Warisan Renggodelogo

Suwito Sarjono
Chapter #7

Bayangan di Koridor

 

Suara cakaran itu terus berlanjut. Sreett... sreett... Perlahan, ritmis, seolah sebuah kuku panjang mengikis kayu lapuk tepat di belakang kepala Adison. Jantungnya berdebar, mengalahkan rasa lapar yang menggerogoti perutnya. Ia meremas tangan Serli, yang kini napasnya tertahan.

 

"Mas... apa itu?" bisik Serli, suaranya nyaris tak terdengar.

 

Adison menggeleng, matanya menyapu kegelapan kamar. Ia tahu persis di mana suara itu berasal: dari dinding kokoh di belakang ranjang. Dinding itu adalah batas antara kamar mereka dan... apa pun yang ada di balik sana. Bukan tikus. Terlalu besar. Terlalu disengaja.

 

Sreett... sreett...

 

Suara itu berhenti. Hening kembali merayapi kamar, kali ini lebih berat, lebih mencekam. Adison menahan napas, menajamkan pendengarannya. Ia menunggu, otot-ototnya tegang.

 

Beberapa detik terasa seperti keabadian. Lalu, suara itu bergeser. Bukan lagi cakaran, melainkan seperti sesuatu yang merangkak naik, perlahan, di balik dinding. Suara gesekan kain, atau kulit, yang menempel pada permukaan kasar.

 

Jantungku... berdegup tak karuan. Ini bukan cuma rumah tua. Ini... sesuatu yang hidup.

 

Adison hanya bisa memeluk Serli lebih erat, melindungi adiknya dari ketakutan yang tak terlihat ini. Mereka berdua terdiam dalam kegelapan, menunggu datangnya pagi yang entah akan membawa apa.

 

 

 

Fajar menyingsing, mewarnai terali besi di jendela dengan semburat jingga pucat. Suara cakaran itu menghilang seiring datangnya terang, seolah bayangan dan kengerian malam ditarik kembali ke sarangnya. Adison tidak tidur barang semenit pun. Wajahnya letih, matanya merah. Serli tertidur pulas di pelukannya, tubuhnya masih berguncang sesekali, mungkin dihantui mimpi buruk.

 

Keduanya akhirnya bangkit, rasa lapar kembali mendominasi. Setelah semalaman tanpa makanan, kepala Adison terasa pusing, dan Serli tampak sangat lesu. Mereka berdua keluar dari kamar, menyusuri koridor yang terasa lebih pengap dari sebelumnya.

 

Di ruang tengah, mereka menemukan Tram, Lasman, Ragina, dan Sarinten. Semuanya tampak kelelahan, mata mereka cekung, wajah mereka pucat pasi. Tidak ada yang berbicara, hanya saling memandang dengan curiga, seolah setiap orang adalah ancaman. Mayat Mbok Yem masih tergeletak di dapur, pengingat brutal akan aturan rumah ini.

 

"Kita harus mendapatkan makanan," kata Lasman, suaranya parau. Ia mencoba membuka brankas penyimpanan di dapur, menekan-nekan panel yang gelap, namun tidak ada yang terjadi. "Sialan! Tidak ada gunanya!"

 

"Pak Candolo bilang koin itu petunjuknya," Ragina menyahut, mencengkeram koin emas di tangannya. "Tapi aku tidak tahu apa artinya 'jiwa' dan 'pengorbanan'."

 

"Mungkin kita harus... memberikan sesuatu?" Sarinten berbisik, matanya menerawang. Raut wajahnya tegang, seperti menahan beban berat.

 

Di tengah percakapan itu, Adison melihat Yudi. Keponakannya itu duduk di sudut ruangan, di bawah tangga spiral, memeluk lututnya. Wajahnya sangat pucat, dan matanya memandang kosong ke depan. Ia tidak bergerak, tidak bicara.

 

"Yudi?" Adison memanggil, merasa khawatir. "Kau baik-baik saja?"

 

Yudi tidak menjawab. Ia hanya terus menatap ke dinding di depannya, seolah melihat sesuatu yang tak kasat mata.

 

"Dia memang begitu sejak tadi malam," kata Lasman, dengan nada frustrasi. "Mungkin dia kelaparan. Atau cuma pura-pura lagi."

 

"Jangan bilang dia pura-pura, Om," Serli menyahut, suaranya lemah. "Dia terlihat sangat ketakutan."

 

Adison mendekati Yudi, berlutut di depannya. "Yudi, hei. Bicaralah padaku. Apa yang kau lihat?"

Lihat selengkapnya