Rombongan mobil mewah itu merayap di atas jalan tanah berbatu, diapit oleh barisan pohon jati tua yang menjulang tinggi. Ranting-ranting keringnya saling berjalin di atas kepala, membentuk kanopi gelap yang menelan sisa cahaya senja. Sinyal ponsel di tangan Adison sudah lama menghilang, meninggalkan kotak kosong di sudut layar. Di dalam mobil, hening menyelimuti, hanya terdengar suara ban yang berderak menumbuk kerikil dan napas Serli yang terlalu cepat di sampingnya.
Graha Renggodelogo tampak semakin dekat. Bayangannya yang hitam pekat, dengan atap limas curam dan jendela-jendela kosong seperti mata buta, mencuat dari balik rimbunnya dedaunan. Bukan sekadar rumah tua, tapi sebuah entitas yang menunggu. Adison mengamati arsitekturnya. Simetris, kokoh, tapi terasa dingin, seolah dibangun bukan untuk dihuni, melainkan untuk menjaga rahasia.
Mobil berhenti di depan gerbang besi tinggi yang berkarat, diselimuti lumut hijau dan tumbuhan rambat yang mencengkeram. Gerbang itu terbuka perlahan, engselnya melengking memilukan seperti rintihan. Di balik gerbang, sebuah halaman luas yang ditumbuhi rumput liar membentang, diakhiri oleh Graha Renggodelogo yang kini berdiri megah namun menakutkan di hadapan mereka.
"Wah, megah juga ya rumah Eyang ini," kata Tram, matanya berbinar penuh nafsu saat ia turun dari mobil. Ia seolah melupakan aura menyeramkan yang terpancar dari bangunan itu.
Lasman ikut turun, menatap sinis. "Megah apanya? Lihat saja, kotor, berdebu, dan bau apek. Aku tidak yakin kita bisa tidur nyenyak di sini."
"Jangan mengeluh terus, Lasman," sahut Ragina, menyugar rambutnya. "Yang penting uangnya, bukan tempat tidurnya."
Saat semua turun, seorang wanita tua kurus dengan rambut putih disanggul rapi dan kain kebaya usang muncul dari balik pilar teras. Wajahnya dipenuhi kerutan, matanya cekung, namun tatapannya tajam menembus satu per satu wajah mereka. Ia membawa lentera minyak, cahayanya berkedip, memantulkan bayangan aneh di wajahnya.
"Selamat datang, Den, Nok," suara wanita itu parau, seolah jarang digunakan. "Saya Mbok Yem. Penjaga rumah ini."
"Mbok Yem?" Sarinten melangkah maju, sedikit ragu. "Bukankah Eyang bilang tidak ada pelayan?"
"Saya bukan pelayan, Bu," Mbok Yem menjawab datar, nyaris tanpa ekspresi. "Saya hanya... penunggu."
Kata 'penunggu' itu menggantung di udara, menciptakan gelombang ketegangan yang nyata. Serli meremas tangan Adison, tubuhnya bergetar. Adison bisa merasakan hawa dingin yang tiba-tiba merayapi kulitnya, meskipun sore masih menyisakan sedikit kehangatan.
"Baiklah, Mbok Yem," Tram mencoba mengambil alih. "Kami di sini sesuai wasiat Eyang. Berapa kamar yang tersedia? Kami ingin segera beristirahat."
"Kamar banyak, Den," sahut Mbok Yem. "Tapi hanya ada satu aturan utama." Ia menatap mereka satu per satu, pandangannya berhenti cukup lama pada Adison. "Setelah tengah malam, tidak ada yang boleh keluar kamar. Pintu akan terkunci otomatis. Siapa pun yang melanggar, risikonya tanggung sendiri."
"Apa maksudnya risikonya tanggung sendiri?" Adison bertanya, nada suaranya tajam. Ini bukan sekadar aturan, ini peringatan.