“Woooo!”
“Yeaaay!”
Teriakan riuh memenuhi lantai tiga kantorku. Rekan-rekan kerja kami merayakan kabar itu seolah baru saja memenangkan medali Olimpiade.
“Selamat, ya, buat kalian berdua! Galang dan Sarah!”
Aku tersenyum dan ikut tertawa melihat tingkah mereka. Sementara itu, Sarah yang berdiri di sampingku hanya bisa tersenyum malu karena terus mendapat ucapan selamat.
“Sedih juga saya. Bulan depan kalian sudah tidak ada lagi di kantor regional Papua,” kata Pak Bertus, atasan yang selalu memperlakukan kami dengan baik selama dua tahun terakhir.
“Woooo!”
“Cie, cie... yang mau balik ke Jakarta!”
Rekan-rekan kami tidak berhenti menggoda. Setelah dua tahun bekerja di Papua, bulan depan aku dan Sarah akan dipindahkan ke kantor pusat di Jakarta.
Aku dan Sarah memang berasal dari Jakarta. Tentu saja, kabar kepindahan ini menggembirakan bagi kami.
Namun, meski tidak dipindahkan, aku tetap berencana pulang ke Jakarta.
Sepekan lalu, Ibu menelepon dan mengabarkan bahwa kakak tertuaku, Kak Dino, akan melamar pacarnya, Kak Warna, beberapa bulan lagi. Pernikahan mereka rencananya digelar menjelang akhir tahun.
Awalnya, aku mengira tidak akan bisa hadir di acara lamaran. Mungkin aku hanya bisa datang saat pernikahan nanti. Karena itu, aku sudah berencana mengambil cuti panjang pada akhir tahun.
Namun, sepertinya semesta sedang memihak kepadaku.
Aku akan dipindahkan ke Jakarta pada bulan Mei. Artinya, mulai bulan depan aku sudah kembali tinggal di sana.
Aku belum memberitahukan kabar ini kepada keluargaku. Biarlah kepulanganku menjadi kejutan untuk Ibu, Bapak, Kak Yuki, Kak Dino, dan tentu saja....
Kak Warna.
Perayaan kecil itu akhirnya selesai saat langit sudah gelap. Aku berjalan pulang bersama Frans, teman yang tinggal satu kos denganku.
Dia sudah sedikit mabuk. Sejak keluar dari kantor, lengannya terus merangkul bahuku agar langkahnya tetap seimbang.
“Aduh, Lang. Berarti bulan depan sa sendiri di kos, kah?”
Aku hanya tersenyum, membiarkannya terus berbicara.
“Kalau nanti ko menikah, jangan lupa undang sa.”
“Aah, masih lama itu,” jawabku sambil menirukan cara bicaranya.
“Masih lama bagaimana? Ko sudah dua puluh lima tahun. Dua tahun tinggal di sini, tapi tidak pernah cari pacar. Sa pikir ko sudah punya pacar di Jakarta. Ternyata tidak ada juga.”
Aku hanya tertawa kecil.
Frans memang suka mengeluarkan semua isi kepalanya setelah minum. Padahal, saat sadar, dia tidak pernah membicarakan hal pribadi seperti itu. Dia sangat menghargai privasi orang lain.
Namun, kalau sudah begini, semua hal yang selama ini dipendamnya akan keluar begitu saja.
Malam itu, sambil berbaring di kasur, aku membayangkan ekspresi keluargaku saat melihatku pulang nanti.
Ibu pasti langsung memelukku. Bapak mungkin akan mengelus kepalaku seperti saat aku masih kecil. Kak Yuki akan menoyor kepalaku sambil mengomel karena aku pulang tanpa memberi kabar. Kak Dino mungkin akan menepuk-nepuk punggungku dengan bangga.
Lalu, Kak Warna....
Entahlah. Aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan saat kami bertemu lagi setelah dua tahun.
Sebenarnya, setiap libur Lebaran aku selalu pulang ke Jakarta. Namun, Kak Warna juga selalu pulang ke rumah keluarganya di Bandung. Karena itulah, selama dua tahun terakhir kami tidak pernah bertemu.
Pada tahun pertamaku di Papua, Kak Warna cukup sering menelepon. Namun, kami sama-sama semakin sibuk. Lama-kelamaan, kebiasaan itu berhenti begitu saja. Setelahnya, kami hanya sesekali bertukar kabar melalui chat.
Aku membuka percakapan terakhir kami. Isinya hanya ucapan selamat Idulfitri dan beberapa candaan ringan.
Kak Warna:
Sudah berapa kali ganti pacar selama di Papua?
Aku tertawa kecil saat membacanya kembali.
Aku:
Waduh, sudah tidak bisa dihitung pakai jari.
Dia membalas dengan stiker anak kecil yang sedang cemberut sambil menggembungkan kedua pipinya. Aku lalu mengirim stiker tertawa terbahak-bahak.
Andai saja dia tahu yang sebenarnya.
Namun, mungkin lebih baik jika dia tidak pernah tahu.
Untuk selamanya.
Ya, aku dan Kak Warna memang sangat dekat.
Hubungannya dengan Kak Dino dimulai saat mereka kuliah di kampus yang sama. Aku pertama kali bertemu Kak Warna ketika Kak Dino membawanya ke rumah.
Waktu itu aku masih SMP dan baru mulai mengerti mengapa anak-anak lelaki di kelasku suka membicarakan perempuan.
Gila juga kalau dipikir-pikir. Kak Dino dan Kak Warna sudah bersama selama belasan tahun, tetapi belum juga menikah.
Menurut Ibu—sumber A1 untuk urusan keluarga—hubungan mereka beberapa kali putus-nyambung. Salah satu penyebabnya adalah Kak Dino merasa belum memiliki pekerjaan yang cukup mapan untuk membangun rumah tangga.
Padahal, sejauh yang aku tahu, Kak Warna tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
Ya, Kak Warna memang orang yang baik.
Dia adalah salah satu orang yang berjasa membantuku masuk ke kampus ternama dan lulus dengan hasil yang baik. Dulu, dia sering datang ke rumah untuk membantu aku dan Kak Yuki belajar. Berkat dirinya, Ibu dan Bapak juga bisa menghemat biaya bimbingan belajar kami.
Kak Warna juga sering mentraktirku, padahal saat itu aku lebih sering menjadi pengganggu dalam kencannya bersama Kak Dino.
Kalau dipikir-pikir, sudah banyak sekali ulang tahun Kak Warna yang kuhadiri. Namun, ada juga beberapa yang terpaksa kulewatkan karena sekolah, kuliah, kemudian pekerjaan.
Tidak heran jika selama ini dia sudah terasa seperti bagian dari keluarga kami.
Mungkin karena Kak Warna adalah anak tunggal, dia menganggap aku dan Kak Yuki seperti adik kandungnya sendiri.
Aku selalu berdoa agar hubungannya dengan Kak Dino berjalan lancar. Semoga suatu hari nanti, Kak Warna benar-benar menjadi bagian dari keluarga kami.
Sementara sesuatu yang selama ini tumbuh diam-diam di dalam diriku, biarlah tetap tinggal di sana—terkubur di tempat yang tidak akan pernah ditemukan siapa pun.