirannya, tidak Riko jelaskan. Namun, Vanya menyadari foto-foto Naren tidak ada di rumah keluarga Brotoseno. Hubungan Naren dengan keluarga Brotoseno seolah tidak pernah ada.

“Aku tidak mau, Pa.”

“Nak, sebaiknya kamu pikirkan dulu jangan langsung menolak,” bujuk Sari sambil mengusap bahu putrinya.

Vanya menggeleng. Air mata mengalir dengan perasaan hancur.

“Tidak,” tolak Vanya bulat.

Bondan dan Sari hanya bisa membuang napas. Mereka bingung bagaimana mengatakan kepada keluarga besarnya, jika sekarang anak mereka menolak melanjutkan perjodohan ini.

“Papa kasih kamu waktu berpikir, jangan sampai kamu membuat keputusaan saat sedang emosi.”

Lihat selengkapnya