Warisan Renggodelogo

Suwito Sarjono
Chapter #5

Aturan yang Berdarah

Jeritan panjang, memilukan, membelah keheningan rumah. Jeritan itu datang dari arah dapur.

 

Detak jantung Adison terasa bagai drum yang ditabuh kencang. Ia terkesiap, Serli di sampingnya mencengkeram lengannya erat, koin emas yang tadinya dipegang Lasman dan Ragina terjatuh ke lantai marmer dengan bunyi ting yang nyaris tak terdengar di antara kegaduhan. Tram, yang tadi masih berseteru dengan Lasman, kini membeku, matanya membelalak ketakutan.

 

"Apa itu?" Sarinten berbisik, wajahnya pucat pasi.

 

"Dari dapur!" teriak Ragina, menunjuk ke arah lorong gelap yang menuju ke belakang rumah.

 

Tanpa pikir panjang, Tram berlari lebih dulu, disusul oleh Lasman. Mereka adalah orang-orang yang terlalu terobsesi pada harta untuk membiarkan apapun menghalangi mereka, bahkan jeritan mengerikan sekalipun. Ragina dan Sarinten terhuyung-huyung mengikuti, sementara Yudi, yang sudah gemetar hebat, ditarik paksa oleh ayahnya, Lasman.

 

"Mas, jangan ke sana!" Serli memohon, menarik lengan Adison. "Aku takut!"

 

"Kita harus lihat, Serli," kata Adison, suaranya berusaha tegas meski hatinya berdebar. Ini bukan lagi tentang koin emas, ini tentang nyawa. Ia menarik Serli bersamanya, melangkah cepat menyusuri lorong yang tiba-tiba terasa begitu panjang dan dingin.

 

Aroma masakan yang tadi mengisi ruang makan kini bercampur dengan bau anyir yang tajam, menusuk hidung. Mereka tiba di ambang pintu dapur. Pemandangan di dalam membuat Adison nyaris muntah.

 

Di lantai, tergeletak tubuh Mbok Yem. Wanita tua itu. Lehernya terpilin dalam sudut yang mustahil, matanya terbelalak kosong menatap langit-langit, dan lidahnya menjulur keluar. Di sekeliling tubuhnya, genangan darah kental mengilat di bawah cahaya redup lilin yang mereka bawa, merembes ke celah-celah lantai. Paru-paru Adison terasa sesak. Ia mencengkeram Serli yang sudah mulai terisak dan membenamkan wajahnya di bahu Adison.

 

"Astaga!" Ragina menjerit, menutupi mulutnya dengan kedua tangan.

 

Sarinten terhuyung mundur, hampir pingsan. Tram, yang tadinya maju paling depan, kini mematung di tempat. Wajahnya, yang semula diliputi nafsu serakah, kini digantikan oleh horor murni.

 

"M-Mbok Yem?" Lasman tergagap, suaranya parau. "Siapa yang... siapa yang melakukan ini?"

 

"Ini perbuatan setan!" teriak Yudi, tubuhnya ambruk ke lantai, gemetar tak terkendali. "Rumah ini... rumah ini ingin kita mati!"

 

"Jangan bicara omong kosong!" Tram membentak, berusaha menguasai diri. "Ini pasti ulah... penyusup! Ya, penyusup! Rumah ini tidak terkunci dengan benar!"

 

Adison menatap Tram. Penyusup? Di rumah yang terkunci otomatis ini? Omong kosong. Ia tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa penjelasan Tram itu tidak masuk akal. Ini lebih dari sekadar pembunuhan biasa.

Lihat selengkapnya