Warisan Renggodelogo

Suwito Sarjono
Chapter #2

Surat dari Tanah Hitam

Bibi Ragina, adik kandung Tram, tampak sibuk dengan ponselnya di sudut, sesekali melirik sinis ke arah keluarga Lasman, kakaknya yang juga adik Eyang. Om Lasman, dengan perut membuncit dan sorot mata licik, membalas tatapan itu, tak kalah tajam. Di antara mereka, keponakannya, Yudi, tampak pucat, tubuhnya bergetar ringan seperti daun kering.

 

"Pak Candolo ingin bertemu kita setelah ini," bisik Sarinten, ibu Adison, suaranya serak. Matanya merah dan bengkak, tapi ia terlihat berusaha menjaga ketenangannya.

 

Adison mengangguk, hatinya sudah menduga. Pak Candolo adalah pengacara Eyang, pria tua yang selalu mengenakan jas rapi dan kacamata berbingkai emas, ekspresinya nyaris tanpa emosi. Pertemuan semacam ini tak terhindarkan.

 

Beberapa jam kemudian, aroma kopi pekat dan kertas tua menyambut mereka di kantor hukum Renggodelogo. Suasana di dalam ruangan itu terasa lebih pengap daripada di pemakaman tadi, dipenuhi ketegangan yang menggantung di udara. Adison, Serli, Tram, Sarinten, Lasman, Ragina, dan Yudi duduk berhadapan dengan Pak Candolo yang menatap mereka satu per satu, wajahnya datar.

 

"Baiklah, hadirin sekalian," Pak Candolo memulai, suaranya tenang dan jelas, menyingkirkan selembar kertas yang tebal. "Sesuai amanat mendiang Bapak Renggodelogo, wasiat ini harus dibacakan di hadapan seluruh ahli waris dan keluarga inti."

 

Tram menggeser duduknya, ketidaksabarannya kentara. "Langsung saja, Pak Candolo. Kita semua tahu Eyang punya banyak harta. Berapa jumlahnya? Dan bagaimana pembagiannya?"

 

Pak Candolo tersenyum tipis, senyum yang tak pernah mencapai matanya. "Tentu, Bapak Tram. Harap bersabar." Ia menghela napas, lalu melanjutkan, "Mendiang Bapak Renggodelogo meninggalkan total harta warisan sejumlah... tujuh triliun rupiah."

 

Ruangan itu hening sesaat, sebelum ledakan napas tertahan dan bisikan berdesir. Mata Tram membelalak, mulutnya sedikit terbuka. Ragina terbatuk keras, sementara Lasman menggebrak meja kecil di sampingnya. Hanya Adison dan Serli yang tetap diam, saling berpegangan tangan. Angka itu terlalu besar, terlalu mencengangkan.

 

"Tujuh triliun?" ulang Lasman, suaranya terdengar serak karena terkejut. "Eyang... dia benar-benar gila!"

 

"Ssst!" Tram mendesis pada Lasman, matanya tajam. Ia menoleh kembali ke Pak Candolo, senyumnya mengembang, meski masih ada keraguan di sana. "Lalu, apa syaratnya? Pasti ada syaratnya, kan, Pak Candolo? Eyang bukan orang yang memberi tanpa..."

 

"Tepat sekali, Bapak Tram," potong Pak Candolo, meletakkan kacamata di ujung hidungnya. "Sesuai dengan kehendak almarhum, warisan ini tidak akan dibagikan begitu saja." Ia terdiam sebentar, menatap satu per satu wajah yang kini penuh harap dan nafsu. "Syaratnya sederhana. Seluruh keluarga inti, termasuk anak dan cucu, harus tinggal selama tujuh hari penuh di Graha Renggodelogo."

 

Adison merasakan tengkuknya merinding. Graha Renggodelogo. Rumah tua itu. Ia mengingat arsitekturnya yang kelam, jendelanya yang bagai mata cekung, dan cerita-cerita seram yang beredar tentang rumah tersebut.

 

"Graha Renggodelogo?" ucap Sarinten, suaranya sedikit cemas. "Rumah di desa itu? Bukankah itu... terlantar sudah puluhan tahun?"

 

Lihat selengkapnya