Suara gerbang besi yang terkunci otomatis masih terngiang di telinga Adison. Keras, final, bagai palu godam yang memaku mereka ke dalam kuburan tua ini. Ia masih berdiri di depan jendela, tangannya menempel di kaca dingin, menatap gerbang yang kini sepenuhnya tertutup dan terkunci. Sebuah klik mekanis tadi terdengar begitu jelas, sebuah peringatan tegas bahwa mereka tak bisa pergi. Serli di sampingnya terisak pelan, bahunya bergetar.
"Mas... kita benar-benar terjebak," bisiknya, suaranya gemetar.
Adison menghela napas, mencoba menenangkan adiknya, dan dirinya sendiri. "Ini baru hari pertama, Serli. Kita akan baik-baik saja." Semoga saja. Ia membalikkan badan, mencoba tersenyum, tetapi senyum itu terasa pahit. "Ayo, kita bereskan barang-barang. Setidaknya kita punya kamar yang lumayan luas."
Mereka menghabiskan waktu singkat merapikan barang bawaan yang terlempar di lantai. Adison memeriksa jendela kamar lagi, memastikan terkunci rapat. Angin malam mulai berembus, membuat dedaunan di luar bergesekan, terdengar seperti bisikan-bisikan jahat.
Tak lama kemudian, sebuah suara lantang memecah keheningan di lantai bawah. "Semua! Turun! Kita akan makan malam!"
Itu suara Tram. Adison melirik Serli, yang menatapnya dengan raut khawatir.
"Makan malam? Setelah semua ini?" Serli mengerutkan kening.
"Ayahmu pasti ingin membuat kesan. Angka tujuh triliun itu masih terlalu manis baginya untuk diabaikan," jawab Adison. Ia tahu Tram adalah tipe orang yang akan berpura-pura semuanya baik-baik saja, bahkan di tengah kekacauan, jika ada uang di ujungnya. "Ayo. Jangan membuat Ayah curiga."
Mereka berdua menuruni tangga utama yang berliku, langkah kaki mereka bergema di lantai marmer yang dingin. Di ruang makan besar, Tram sudah menunggu, berdiri di ujung meja panjang dari kayu jati mahoni yang gelap, dihiasi ukiran naga rumit. Lilin-lilin tinggi yang anehnya sudah menyala, memancarkan cahaya kekuningan yang goyah, membuat bayangan di dinding menari-nari. Sebuah hidangan mewah tersaji di atas meja: kalkun panggang, sayuran rebus, sup kental, dan wine dalam jumlah tak masuk akal untuk tujuh orang.
"Nah, ini baru namanya makan malam!" Tram berseru, tersenyum lebar. Senyumnya terasa dipaksakan, namun matanya berkilat gembira. Ia mengenakan setelan jas terbaiknya, seolah sedang menjamu tamu penting. "Duduk, duduk semuanya!"
Lasman dan Ragina sudah duduk berhadapan, raut wajah mereka menunjukkan ketidaknyamanan, namun aroma makanan seolah memikat mereka. Yudi, anak Lasman, duduk di sebelah ayahnya, sesekali melirik pintu dapur dengan tatapan gelisah. Sarinten duduk di sebelah Tram, memegang garpu perak dengan canggung.
Adison menarik kursi untuk Serli, lalu duduk di sebelahnya. Mewah tapi pengap. Kakek pasti sudah bertahun-tahun tidak menggunakan ruang makan ini. Udara di ruangan itu terasa berat, campur aduk antara aroma masakan dan bau apek yang khas. Jendela-jendela di ruangan itu tertutup rapat, gorden beludru tebal menutup pandangan ke luar.
"Kenapa harus makan malam mewah seperti ini, Tram?" Lasman bertanya, mencoba terdengar santai, tapi Adison bisa merasakan nada mencemooh di sana. "Seperti mau pesta saja. Padahal kita sedang terkurung."
"Kita merayakan potensi kekayaan, Lasman!" Tram membentak, tawanya terdengar hambar. "Tujuh triliun, ingat? Ini hanya permulaan. Sebentar lagi kita akan kembali ke masa kejayaan Renggodelogo!"
Sarinten melirik Adison, seolah meminta dukungan. "Tapi, Yah, bukankah Eyang melarang kita menyentuh terlalu banyak barang di sini?"
"Omong kosong! Eyang sudah mati! Dan ini rumahnya, tentu saja kita bisa memakainya!" Tram mengibaskan tangannya, mengabaikan kekhawatiran istrinya. "Ayo, makan! Ini semua disiapkan khusus oleh Eyang, pasti yang terbaik!"
Adison meraih sendok sup, tapi ia merasa mual. Ia tidak lapar. Tenggorokannya terasa tercekat oleh rasa khawatir yang tidak kunjung hilang. Ia melirik Yudi. Keponakannya itu hanya memainkan makanannya, matanya terus-menerus menyapu sudut ruangan yang gelap, seolah mencari sesuatu. Wajahnya sangat pucat, dan tangannya sedikit gemetar.
"Yudi, kenapa tidak makan?" Ragina bertanya, suaranya sedikit jengkel. "Kau ini sudah besar, jangan seperti anak kecil terus."
Yudi tersentak, lalu mendongak. "Aku... aku tidak lapar, Ma. Aku hanya merasa... aneh di sini."