Warisan Renggodelogo

Suwito Sarjono
Chapter #6

Insting Bertahan


Tatapan Tram adalah api, membakar Lasman hidup-hidup. Bukan lagi horor yang memenuhi mata ayah Adison, melainkan perhitungan dingin, sebuah keputusan yang baru saja dibuat. Hanya satu. Kalimat Pak Candolo terngiang, bergema memuakkan. Jika hanya satu yang keluar, maka enam lainnya adalah mangsa. Dan Tram baru saja memilih yang pertama.

 

"Kita tidak akan mati di sini!" Adison berteriak, suaranya mencoba memecah mantra ketakutan. Ia meraih tangan Serli yang dingin, lalu melepaskannya. Ia harus bertindak. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Adison berbalik, berlari menuju jendela ruang makan, mengabaikan Pak Candolo yang masih berdiri tenang di samping mayat Mbok Yem.

 

"Adison, mau ke mana?" Sarinten berseru, terisak.

 

"Mencari jalan keluar!" sahut Adison, nafasnya memburu. Sebagai seorang arsitek, ia tahu betul betapa kokohnya terali besi itu. Baja hitam tebal, bergerak dari fondasi rumah, menancap kuat di kusen batu. Ini bukan sembarang terali. Ia menendang salah satu palang, memukulnya dengan tinju, namun yang ia dapat hanyalah rasa sakit dan goresan di buku jarinya. Dingin, tak tergoyahkan.

 

Ragina, di sampingnya, sudah lebih dulu melakukan hal yang sama. Ia mencakar-cakar terali, menjerit frustrasi. "Sialan! Terkunci rapat! Tidak bisa! Kita benar-benar terkunci!"

 

"Ayah, apa yang harus kita lakukan?" Yudi memohon, suaranya kecil dan penuh keputusasaan, memeluk kaki Lasman.

 

Lasman mendorongnya menjauh. "Diam kau! Jangan cengeng!" Ia menatap terali besi itu, matanya liar. "Pasti ada cara! Tidak mungkin Eyang sekejam ini!"

 

Pak Candolo terkekeh pelan. Tawa yang kering, seperti daun jatuh. "Mendiang Bapak Renggodelogo selalu tahu apa yang diinginkannya, Bapak Lasman. Dan beliau mendapatkannya."

 

Tram melangkah maju, melewati Pak Candolo dan mayat Mbok Yem tanpa sedikit pun bergeming. Matanya menyapu ruangan, bukan mencari jalan keluar, tapi justru menilai. Adison melihatnya. Ia melihat kami semua sebagai angka. Sebagai rintangan.

 

"Lalu, bagaimana dengan makanan?" Sarinten bertanya, suaranya parau. "Kita tidak punya apa-apa untuk dimakan."

 

Adison tersentak. Benar. Mereka bahkan belum memikirkan kebutuhan dasar. Ia menyadari sesuatu. Rumah ini bukan hanya menjebak, tapi juga melucuti.

 

"Makanan sudah disiapkan," kata Pak Candolo, "di brankas penyimpanan. Namun, brankas itu akan terbuka sesuai waktu yang ditentukan. Koin-koin itu... adalah petunjuk menuju waktu pembukaan yang tak terduga."

 

Tram menggebrak meja. "Sialan! Kenapa harus bertele-tele?! Aku ingin makanan sekarang juga! Aku lapar!"

 

"Kita semua lapar, Tram," Lasman menyahut, tatapannya menantang. "Tapi kau tidak bisa seenaknya! Aku butuh makanan untuk Yudi. Kalau tidak, kita tidak akan bertahan."

 

"Aku yang berhak mengatur di sini!" Tram membalas, menunjuk dirinya sendiri. "Aku anak pertama Eyang! Aku yang akan mewarisi semua ini!"

 

Lihat selengkapnya