Warisan Renggodelogo

Suwito Sarjono
Chapter #1

Sisa Napas di Ruang Tengah

Bau apak, debu tebal, dan anyir darah mengikat Adison seperti kain kafan di bawah meja jati ukiran naga yang bobrok. Lengannya memeluk erat Serli, yang meringkuk gemetar, napasnya tersengal di bahu Adison. Setiap detik adalah neraka, setiap gesekan di lantai papan di atas mereka adalah panggilan maut. Suara langkah kaki yang berat itu berulang-ulang, menyeret sesuatu yang tajam di lantai, mencakar-cakar keheningan pekat rumah ini.

 

"Serli, tenang," bisik Adison, suaranya parau, tenggorokannya kering kerontang. Ia merasakan panas dan kelembaban keringat adiknya di pipinya. Serli hanya bisa mengangguk kecil, tubuhnya masih berguncang, luka di kakinya mungkin belum berhenti berdenyut.

 

"Aku... aku takut, Mas..." Lirih Serli, nyaris tak terdengar.

 

"Sst, dia akan mendengar," Adison menekan telunjuk ke bibirnya, matanya menyapu kegelapan di bawah meja, mencari celah, jalan keluar yang tak ada. Di luar, suara langkah itu berhenti. Jantung Adison berdegup kencang, menggema di telinganya.

 

Hening. Hening yang lebih menakutkan daripada raungan apa pun.

 

Lalu, sebuah suara menggelegar dari atas, membuat meja bergetar hebat. "Adison! Serli! Keluar kalian, pengecut!" Suara itu. Berat, serak, tapi begitu familier, menusuk hingga ke tulang. Suara yang seharusnya menghibur, bukan menakuti. Adison merasakan gejolak jijik dan sedih yang berbaur menjadi satu. Ayah.

 

Sebuah pukulan telak menghantam permukaan meja, membuat patung naga di sudut berjatuhan dan pecah. Debu-debu tua berhamburan, memenuhi udara dan masuk ke paru-paru Adison, menyebabkan ia terbatuk pelan. Serli tersentak.

 

"Jangan batuk, Sayang," Adison berbisik, mengusap punggung adiknya. Ia menekan wajah Serli ke dadanya, berharap bisa menyembunyikan suara itu. "Dia tidak boleh tahu kita di sini."

 

"Ayah... dia... gila, Mas," Serli terisak pelan. "Dia membunuh Tante Ragina, dia mencekik Om Lasman... dia akan membunuh kita juga."

 

"Aku tidak akan membiarkannya," janji Adison, walau ia tahu betapa kosongnya janji itu di tengah kekacauan ini. Tangannya meremas palang meja jati yang keras, kuku-kukunya memutih. Dulu, ia adalah pelindung kami. Sekarang, ia adalah predator kami.

 

Di atas mereka, Tram menggeram. "Kau pikir bisa bersembunyi? Rumah ini bicara padaku, Adison! Ia memberitahuku semua rahasia kalian! Ia ingin yang terkuat! Ia ingin... aku! Dan kalian hanyalah sampah yang menghalangi!"

 

Suara Tram yang distorted, dipenuhi dengungan aneh seolah ada makhluk lain yang berbagi rongga suaranya, membuat bulu kuduk Adison meremang. Ayahnya, Tram, kini tak lebih dari wadah amarah dan keserakahan yang tak berbatas. Matanya yang dulu penuh perhitungan bisnis, kini berkilat kosong, penuh kegilaan.

 

Lihat selengkapnya